Dande dan Durian (edisi : Inyiak)
Di Kampuang Bukaladi, dua sahabat Dande dan Adi dikenal sebagai “hantu durian”. Setiap musim durian tiba, nama mereka selalu disebut-sebut orang. Bukan karena mereka seram, tetapi karena keahlian mereka mencari durian di malam hari hampir tak tertandingi. Saat orang lain terlelap, mereka justru mulai menyiapkan senter, sarung, dan langkah sunyi menuju kebun. Malam bagi Dande dan Adi bukanlah waktu untuk beristirahat, melainkan waktu berburu rezeki. Dengan senter baterai di tangan, mereka menyusuri jalan setapak yang licin dan gelap.
Cahaya kecil dari senter menjadi satu-satunya penuntun di antara bayang-bayang
pohon durian yang menjulang.
Di
kepala mereka, sarung sudah dikaitkan kuat. Ujungnya menjuntai ke punggung, siap
menampung buah durian yang ditemukan. Cara ini sudah mereka pelajari sejak
kecil, meniru orang-orang tua di kampung. Meski tampak sederhana, sarung itu
mampu membawa pulang hasil yang melimpah. Malam itu, gerimis turun perlahan.
Angin bertiup lembut, menggoyangkan ranting dan daun. Dande tersenyum kecil.
“Kalau
hujan begini, biasanya durian banyak jatuh,” bisiknya. Adi mengangguk, hatinya
ikut berdebar penuh harap.
Benar
saja, belum jauh melangkah, suara “duk!” terdengar dari kejauhan. Sebuah durian
jatuh menghantam tanah. Mereka saling pandang, lalu berlari kecil ke arah suara
itu. Senter diarahkan ke tanah, memperlihatkan durian besar yang masih segar. Dengan
hati-hati, Adi mengangkat durian itu dan
memasukkannya ke dalam sarung di punggungnya. Beratnya langsung terasa, tetapi
senyum di wajahnya semakin lebar. “Satu,” katanya pelan. Dande tertawa kecil,
lalu melanjutkan pencarian.
Semakin
jauh masuk ke hutan, suasana semakin sunyi. Hanya suara hujan, angin, dan
langkah kaki mereka yang terdengar. Tiba-tiba, Dande menghentikan langkah.
Sorot senternya menangkap dua mata yang berkilat di balik semak.
Jantung
mereka serasa berhenti. “Inyiak…” bisik Adi dengan suara gemetar. Seekor
harimau berdiri tak jauh dari rumpun durian. Tubuhnya besar, diam, seolah
sedang mengamati mereka.
Dengan
penuh hormat, Dande menunduk sedikit dan berucap lirih,
“Manjauhlah
yo niak, takuik kami…” Adi ikut
mengangguk, tak berani bergerak. Mereka percaya, kata-kata itu adalah bentuk
permohonan agar tidak diganggu.
Beberapa
detik terasa seperti berjam-jam. Lalu, perlahan, harimau itu berbalik arah dan
masuk ke dalam gelap hutan. Dande dan Adi menghela napas panjang. Keringat
dingin mengalir di punggung mereka, bercampur air hujan. Tak jauh dari tempat
itu, mereka menemukan durian yang sudah terbuka rapi. Kulitnya terbelah
sempurna, dan sisa isinya terletak tepat di atasnya. “Ini bekas inyiak makan,”
kata Adi. Mereka tak mengambilnya, hanya mengangguk hormat pada alam.
Menjelang
subuh, sarung di punggung mereka sudah penuh. Dengan langkah lelah namun
bahagia, Dande dan Adi pulang ke kampung. Hujan gerimis, senter kecil, sarung
di kepala, dan pertemuan dengan inyiak menjadi bagian dari kisah nan penuh kesan
dihidup dua sahabat ini.