Bagian 1 :
MUDIK
Karatau madang dihulu,
Babuah babungo balun,
Marantau bujang
dahulu,
Dirumah paguno balun.
Petitih adat Minangkabau itu telah menjadi pegangan hidup
keluarga Gudam selama beberapa generasi. Karena itulah mereka menetap jauh dari
kampung halaman mereka di Ranah Minangkabau.
Ayah Gudam merantau ke Jakarta sejak usia sebelas tahun
mengikuti pamannya yang lebih dahulu menetap di ibu kota. Begitu pula ibunya.
Meski berdarah Minang asli, ia dibesarkan di Jakarta karena ayahnya, yang akrab
dipanggil Inyiak oleh cucu-cucunya, merupakan seorang prajurit yang lama
bertugas di sana.
Gudam adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya,
Gadih Ranti, sedang menempuh kuliah semester empat di sebuah universitas
negeri. Gudam sendiri masih duduk di bangku SMA, sementara adiknya, Randi, masih
bersekolah di tingkat dasar.
Meski lahir dan besar di Jakarta, mereka tidak pernah jauh
dari cerita tentang kampung halaman. Inyiak sering berkisah tentang nagari tua
yang masih memegang teguh adat istiadat, tentang surau-surau yang tetap ramai
menjelang senja, tentang silek yang diwariskan turun-temurun, dan tentang masyarakat
yang memilih menjaga tradisi leluhur dibanding mengejar modernisasi.
Bagi Gudam, semua itu terdengar menarik sekaligus aneh.
Namun justru karena itulah rasa penasarannya semakin besar.
Tahun ini, kerinduannya akhirnya akan terobati.
Liburan akhir tahun menjadi momen yang ditunggu-tunggu.
Setelah sekian lama, ayahnya memutuskan pulang kampung.
“Mumpung libur, kita tinggal sementara di kampung dulu
sampai keadaan di Jakarta benar-benar membaik,” kata ayahnya.
Pandemi yang melanda beberapa waktu terakhir membuat rumah
makan milik ayahnya terpaksa tutup. Kesempatan itu akhirnya digunakan untuk
pulang menjenguk kampung halaman yang telah lama ditinggalkan.
Malam sebelum keberangkatan, ayah Gudam menghampirinya.
“Gudam.”
“Iya, Yah?”
“Nanti kalau sudah sampai di kampung, jangan banyak bikin
ulah.”
Gudam terkekeh.
“Siap, Komandan.”
Ayahnya tidak ikut tertawa.
“Dan satu lagi. Jangan mengotak-atik barang apa pun di Rumah
Gadang tanpa izin Ayah atau Inyiak.”
Gudam mengernyit.
“Kenapa?”
“Pokoknya ingat saja pesan Ayah.”
Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Gudam semakin
besar.
---
Perjalanan laut berlangsung panjang.
Saat kapal berlayar menuju Pelabuhan Teluk Bayur, Gudam
lebih banyak menghabiskan waktu di geladak sambil memandangi laut lepas.
Yang paling membuatnya bersemangat adalah kesempatan
mempelajari silek.
Sejak kecil ia sering mendengar cerita Inyiak tentang seni
bela diri warisan Minangkabau itu.
“Gerakannya lembut,” kata Inyiak suatu kali.
“Tapi sangat mematikan.”
Saat mengatakannya, lelaki tua itu sempat memperagakan
beberapa gerakan yang membuat Gudam berdecak kagum.
Di tengah lamunannya, Inyiak datang membawa dua gelas
minuman hangat.
Satu diberikan kepada Gudam.
“Sudah berapa umurmu sekarang?”
“Enam belas tahun.”
Inyiak mengangguk perlahan.
“Gudam, kau percaya dunia gaib?”
Pertanyaan itu membuat Gudam menoleh.
“Dunia gaib?”
“Inyo. Alam lain yang tidak kasat mata.”
Gudam langsung menyeringai.
“Oh, seperti dunia paralel di Dragon Ball?”
Inyiak mengerutkan dahi.
Gudam malah semakin bersemangat menjelaskan.
“Ada banyak alam semesta, petarung terkuat, turnamen antar
dunia, terus ada Tujuh Bola Naga yang bisa mengabulkan permintaan!”
Inyiak hanya menatapnya datar.
Gudam tertawa.
“Kalau yang Inyiak maksud hantu, jin, siluman, atau dedemit,
ya maaf saja. Aku belum percaya kalau belum ada bukti ilmiahnya.”
Inyiak menghela napas panjang.
Belum sempat menjawab, suara ibu mereka terdengar memanggil
untuk makan siang.
Percakapan itu pun terputus begitu saja.
---
Keesokan harinya kapal akhirnya merapat di Pelabuhan Teluk
Bayur.
Gudam terpana.
Hamparan bukit hijau menyambut pandangannya. Rumah-rumah
bergonjong berdiri megah di berbagai sudut. Udara terasa jauh lebih segar
dibanding Jakarta.
“Wooooow!”
Gadih Ranti merentangkan kedua tangannya.
“Indah banget!”
Setelah seluruh barang diturunkan, mereka melanjutkan
perjalanan darat menuju Nagari Taratak Bungo.
Perjalanan itu memakan waktu berjam-jam.
Mobil melewati lembah, sungai, persawahan, dan bukit-bukit
batu yang menjulang tinggi.
Menjelang sore, mereka akhirnya sampai.
Di sanalah Gudam pertama kali melihat Rumah Gadang Datuk
Panduko Alam.
Bangunan itu berdiri megah di tengah kampung.
Usianya mungkin sudah ratusan tahun.
Namun rumah itu masih tampak gagah dan berwibawa.
Ukiran-ukiran indah memenuhi dindingnya. Atap gonjong
menjulang seperti tanduk kerbau. Tiang-tiang kayu besar berdiri kokoh seolah
menantang zaman.
Entah kenapa, saat memandang rumah itu, jantung Gudam
berdetak sedikit lebih cepat.
Seolah-olah bangunan tua tersebut sedang memperhatikannya
balik.
“Gudam!”
Suara Inyiak membuyarkan lamunannya.
Ternyata seluruh keluarga sudah berada di rumah tua milik
nenek mereka yang terletak tepat di seberang Rumah Gadang Datuk Panduko Alam.
---
Malam harinya, setelah sholat Maghrib, Gudam duduk di
beranda sambil menikmati secangkir teh hangat.
Tak lama kemudian Inyiak datang dari surau.
“Bagaimana rasanya tinggal di kampung?”
“Asyik, Inyiak. Damai sekali.”
Inyiak tersenyum.
“Ini tanah tumpah darahmu, Gudam.”
Lelaki tua itu menunjuk ke arah Rumah Gadang.
“Kau lihat rumah itu?”
Gudam mengangguk.
“Itu Rumah Gadang Datuk Panduko Alam. Leluhur kita. Sejak
dahulu keluarga kita termasuk pemimpin adat di kampung ini.”
Gudam memandang bangunan itu dengan penuh rasa ingin tahu.
“Boleh aku masuk ke sana?”
“Besok.”
Inyiak tersenyum.
“Tapi ingat. Jangan sembarangan memegang barang di
dalamnya.”
“Kenapa?”
“Bisa ketulahan.”
“Kualat?”
“Inyo.”
Gudam menelan ludah.
“Dan satu lagi.”
Kali ini suara Inyiak berubah pelan.
“Jangan pernah masuk ke bilik dalam.”
Gudam langsung merinding.
“Bilik dalam?”
“Itu kamar pribadi Datuk Panduko Alam yang pertama. Sejak
beliau wafat ratusan tahun lalu, ruangan itu dikunci rapat. Tidak seorang pun
diperbolehkan membukanya.”
Gudam melongo.
“Seram banget...”
---
Malam semakin larut.
Gudam berbaring di kamar sederhana yang hanya berisi dipan
kayu, kasur kapas, dan lemari tua.
Karena kelelahan, matanya segera terpejam.
Namun saat tidurnya hampir lelap, aroma kemenyan tiba-tiba
memenuhi ruangan.
Gudam membuka mata.
Tidak ada siapa-siapa.
Beberapa detik kemudian aroma itu menghilang.
Saat itulah tubuhnya mendadak kaku.
Napasnya sesak.
Lidahnya kelu.
Ia tidak bisa bergerak sedikit pun.
Hanya matanya yang masih bisa melihat.
Lalu sosok itu muncul.
Seorang lelaki tua berjubah hitam berdiri di samping tempat
tidurnya.
Wajahnya menyeramkan.
Matanya perlahan berubah menjadi dua bola api merah menyala.
Tidak berkedip.
Tidak bergerak.
Seperti bara api yang hidup di dalam tengkorak manusia.
Taring panjang muncul dari balik bibirnya.
Perlahan tangannya terulur ke arah Gudam.
Gudam ingin berteriak.
Namun suaranya tidak keluar.
Tepat sebelum tangan itu menyentuh tubuhnya, angin dingin
berhembus kencang memenuhi ruangan.
Sangat dingin.
Sedingin es.
Sosok berjubah hitam itu terkejut.
Ia menggeram marah.
Kemudian tubuhnya berkelebat dan menghilang begitu saja.
Tubuh Gudam langsung kembali normal.
Ia bangkit dengan napas memburu.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Tak lama kemudian aroma bunga yang sangat harum memenuhi
ruangan.
Gudam terdiam.
Pikirannya kacau.
Apa yang baru saja terjadi?
Mimpi?
Atau sesuatu yang lain?
“Hampir saja gue kencing di celana...”
gumamnya pelan.
Karena terlalu lelah untuk berpikir, Gudam akhirnya tertidur
kembali hingga pagi menjelang.
Tanpa ia sadari, malam itu adalah awal dari petualangan yang
akan mengubah seluruh hidupnya.
Bersambung...