KESATRIA DUA DIMENSI (Bagian 1 : Mudik)

Last Update 26 Juni 2026 Roland Mangkuto Sutan 184
Bagikan :

  Bagian 1 :

MUDIK


 

Karatau madang dihulu,

Babuah babungo balun,

Marantau bujang dahulu,

Dirumah paguno balun.

 

Petitih adat Minangkabau itu telah menjadi pegangan hidup keluarga Gudam selama beberapa generasi. Karena itulah mereka menetap jauh dari kampung halaman mereka di Ranah Minangkabau.

Ayah Gudam merantau ke Jakarta sejak usia sebelas tahun mengikuti pamannya yang lebih dahulu menetap di ibu kota. Begitu pula ibunya. Meski berdarah Minang asli, ia dibesarkan di Jakarta karena ayahnya, yang akrab dipanggil Inyiak oleh cucu-cucunya, merupakan seorang prajurit yang lama bertugas di sana.

Gudam adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya, Gadih Ranti, sedang menempuh kuliah semester empat di sebuah universitas negeri. Gudam sendiri masih duduk di bangku SMA, sementara adiknya, Randi, masih bersekolah di tingkat dasar.

Meski lahir dan besar di Jakarta, mereka tidak pernah jauh dari cerita tentang kampung halaman. Inyiak sering berkisah tentang nagari tua yang masih memegang teguh adat istiadat, tentang surau-surau yang tetap ramai menjelang senja, tentang silek yang diwariskan turun-temurun, dan tentang masyarakat yang memilih menjaga tradisi leluhur dibanding mengejar modernisasi.

Bagi Gudam, semua itu terdengar menarik sekaligus aneh.

Namun justru karena itulah rasa penasarannya semakin besar.

Tahun ini, kerinduannya akhirnya akan terobati.

Liburan akhir tahun menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Setelah sekian lama, ayahnya memutuskan pulang kampung.

“Mumpung libur, kita tinggal sementara di kampung dulu sampai keadaan di Jakarta benar-benar membaik,” kata ayahnya.

Pandemi yang melanda beberapa waktu terakhir membuat rumah makan milik ayahnya terpaksa tutup. Kesempatan itu akhirnya digunakan untuk pulang menjenguk kampung halaman yang telah lama ditinggalkan.

Malam sebelum keberangkatan, ayah Gudam menghampirinya.

“Gudam.”

“Iya, Yah?”

“Nanti kalau sudah sampai di kampung, jangan banyak bikin ulah.”

Gudam terkekeh.

“Siap, Komandan.”

Ayahnya tidak ikut tertawa.

“Dan satu lagi. Jangan mengotak-atik barang apa pun di Rumah Gadang tanpa izin Ayah atau Inyiak.”

Gudam mengernyit.

“Kenapa?”

“Pokoknya ingat saja pesan Ayah.”

Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Gudam semakin besar.

---

Perjalanan laut berlangsung panjang.

Saat kapal berlayar menuju Pelabuhan Teluk Bayur, Gudam lebih banyak menghabiskan waktu di geladak sambil memandangi laut lepas.

Yang paling membuatnya bersemangat adalah kesempatan mempelajari silek.

Sejak kecil ia sering mendengar cerita Inyiak tentang seni bela diri warisan Minangkabau itu.

“Gerakannya lembut,” kata Inyiak suatu kali.

“Tapi sangat mematikan.”

Saat mengatakannya, lelaki tua itu sempat memperagakan beberapa gerakan yang membuat Gudam berdecak kagum.

Di tengah lamunannya, Inyiak datang membawa dua gelas minuman hangat.

Satu diberikan kepada Gudam.

“Sudah berapa umurmu sekarang?”

“Enam belas tahun.”

Inyiak mengangguk perlahan.

 

“Gudam, kau percaya dunia gaib?”

Pertanyaan itu membuat Gudam menoleh.

“Dunia gaib?”

“Inyo. Alam lain yang tidak kasat mata.”

Gudam langsung menyeringai.

“Oh, seperti dunia paralel di Dragon Ball?”

Inyiak mengerutkan dahi.

Gudam malah semakin bersemangat menjelaskan.

“Ada banyak alam semesta, petarung terkuat, turnamen antar dunia, terus ada Tujuh Bola Naga yang bisa mengabulkan permintaan!”

Inyiak hanya menatapnya datar.

Gudam tertawa.

“Kalau yang Inyiak maksud hantu, jin, siluman, atau dedemit, ya maaf saja. Aku belum percaya kalau belum ada bukti ilmiahnya.”

Inyiak menghela napas panjang.

Belum sempat menjawab, suara ibu mereka terdengar memanggil untuk makan siang.

Percakapan itu pun terputus begitu saja.

---


Keesokan harinya kapal akhirnya merapat di Pelabuhan Teluk Bayur.

Gudam terpana.

Hamparan bukit hijau menyambut pandangannya. Rumah-rumah bergonjong berdiri megah di berbagai sudut. Udara terasa jauh lebih segar dibanding Jakarta.

“Wooooow!”

Gadih Ranti merentangkan kedua tangannya.

“Indah banget!”

Setelah seluruh barang diturunkan, mereka melanjutkan perjalanan darat menuju Nagari Taratak Bungo.

Perjalanan itu memakan waktu berjam-jam.

Mobil melewati lembah, sungai, persawahan, dan bukit-bukit batu yang menjulang tinggi.

Menjelang sore, mereka akhirnya sampai.

Di sanalah Gudam pertama kali melihat Rumah Gadang Datuk Panduko Alam.

Bangunan itu berdiri megah di tengah kampung.

Usianya mungkin sudah ratusan tahun.

Namun rumah itu masih tampak gagah dan berwibawa.

Ukiran-ukiran indah memenuhi dindingnya. Atap gonjong menjulang seperti tanduk kerbau. Tiang-tiang kayu besar berdiri kokoh seolah menantang zaman.

Entah kenapa, saat memandang rumah itu, jantung Gudam berdetak sedikit lebih cepat.

Seolah-olah bangunan tua tersebut sedang memperhatikannya balik.

“Gudam!”

Suara Inyiak membuyarkan lamunannya.

Ternyata seluruh keluarga sudah berada di rumah tua milik nenek mereka yang terletak tepat di seberang Rumah Gadang Datuk Panduko Alam.

---

Malam harinya, setelah sholat Maghrib, Gudam duduk di beranda sambil menikmati secangkir teh hangat.

Tak lama kemudian Inyiak datang dari surau.

“Bagaimana rasanya tinggal di kampung?”

“Asyik, Inyiak. Damai sekali.”

Inyiak tersenyum.

“Ini tanah tumpah darahmu, Gudam.”

Lelaki tua itu menunjuk ke arah Rumah Gadang.

“Kau lihat rumah itu?”

Gudam mengangguk.

“Itu Rumah Gadang Datuk Panduko Alam. Leluhur kita. Sejak dahulu keluarga kita termasuk pemimpin adat di kampung ini.”

Gudam memandang bangunan itu dengan penuh rasa ingin tahu.

“Boleh aku masuk ke sana?”

“Besok.”

Inyiak tersenyum.

“Tapi ingat. Jangan sembarangan memegang barang di dalamnya.”

“Kenapa?”

“Bisa ketulahan.”

“Kualat?”

“Inyo.”

Gudam menelan ludah.

“Dan satu lagi.”

Kali ini suara Inyiak berubah pelan.

“Jangan pernah masuk ke bilik dalam.”

Gudam langsung merinding.

“Bilik dalam?”

“Itu kamar pribadi Datuk Panduko Alam yang pertama. Sejak beliau wafat ratusan tahun lalu, ruangan itu dikunci rapat. Tidak seorang pun diperbolehkan membukanya.”

Gudam melongo.

“Seram banget...”

---

Malam semakin larut.

Gudam berbaring di kamar sederhana yang hanya berisi dipan kayu, kasur kapas, dan lemari tua.

Karena kelelahan, matanya segera terpejam.

Namun saat tidurnya hampir lelap, aroma kemenyan tiba-tiba memenuhi ruangan.

Gudam membuka mata.

Tidak ada siapa-siapa.

Beberapa detik kemudian aroma itu menghilang.

Saat itulah tubuhnya mendadak kaku.

Napasnya sesak.

Lidahnya kelu.

Ia tidak bisa bergerak sedikit pun.

Hanya matanya yang masih bisa melihat.

Lalu sosok itu muncul.

Seorang lelaki tua berjubah hitam berdiri di samping tempat tidurnya.

Wajahnya menyeramkan.

Matanya perlahan berubah menjadi dua bola api merah menyala.

Tidak berkedip.

Tidak bergerak.

Seperti bara api yang hidup di dalam tengkorak manusia.

Taring panjang muncul dari balik bibirnya.

Perlahan tangannya terulur ke arah Gudam.

Gudam ingin berteriak.

Namun suaranya tidak keluar.

Tepat sebelum tangan itu menyentuh tubuhnya, angin dingin berhembus kencang memenuhi ruangan.

Sangat dingin.

Sedingin es.

Sosok berjubah hitam itu terkejut.

Ia menggeram marah.

Kemudian tubuhnya berkelebat dan menghilang begitu saja.

Tubuh Gudam langsung kembali normal.

Ia bangkit dengan napas memburu.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

Tak lama kemudian aroma bunga yang sangat harum memenuhi ruangan.

Gudam terdiam.

Pikirannya kacau.

Apa yang baru saja terjadi?

Mimpi?

Atau sesuatu yang lain?

“Hampir saja gue kencing di celana...”

gumamnya pelan.

Karena terlalu lelah untuk berpikir, Gudam akhirnya tertidur kembali hingga pagi menjelang.

Tanpa ia sadari, malam itu adalah awal dari petualangan yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Bersambung...