BAGIAN 3
" BUKIK MANDINDIANG ALAM "
Jauh dari Dusun Taratak Bungo, di dalam hamparan bukit barisan yang membelah pulau sumatera berdiri sebuah bukit batu raksasa yang dikenal masyarakat sekitar dengan nama Bukik Mandindiang Alam atau Bukit mendinding Alam. Bukit batu itu menjulang tinggi seperti sebuah benteng alam yang kokoh yang konon dibangun oleh para dewa. Tebing-tebing yang curam tampak mengelilinginya dari segala arah sementara pepohonan tua tumbuh rapat menutupi sebagian lerengnya. Kabut tipis menggantung di antara celah-celah batu seolah menghalangi batas pandang mata dan membuat tempat itu terlihat semakin angker dan menyeramkan.
Penduduk kampung percaya tempat itu dihuni oleh makhluk-makhluk yang tidak kasat mata. Berbagai macam legenda mistik selalu saja menghiasi perjalanan tempat itu dari masa ke masa. Konon di tempat itulah segala bentuk makhluk mitologi Minangkabau kuno saat ini mendekam dan bersembunyi. Menunggu saat mereka benar-benar diijinkan kembali berbaur ke dunia manusia. Konon menurut para tetua kampung bukit batu melingkar itu adalah perwujudan dari ular raksasa yang bernama " Ula sikati muno " atau ular sakti muna yang dahulu kala pernah melilit mahkota tanduk Seri maharaja Diraja yakni sang raja pertama alam Minangkabau. Menurut kisah ular raksasa itu kemudian dikutuk menjadi batu setelah berhasil di kalahkan oleh Sang Sapurba. Dan masih banyak lagi kisah mistik yang beredar di masyarakat terkait tempat tersebut. Karena itulah sangat sedikit sekali orang yang berani datang ke sana, apalagi setelah matahari terbenam. Hanya sunyi yang sesekali disela oleh raungan binatang binatang liar yang tersisa. cerita - cerita itu juga diperkirakan oleh kasus - kadis aneh yang terjadi di sekitar tempat itu. mulai dari kasus orang hilang hingga cerita tentang sebuah kerajaan gaib yang dikabarkan sangat jahat.
Pagi itu angin dingin berhembus perlahan di puncak bukit mendinding alam.
Di atas sebuah batu hitam besar seorang lelaki tua berjubah merah berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Rambutnya terurai panjang diikat dengan destar berwarna merah menjulai hingga ke bahu. Sepasang matanya pun berwarna merah menyala. Dialah Dubalang Rambuik Api.
Tatapannya tertuju ke sebuah gumpalan kabut hitam yang berputar perlahan di hadapannya seakan membentuk satu pusaran.
Semakin lama kabut itu semakin pekat.
Semakin gelap.
Hingga perlahan membentuk sosok manusia bertubuh tinggi dengan wajah sangar yang menyeramkan.
Sepasang matanya juga menyala seperti bara api namun memancarkan aura angker yang sangat nyata.
Dialah Dewang Sanggo Hitam.
Nama yang dahulu pernah membuat tiga alam gemetar ketakutan.
Lekaki angker berjubah hitam memakai saluak berwarna hitam dengan motif perak itu tampak memancarkan kewibawaan yang sangat tinggi. Tatapan nya yang dingin seakan membawa dendam yang tak kunjung sirna dimakan waktu.
Dubalang Rambut Api segera berlutut dan menundukkan kepala sambil mengaturkan sembah.
"Duli Tuanku..."
Suasana mendadak menjadi semakin sunyi.
Bahkan suara burung dan hembusan angin seolah menghilang dari puncak bukit itu.
" Bagaimana dengan tugas yang ambo berikan Dubalang? Apo engkau berhasil membunuh keturunan Datuk Panduko Alam?" tanya sang Dewang.
Dubalang Rambut Api menundukkan kepala lebih dalam, ia gemetar ketakutan.
" Ampun Tuanku , setentang dengan keturunan Datuk panduko alam ambo sudah menemukannya, Tuanku."
"Lalu kenapo budak itu masih hidup?"
Suara Dewang Sanggo Hitam terdengar berat dan penuh tekanan.
Kabut hitam di sekitar tubuhnya bergerak semakin cepat.
Dubalang Rambut Api tampak ragu sesaat sebelum menjawab.
"Ambo sudah mencoba menghabisinya."
Sepasang mata merah Dewang Sanggo Hitam menyipit tajam.
" Caritokan Dubalang, jangan bertele-tele !"
" Beberapa Malam nan lalu setelah budak itu tiba di Taratak Bungo, ambo berhasil memasuki rumahnya."
Dewang Sanggo Hitam tetap diam.
Memberi isyarat agar Dubalang Rambut Api melanjutkan.
"Budak itu sangat lemah dan tidak punyo kekuatan batin sedikitpun, Tuanku !! Ambo bahkan bisa membuat dia tidak mampu melawan bahkan tubuhnya tidak dapat bergerak ! "
"Lantas ? , kenapo Indak engkau binasakan dia sekaligus? ".
" Tepat sebelum ambo bisa menyentuhnya..."
Dubalang Rambut Api mengepalkan kedua tangannya.
" muncul kekuatan gaib yang sangat kuat."
Kabut hitam di sekitar Dewang Sanggo Hitam mendadak berhenti bergerak.
" Hmhhh,, kekuatan apo ? siapo yang ikut campur???? " .
Dewang Sanggo hitam mulai marah sehingga suasana menjadi semakin dingin.
Dubalang Rambut Api mengangkat wajahnya perlahan. Ia sangat ketakutan.
" Ambo raso itu Datuak Harimau Salju."
Petir menggelegar di kejauhan.
Langit yang semula cerah perlahan berubah kelabu.
Untuk pertama kalinya wajah Dewang Sanggo Hitam terlihat berubah.
"Itu tidak mungkin. Harimau celaka itu sudah terkurung di alam tabir !! "
"Itulah yang ambo pikirkan semula, Tuanku."
"Tapi ambo tidak mungkin salah mengenali aura itu."
Dubalang Rambut Api kembali menundukkan kepala.
"Angin sedingin es yang muncul hampir membekukan tubuhku.dan aroma bunga cempaka yang begitu kuat "
"Dan ambo terpaksa mundur. Tuanku !! karena ambo tidak mungkin bisa mengalahkan harimau itu !! "
Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Hanya suara angin yang kembali berhembus di antara bebatuan Bukit Mendinding Alam.
Kemudian perlahan terdengar suara tawa. Pelan..........Namun mengandung kebencian yang sangat dalam.
"Menarik.. menarik Dubalang!! ."
Dewang Sanggo Hitam tersenyum tipis.
"Jadi Harimau salju sudah bangkit dari pertapaan nya dan berencana masih setia untuk menjaga keturunan Datuk Panduko Alam."
Kabut hitam kembali berputar mengelilingi tubuhnya.
"Kalau begitu permainan ini akan jauh lebih menarik daripada yang kuduga. Jika memang demikian aku sang Dewang juga akan turun langsung ke gelanggang, segera siapkan wadah untuk diriku , Dubalang!!! ".
Sepasang matanya menyala semakin terang.
"Dan Lanjutkan pengawasan."
"Jangan bertindak gegabah lagi."
"Aku ingin melihat sejauh mana budak lemah itu akan berkembang, karena jika salah - salah tubuhnya bisa hancur atau dia bisa jadi gila karena tidak mampu menampung kekuatan Datuak Si Rajo Dewa.. HAHAHA!! "
Dubalang Rambut Api membungkuk hormat. Ia sangat senang karena Dewang Sanggo hitam tidak jadi meluapkan amarahnya
"Daulat Tuanku." Sambil menarik nafas lega
Dewang Sanggo Hitam mengangkat wajahnya ke arah langit.
"Datuk Panduko Alam..."
Suara makhluk itu terdengar penuh kebencian.
"Lima ratus tahun yang lalu kau berhasil menghalangiku."
"Tapi kali ini..."
Kabut hitam di sekelilingnya berputar semakin liar.
" Aku akan menghancurkan seluruh warisanmu beserta negeri ini , kerajaan ini !! "
Petir kembali menggelegar.
Dan jauh di bawah Bukit Mendinding Alam, Nagari Taratak Bungo masih tampak damai.
Tidak seorang pun menyadari bahwa perang lama yang telah tertidur selama lima abad perlahan mulai terbangun kembali.
❈ ❈ ❈
Rumah tua berukuran enam kali delapan meter itu terlihat sangat terawat dengan baik. Dinding papan berwarna hitam yang mulai kusam dimakan usia justru malah menambah kesan yang kokoh dan hangat.
Rumah sederhana itu adalah rumah kediaman keluarga Gumanta.
Pagi itu, Gudam dan kawan-kawannya berjanji berkumpul di rumah Gumanta karena ada hal penting yang akan mereka bicarakan.
Sejak pagi Gumanta sudah siap menunggu.
Di atas meja ruang tengah tampak sepiring besar goreng ubi kayu yang masih hangat. Aroma gurihnya memenuhi ruangan dan siap membuat siapa pun yang datang langsung merasa lapar.
Pagi tadi, ibu Gumanta sudah bangun sejak subuh untuk menyiapkan semuanya sebelum kemudian berangkat ke sawah. Sementara ayah Gumanta yang bekerja di sebuah perusahaan tambang tidak begitu jauh dari bukit mendinding alam biasanya hanya pulang sekali sebulan.
Gumanta adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Dua saudara tua nya sudah berkeluarga. Kini hanya dirinya dan kakak perempuannya, Reno Gadih, yang tinggal bersama sang ibu.
Ketika Gudam sampai di halaman rumah, terlihat Reno Gadih sedang menyapu daun-daun kering yang berserakan di bawah pohon mangga yang tumbuh rindang di depan rumah. Reno gadih adalah gadis yang periang dan terkesan agak ceplas ceplos. Tetapi juga terkenal baik hati dan sangat aktif dalam kegiatan sosial di kampung.
"Pagi uni , Gumantanya ada di rumah?" tanya Gudam.
Reno Gadih menoleh lalu tersenyum.
" Ehh Gudam ruponyo, langsung masuk aja. Si Gumanta ada tuh di dalam."
" Gudam Duduk dulu ya, nanti uni bikin kan kopi."
"Aduhh nggak usah repot-repot Uni ! " jawab Gudam sambil tersenyum.
Namun Reno Gadih sudah lebih dulu masuk ke dapur.
Tak lama kemudian Nurdin dan Ihsan datang menyusul.
Mereka berempat duduk santai sambil mengelilingi sebuah meja kayu di ruang tengah.
Tidak lama kemudian Reno Gadih datang membawa empat gelas kopi panas.
"Nah, ini kopi untuk para pandeka kampung," goda nya.
Mereka langsung tertawa.
Sambil mengunyah goreng ubi kayu yang masih hangat, Gumanta akhirnya memulai pembicaraan.
"Kemarin sore aku bertemu angku dahar kepalo kampung."
Ketiga temannya langsung memperhatikan.
"Beliau menitip pesan untuk Guru kita, Pandeka Sahar. Katanya acara Festival Silek Nagari tahun ini akan dipercepat untuk menghindari bulan Ramadhan. Dia juga meminta Pandeka Sahar untuk segera mempersiapkan murid yang akan diutus ikut berlaga."
"Wahhh asyik lah! Tahun ini galanggang kita harus jadi pemenang!" seru Ihsan penuh semangat.
Festival Silek Nagari adalah acara tahunan yang diadakan oleh Pucuk Adat yang bergelar Sutan Permata Putih. Acara itu selalu menjadi perhelatan terbesar di wilayah tersebut. Selain dihadiri para datuk dan pemuka masyarakat, festival itu juga menarik perhatian warga dari berbagai kampung dan kerajaan di sekitarnya.
Pesertanya adalah sepuluh galanggang silek yang berasal dari sepuluh dusun berbeda. Setiap galanggang mengirimkan wakil terbaiknya untuk bertanding memperebutkan piala bergilir yang sangat bergengsi.
Selain pertandingan silek, festival juga dimeriahkan oleh berbagai perlombaan adat dan kesenian seperti tari tradisional, pidato adat, memasak, serta pertunjukan budaya lainnya.
Gudam yang sejak dari tadi hanya bingung mendengarkan mulai ikut terbawa suasana.
Dalam khayalannya ia membayangkan sebuah arena besar yang dipenuhi penonton. Para datuk duduk berjajar dengan pakaian kebesaran mereka, sementara masyarakat bersorak menyaksikan para pendekar muda bertanding.
Tanpa sadar ia tersenyum sendiri.
"Apa yang kau senyum-senyum sendiri, Dam?" tanya Nurdin sambil menyenggol lengannya.
Gudam buru-buru tersadar.
"Nggak ada."
"Bohong tu!" sahut Ihsan sambil tertawa.
Mereka pun ikut tertawa bersama.
"Tapi siapa yang akan mewakili galanggang kita?" tanya Gudam kemudian.
"Kalau urusan itu terserah Pandeka Sahar yang menentukan. Tapi menurutku, sepertinya Nurdin yang akan dipilih," ujar Ihsan.
"Kenapa pulak aku?" sahut Nurdin sambil berpura-pura heran.
Padahal dalam hati ia sangat senang mendengarnya.
"Menurutku juga begitu, Din. Kamu yang paling lihai di antara kita semua," tambah Gumanta.
Gudam ikut mengangguk.
"Kalau benar begitu, mulai sekarang kau harus berlatih keras ya Din."
Nurdin hanya tersenyum malu-malu.
Meski berusaha terlihat biasa saja, ia memang berharap mendapat kesempatan untuk membela galanggang mereka.
Di luar rumah, angin pagi berhembus perlahan melewati hamparan sawah Taratak Bungo.
Tidak seorang pun di antara mereka menyadari bahwa Festival Silek Nagari yang mereka nantikan akan menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang mengubah kehidupan mereka selamanya.
Bersambung ke bagian 4 : Cahaya Hati Taratak Bungo