KESATRIA DUA DIMENSI (Bagian 4 : "Cahaya Hati Taratak Bungo")

05 Juli 2026 Roland Mangkuto Sutan 298
Bagikan :


BAGIAN 4

" CAHAYA HATI TARATAK BUNGO "


 

Masih di rumah Gumanta...

Saat mereka masih asyik berbincang di ruang tengah rumah Gumanta, terdengar suara salam dari luar rumah.

"Assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam..." jawab Reno Gadih dari depan rumah.

Tak lama kemudian terdengar suara Reno Gadih yang terdengar gembira.

"Ehh Nilam Cayo! Adikku yang cantik !! Masuklah cepat! , udah lama nggak kesini "

Ternyata yang datang adalah Nilam Cayo, sepupunya sendiri. Nilam cayo adalah kembang kampung Taratak Bungo, puteri khatib Syarif guru ngaji di kampung itu, ia sangat terkenal dengan kecantikannya serta kebaikan hatinya sehingga para pemuda dan orang - orang kampung sangat menaruh hormat padanya.

Di tangannya terlihat sebuah rantang berisi rendang kiriman ibunya untuk ibu Gumanta.

"Iyo Uni , tadi Mandeh  menyuruh Nilam mengantarkan rendang untuk Mak Tuo," katanya sopan.

"Ooo begitu. Terima kasih banyak ya. Tapi mak tuo mu sedang pergi ke sawah. Duduk dulu saja, biar uni  buatkan minuman dulu ."

"Baik uni !! ".

Nilam Cayo pun duduk di ruang tamu.

Ia mengenakan baju kurung warna kuning muda dan rok panjang batik hitam, dengan jilbab kuning muda yang pas di wajahnya yang cantik. Saat ia tersenyum tampak dua lesung Pipit di pipinya menambah pesona kecantikan kembang desa Taratak Bungo itu.

"Si Gumanta ke mana Uni ? Akhir-akhir ini jarang sekali kelihatan?" tanya dia.

Nilam Cayo memang masih aliran sepupu dan merupakan teman dekat Gumanta sejak kecil. Namun sejak mereka berdua memasuki SMA mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.dan adat Minangkabau memang sangat membatasi pergaulan laki - laki dan perempuan. Meski saudara sekalipun. Bahkan konon di zaman dahulu anak laki-laki itu tidak boleh tidur di rumah orang tua nya karena dianggap tidak sopan jika mereka tidur serumah dengan saudari - saudari perempuan nya. Mereka biasanya tidur di surau sambil belajar adat, agama dan juga silek.

"Itu di dalam lagi kumpul sama teman-temannya."

"Gumanta! Ini ada Nilam Cayo!" panggil Reno Gadih.

Tak lama kemudian Gumanta keluar dan bersalaman dengan sepupunya itu.

Saat gumanta menyibak tirai penghubung ruang tamu dan ruang tengah gudam yang sedang asyik ngobrol sekilas melihat wajah cantik Nilam Cayo dan  entah mengapa saat itu hatinya berdecak kagum.

" Busyet , itu orang atau bidadari ya ? " Gumamnya dalam hati.

Saat ini Gudam benar - benar terpesona dengan kecantikan Nilam Cayo sehingga ia tidak lagi mendengarkan ocehan Nurdin dan ihsan yang sedang sibuk membahas festival silek nagari. Ihsan yang kemudian sadar melihat tingkah aneh gudam langsung menepuk pundak sahabatnya itu.

" Woiii .. Tasapo waang!!! "

Gudam yang kaget Langsung saja menjawab asal.

" Ehh iya , sampai mana tadi ? " .

" Sampai Medan " jawab Ihsan kesal

Sementara Nurdin yang memang agak pendiam cuma senyum - senyum saja.

*

"Tumben udah lama nggak muncul?" tanya Gumanta.

"Iya, Sekarang Nilam lagi sibuk membantu Mandeh  di rumah, kadang setelah Maghrib membantu ayah juga mengajar mengaji di surau."

"Wisss... calon ustadzah ni!" goda Gumanta.

Nilam Cayo ikut tertawa.

Saat ia tertawa, lesung pipitnya terlihat jelas.

"Kamu juga kenapa udah lama nggak mampir ke rumah, Gumanta? Biasanya paling tidak seminggu sekali pasti datang."

"Iya, akhir-akhir ini agak sibuk, apalagi sebentar lagi ada Festival Silek Nagari. Aku dan kawan-kawan harus berlatih keras supaya kampung kita bisa  jadi juara."

"Wahhh... Lah  jadi Pandeka yo !! " balas Nilam Cayo sambil tertawa.

Gumanta hanya nyengir sambil menggaruk kepala.

" Lagian setiap mampir kesana cuma  kena ceramah agama dari mamak khatib Syarif " ujar Gumanta memelas.

 

Nilam cayo tersenyum namun tiba - tiba  Reno Gadih ikut menimpali.

" Itu karena wa,ang nakal dan badung "

Gumanta sewot

"Iya nilam , dia sekarang sudah jadi pandeka , tapi pandeka gadang sarawa!"

Gumanta yang awalnya kesal akhirnya ikut tertawa bersama Nilam dan Reno gadih.

"Kami juga rencana nya mau  ikut lomba tari, itupun kalau uni Reno mau bergabung jadi pelatih sekaligus peserta?" kata Nilam Cayo sambil tersenyum dan berharap.

Festival Silek Nagari memang bukan hanya ajang untuk pertandingan silek saja namun  berbagai perlombaan adat dan kesenian lain nya juga menjadi bagian penting dari acara tersebut. Mulai dari tari tradisional, pidato adat, memasak, hingga pertunjukan randai. Namun tetap saja yang menjadi ikon utama acara itu adalah Silek.

"I am ready! Kapan kita bisa kumpul?" jawab Reno Gadih penuh semangat.

"Bagaimana kalau minggu depan, Uni? Biar Nilam kumpulkan anggota dulu."

"Boleh. Nanti kabari saja, kita latihan di lapangan belakang rumah kakak saja".

Mereka pun sepakat untuk memulai latihan minggu depan.

Sementara itu, Gudam, Nurdin, dan Ihsan masih asyik berbincang di ruang tengah.

"Minggu depan kita harus mulai latihan bersama, terserah siapa pun yang dipilih Pandeka Sahar yang penting kita berusaha semaksimal mungkin!" kata Nurdin penuh semangat.

"Setuju!" jawab Gudam dan Ihsan hampir bersamaan.

Tak lama kemudian Gumanta kembali masuk ke ruang tengah setelah Nilam selesai berbincang dengan Reno Gadih.

"Eh eh eh, apa ini main setuju-setuju aja? Aku kan belum dengar hasil keputusan nya!" ucap Gumanta.

Saat gumanta datang tirai itu tersibak lagi dan Gudam kembali mencuri pandang ke ruang tamu dan saat itulah tanpa disengaja pandangan matanya bertemu dengan mata Nilam Cayo, gadis anggun itu segera paling kan wajah ke arah lain sementara gudam merasa jantungnya hampir saja copot.

Setelah Nurdin menjelaskan panjang lebar, mereka akhirnya sepakat mengadakan latihan tambahan setiap hari Minggu pagi di lapangan belakang rumah Gumanta. Lapangan itu cukup luas dan agak tertutup sehingga cocok dijadikan tempat berlatih.

Melihat gudam yang masih planga plongo nggak karuan gumanta pun membentak.

" Woiii , manga waang , tasapo ? "

Gudam yang kaget langsung spontan menjawab

" Ehh iya nih kayaknya "

Nurdin dan Ihsan tertawa serentak diikuti gumanta dan Gudam.

Gudam merasakan ada satu perasaan yang muncul yang tidak bisa ia pahami sejak ia menatap gadis cantik dari Taratak Bungo itu. Sementara suasana rumah sederhana itu kini dipenuhi semangat dan harapan.

Festival Silek Nagari semakin dekat.

Dan masing-masing dari mereka tentu saja mempunyai impian yang ingin diwujudkan.

Menjelang sore, Nilam Cayo pamit pulang.

Setelah berpamitan dengan Reno Gadih dan Gumanta gadis cantik kembang dusun Taratak Bungo itu berjalan menyusuri jalan kampung menuju rumahnya meninggalkan gudam yang masih diliputi rasa yang aneh.

Tidak lama kemudian Gudam, Nurdin, dan Ihsan juga pamit untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.

Matahari perlahan mulai turun ke ufuk barat. Langit dusun taratak Bungo berubah menjadi jingga keemasan, burung-burung mulai kembali ke sarangnya seiring dengan para petani yang juga mulai meninggalkan sawah - sawah mereka.

Gudam berjalan santai menuju rumah nya.

Sepanjang perjalanan, pikirannya masih dipenuhi dengan cerita tentang Festival Silek Nagari yang sebentar lagi akan dilaksanakan dan sesekali wajah cantik Nilam Cayo kembali hadir dalam ruang mata nya.

Namun Ketika sampai di halaman rumah neneknya pandangan gudam kembali tertuju pada bangunan yang berdiri megah di seberang jalan yakni Rumah Gadang Datuk Panduko Alam.

Bangunan tua itu tampak gagah berdiri di tengah cahaya senja, Gonjong-gonjongnya menjulang ke langit sementara ukiran -ukiran kuno di dindingnya terlihat semakin misterius saat diterpa cahaya matahari yang mulai tenggelam.

Entah kenapa setiap kali melihat rumah gadang itu Gudam selalu merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan, Seolah ada rahasia besar yang sedang menunggunya di dalam sana.

---

Malam harinya, setelah makan malam dan berbincang sejenak dengan keluarga, Gudam berbaring di kamarnya.

Suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan dari luar rumah.

Angin malam yang sejuk masuk melalui jendela kayu yang sedikit terbuka.

Namun mata Gudam belum juga terpejam.

Pikirannya kembali melayang pada mimpi  aneh yang dialaminya sejak tiba di Taratak Bungo. Ia teringat ketika tubuhnya tidak bisa bergerak dan sosok berjubah hitam berambut merah muncul di samping tempat tidurnya. Ia juga teringat angin dingin yang tiba-tiba datang dan mengusir makhluk mengerikan itu.

Lalu pikirannya beralih pada kejadian malam itu

Harimau putih raksasa.

Makhluk yang sampai sekarang masih sulit diterima oleh logikanya.

"Mustahil ada harimau sebesar itu..." gumamnya pelan.

"Dan mustahil juga dia membiarkan saya hidup kalau itu adalah harimau biasa."

" Tapi bukankah itu hanya mimpi ? Namun itu terasa seperti sangat nyata " .

Gudam menatap langit-langit kamar.

Semakin lama ia memikirkan semua kejadian itu, semakin ia merasa bahwa cerita-cerita yang pernah disampaikan Inyiaknya di atas kapal mungkin tidak sepenuhnya salah.

Mungkin memang ada makhluk lain yang hidup berdampingan dengan manusia.

Sesuatu yang selama ini tidak dapat dilihat oleh mata biasa.

Dan entah kenapa, ia merasakan semua petunjuk seolah mengarah ke satu tempat.

Rumah Gadang Datuk Panduko Alam.

Ia kembali teringat pesan ayahnya sebelum berangkat dari Jakarta.

"Jangan sembarangan mengotak-atik barang yang ada di Rumah Gadang."

Lalu teringat pula peringatan Inyiak.

"Dan satu lagi... jangan pernah masuk ke Bilik Dalam."

Gudam menghela napas panjang.

Semakin dilarang, semakin besar rasa ingin tahunya.

"Ada apa sebenarnya di dalam sana?" bisiknya.


Untuk beberapa saat ia terdiam.

Kemudian perlahan sebuah keputusan mulai terbentuk di dalam pikirannya.

"Ya, itu dia..."

Gudam bangkit dan duduk di tepi tempat tidur.

"Aku harus masuk ke Rumah Gadang itu."

Matanya menatap ke arah jendela.

Di kejauhan Rumah Gadang Datuk Panduko Alam masih terlihat samar diterangi cahaya bulan.

"Aku yakin semua jawaban ada di sana."

Rasa penasaran yang selama ini hanya berupa dugaan kini berubah menjadi tekad.

Cepat atau lambat, ia akan memasuki rumah gadang itu.

Dan mencari tahu rahasia yang telah terkubur selama ratusan tahun.

Meskipun harus melanggar larangan ayah dan Inyiaknya.

Meskipun harus menghadapi risiko yang belum diketahuinya.

Demi mendapatkan titik terang, bocah enam belas tahun itu siap menanggung segala konsekuensinya.

---

Bersambung ke Chapter 5: Ramalan Duo Gurhano ".