KESATRIA DUA DIMENSI (Bagian : 5 "Ramalan Duo Gurhano"

13 Juli 2026 Roland Mangkuto Sutan 16
Bagikan :

KESATRIA DUA DIMENSI

BAGIAN 5

RAMALAN DUO GURHANO

 

Hari ketujuh gudam berada di kampung halaman nya .....

Rumah Gadang Datuk Panduko Alam masih berdiri kokoh di tengah Nagari Taratak Bungo.

Semakin hari, rasa penasaran Gudam terhadap bangunan tua itu semakin besar.

 

Sudah beberapa hari terakhir ia berusaha mencari cara untuk masuk dan memeriksa ke dalam. Berbagai foto tua dan dokumen keluarga yang tersimpan di rumah nenek nya telah ia bongkar satu per satu. Ia berharap menemukan petunjuk tentang sejarah Datuk Panduko Alam atau rahasia yang tersembunyi di balik Bilik Dalam.

Namun hasilnya nihil.

Tidak ada satu pun informasi yang mampu menjawab pertanyaan yang terus saja mengganggu pikirannya.

Beberapa hari sebelumnya, Gudam juga sempat mencoba bertanya kepada Inyiaknya.

Namun sang kakek selalu terlihat sibuk.

Sejak kembali ke kampung halaman, Inyiak lebih banyak menghabiskan waktunya di sawah dan ladang untuk mengenang masa mudanya.

Kunci Rumah Gadang sendiri disimpan di kamar almarhum nenek Gudam.

Kini kamar itu ditempati oleh kedua orang tuanya.

Karena ibunya, Puti Reno Sago, merupakan satu-satunya anak perempuan dalam keluarga, maka sesuai adat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, seluruh harta pusaka keluarga diwariskan melalui garis perempuan.

Saat itu  Gudam masih sibuk membolak-balik foto-foto lama, sebuah foto hitam putih memperlihatkan satu barisan para Datuk yang berdiri di halaman depan rumah gadang yang ia yakini adalah rumah gadang Datuk panduko alam. Pada bagian atas foto terdapat tulisan tangan dengan pena yang bertuliskan " Atjara naik noebat datoek pandoeko alam tahoen 1908 " . Tulisan itu masih ditulis dengan ejaan lama. Namun mata Gudam tetap fokus pada bangunan yang berdiri kokoh dalam foto hitam putih itu.

" Nyaris tidak berbeda " gumam nya

 

Kemudian matanya tertuju pada seorang Datuk yang berpakaian merah bersaluk merah yang berdiri paling kiri dari barisan itu. Gudam terhenyak, ia seperti pernah melihat sosok itu, tapi ia lupa dimana. Sedang fokus ia berfikir terdengar suara ibunya memanggil dan menghampirinya.

"Gudam, kamu lagi ngapain?"

Gudam menoleh.

Puti Reno Sago, ibu gudam sudah berdiri di ambang pintu sambil memperhatikannya.

"Sudah dua hari ini Amak lihat kamu nggak pernah keluar rumah. Apa bertengkar sama teman-temanmu?"

"Nggak kok mak. Cuma malas keluar aja. Lagi pengen santai di rumah."

Ibunya tersenyum tipis.

"Kalau begitu hari ini bantu Amak dan Uni mu ya."

Gudam langsung curiga.

"Bantu apa lagi, Mak ?"

Ia memang paling malas jika disuruh mengerjakan pekerjaan rumah.

Ibunya menunjuk ke arah bangunan besar yang berdiri di seberang rumah.

" Kau Lihat Rumah Gadang itu?"

Gudam langsung menoleh.

"Sepertinya sudah lama tidak dibersihkan, Hari ini Amak  dan Uni berencana mau membersihkan nya."

Untuk sesaat Gudam terdiam.

Kemudian wajahnya langsung berubah cerah.

Bagai mendengar lagu terindah di dunia.

"Asshiaaapp!"

Ia langsung berdiri. Album foto ia lipat dan ia letakkan kembali ke dalam rak kayu.

"Gudam siap-siap! Ganti baju dulu!"

Puti Reno Sago sampai tertawa melihat perubahan sikap anaknya yang begitu mendadak.

Sementara Gudam berlari masuk ke kamar.

Dalam hati ia bersorak girang.

"Pucuk dicinta, ular keket pun tiba..."

Lalu ia terkekeh sendiri.

Hari yang ditunggunya akhirnya tiba.

Di sebuah batu picak di pinggiran air terjun setinggi dua puluh lima meter tampak sesosok tubuh duduk bersila dengan kedua tangan terlipat di dada. Ia sepertinya sedang bertarak atau bersemedi.

Deru air yang jatuh dari ketinggian tidak sedikit pun mengganggu kekhusyukan Tarak nya.

Orang tua itu adalah Dubalang Rambuik Api.

Sejak gagal membunuh Gudam, ia memilih menjauh dan menyembunyikan diri sambil meningkatkan kesaktiannya. Ia takut akan mendapat murka Dewang Sanggo hitam jika terus terusan gagal menjalankan misi nya.

Sejak pertemuan terakhir kali di bukit mendinding alam Ia belum berani kembali menghadap Dewang Sanggo Hitam karena takut dihukum.

Kegagalan dalah aib yang sulit diterima oleh Datuk penguasa kegelapan itu.

Tiba-tiba...

Di tengah kekhusyukan bertaraknya, terdengar suara serak tanpa wujud.

Suara yang datang entah dari mana.

Suara yang sangat dikenalnya.

"Kutiko bula sangkap tigo puluah timbua diantaro duo gurhano, disitulah adaik ka diisi, limbago kadituang, disinan langik ka tabalah hukum ka manimpo !!! "

( Ketika bulan purnama muncul diantar dua gerhana, disitu adat akan di isi , wadah atau lembaga akan di tuang , disitulah gerbang dua alam kan terbuka , dan hukuman akan dilaksanakan)

Tubuh Dubalang Rambuik Api langsung bergetar.

Ia mengenali suara itu , suara gurunya Rajo Ampang Basi.

Dendang  yang dirapal barusan adalah sebuah Ramalan kuno yang diwariskan turun-temurun oleh para pengikut Dewang Sanggo Hitam. Ramalan tentang perang warisan antara para Datuk dari alam Minangkabau kuno.

Ramalan yang selama ratusan tahun sangat ditakuti oleh mereka yang mengabdikan kepada kegelapan.

" Rajo " bisiknya pelan.

Suara itu kembali terdengar.

" Disaat bulan purnama muncul di antara dua gerhana, seorang kesatria akan merangkul takdirnya. Wadah Datuk Si Raja Dewa akan muncul dan tidak akan ada yang mampu menghentikannya."

Dubalang Rambut Api langsung menundukkan kepala.

Guru sekaligus sumber dari seluruh ilmu hitam yang dimilikinya.

"Lantas apa yang harus ambo lakukan, Rajo ?" tanyanya hormat.

Suara itu terdengar semakin keras.

"Bagaimanapun caranya, kau harus menggagalkan ramalan itu!"

Kabut hitam di sekitar air terjun berputar semakin liar.

"Temukan budak itu dan bunuh !! "

" Habisi ia."

"Bunuh dia sebelum bulan purnama di antara dua gerhana muncul!"

Dubalang Rambuik Api mengepalkan tangannya.

"Tapi budak  itu dilindungi Harimau Salju, Rajo. Ambo ndak kuaso menandingi kekuatannya."

Beberapa saat suasana menjadi sunyi.

Kemudian terdengar tawa menyeramkan yang menggema di seluruh lembah.

"Lalu apa kehendak engkau?"

"Jangan bertele-tele!"

Dubalang Rambuik Api segera menjura hormat.

" Rajo,  jika ramalan itu tak bisa dihentikan, maka dibutuhkan kekuatan besar untuk menghancurkan wadahnya." Ia menarik napas panjang.

"Bukankah Rajo memiliki Mantiko Batu Api?"

"Kekuatan batu mustika itu pasti mampu melipatgandakan tenaga gaib."

"Ambo  mohon, berikan mantiko itu kepada ambo "

Terdengar tawa panjang yang menggetarkan udara.

"Hahahahaha..."

"Dasar tua bangka licik!"

"Dari awal aku sudah mengetahui niatmu."

Namun suara Rajo Ampang Basi kemudian terdengar lebih tenang.

"Karena engkau satu-satunya muridku.."

"Mantiko Batu Api itu akan kuberikan."

Dubalang Rambuik Api langsung menundukkan kepala lebih dalam.

"Terima kasih, Rajo ".

Namun suara itu segera melanjutkan.

"Dengan satu syarat."

Dubalang Rambut Api mengangkat wajah.

"Segera temukan wadah baru untuk menampung kekuatanku dan sahabatku Dewang ".

"Aku sudah terlalu lama menunggu."

"Aku ingin membalas kekalahanku."

Dubalang Rambut Api tersenyum tipis.

"Ambo sudah menemukan orang yang tepat, Datuak ."

Kabut hitam bergetar hebat.

Kemudian suara Rajo Ampang Basi terdengar untuk terakhir kalinya.

"Baik."

"Mantiko  Batu Api kuserahkan padamu."

"Namun engkau harus memeliharanya dengan meminum darah bayi setiap tiga purnama."

"Jika tidak..."

"Kesaktiannya akan berkurang dan engkau pasti akan menyesal."

Perlahan suara itu menghilang….Semedi selesai.

Di hadapan Dubalang Rambut Api kini tergeletak sebuah batu merah sebesar ujung kelingking.

Batu itu memancarkan cahaya seperti bara api.

Senyum menyeramkan muncul di wajahnya.

Perlahan ia mengambil Mustika Batu Api itu.

Kemudian memasukkannya ke dalam mulut.

Dalam hitungan detik, hawa panas luar biasa mengalir ke seluruh tubuhnya.

Dan ketika ia membuka mata kembali...

Sepasang matanya telah berubah menjadi merah menyala seperti bara api neraka.

" Mulai saat ini kau akan menjadi seorang Palasik , yang hidup dengan meminum darah bayi "

Suara itu kemudian menghilang dan tinggal lah Dubalang Rambuik Api dengan wajah yang sangat puas.

---

Sementara itu di Nagari Taratak Bungo, Gudam, Gadih Ranti, dan Puti Reno Sago telah mulai membersihkan Rumah Gadang Datuk Panduko Alam.

Rumah gadang itu masih tampak kokoh meskipun usianya telah mencapai ratusan tahun.

Tiang-tiang kayunya berdiri tegak menopang bangunan besar tersebut. Ukiran-ukiran tua menghiasi hampir seluruh dindingnya, sementara tikar pandan yang terbentang di ruang utama masih terlihat terawat meskipun sedikit berdebu.

Gudam dan kakaknya tampak kompak mengepel lantai.

Sesekali mereka bercanda untuk mengusir rasa bosan.

Sementara itu Puti Reno Sago sibuk membersihkan guci-guci antik dan berbagai benda pusaka yang tersimpan di sudut ruangan.

Namun perhatian Gudam tidak benar-benar tertuju pada pekerjaan yang sedang dilakukannya.

Sejak pertama kali masuk ke rumah gadang itu, matanya terus mengarah ke sebuah pintu di sudut kiri bangunan.

Pintu yang terkunci rapat oleh gembok besi tua.

Berbeda dengan tiga kamar lainnya yang terbuka.

"Itukah yang disebut Bilik Dalam?" gumam Gudam dalam hati.

Rumah Gadang Datuk Panduko Alam memiliki empat kamar yang berjajar menghadap ruang utama.

Masing-masing berukuran sekitar empat kali empat meter.

Di tengahnya terdapat ruangan besar berbentuk persegi panjang yang biasa digunakan untuk musyawarah adat.

Tidak ada singgasana.

Tidak ada kursi kebesaran.

Hanya tikar pandan yang membentang dari ujung ke ujung.

Menurut cerita Inyiaknya, itulah salah satu falsafah hidup orang Minangkabau.

Duduak samo randah, tagak samo tinggi.

Semua persoalan diselesaikan melalui musyawarah.

Bahkan Sutan Permata Putih sekalipun tidak dapat mengambil keputusan penting tanpa bermufakat dengan para datuk dan pemangku adat.

Begitulah adat yang diwariskan turun-temurun di Minangkabau.

Waktu terus berjalan.

Tanpa terasa matahari telah berada tepat di atas kepala.

Puti Reno Sago mengusap peluh di dahinya.

"Kita istirahat dulu."

Gudam dan Gadih Ranti langsung menghentikan pekerjaan mereka.

"Bagaimana kalau makan siang di sini saja?" lanjut sang ibu.

"Setelah Dzuhur kita lanjut lagi."

"Semua kamar juga harus dibersihkan."

Gudam yang sejak tadi menunggu kesempatan langsung memancing.

"Semua kamar, Mak ?"

"Iya."

Puti Reno Sago mengangguk.

Kemudian menunjuk ke arah pintu yang terkunci.

"Kecuali kamar yang itu."

"Kenapa ?" tanya Gudam pura-pura polos.

Puti Reno Sago menggeleng.

" Amak  juga tidak tahu pasti."

"Tapi sejak dulu Inyiakmu dan warga kampung selalu mengatakan kamar itu terlarang."

"Belum pernah ada yang berani membukanya."

"Bahkan Angku Datuak yang sekarang juga tidak pernah menginap di sini."

Gadih Ranti langsung merinding.

"Ihhhh... serem banget."

Matanya melirik ke arah pintu tua itu.

Entah kenapa suasana ruangan mendadak terasa lebih dingin.

"Sudahlah."

Puti Reno Sago berdiri.

" Amak dan uni pulang dulu menyiapkan makan siang."

"Kamu lanjutkan pekerjaan ringan saja di sini."

"Jangan macam-macam."

"Iya Mak ..." jawab Gudam cepat.

Namun sesaat setelah ibu dan kakaknya keluar dari rumah gadang...

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Kesempatan yang ditunggu akhirnya datang.

Begitu memastikan tidak ada siapa-siapa di sekitar rumah gadang, Gudam segera berjalan menuju pintu terlarang itu.

Semakin dekat ia melangkah, semakin kuat rasa penasarannya.

Di depan pintu itu tergantung sebuah gembok besi besar yang tampak sangat tua.

Sebagian permukaannya telah berkarat dimakan usia.

Namun anehnya, gembok itu masih terlihat sangat kokoh.

Gudam mencoba menariknya perlahan.

Tidak bergerak sedikit pun.

"Aduh..."

"Gimana caranya biar terbuka?"

Ia mulai berpikir keras.

Tiba-tiba...

Hidungnya menangkap aroma yang sangat harum.

Harum bunga cempaka.

Gudam mengernyit.

Ia melihat ke kiri dan ke kanan.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun aroma itu semakin lama semakin kuat.

Lalu terdengar suara lirih dari balik pintu.

Seperti seseorang sedang melantunkan dendang kuno.

Gudam menahan napas.

Karena suara itu terlalu pelan, ia perlahan menempelkan telinganya ke daun pintu.

Dan saat itulah ia mendengarnya dengan jelas.

"Kutiko bulan nan sangkap tigo puluah..."

Gudam terdiam.

Suara itu terdengar tua.

Lembut.

Namun mengandung wibawa yang sulit dijelaskan.

"Timbua diantaro duo gurhano..."

Jantung Gudam mulai berdegup lebih cepat.

"Disitulah adaik ka diisi..."

Bulukuduknya meremang.

"Limbago kadituang..."

Gudam mundur selangkah.

Ia tidak mengerti arti ramalan itu.

Namun suara tersebut terasa sangat nyata.

Seolah seseorang memang sedang berbicara dari dalam kamar.

"Siapa di dalam sana?" tanyanya pelan.

Tidak ada jawaban.

Hanya aroma bunga cempaka yang semakin kuat memenuhi ruangan.

Lalu tiba-tiba...

BUMMM!!!

Seluruh Rumah Gadang bergetar hebat.

Gudam terkejut.

Lantai kayu bergetar seperti diguncang gempa.

Tiang-tiang rumah berderit keras.

Bahkan dinding-dinding tua itu seolah hendak runtuh.

"Astaga!"

Gudam mencoba mundur.

Namun tubuhnya terasa berat.

Sangat berat.

Seolah ada kekuatan tak terlihat yang menarik dirinya ke arah pintu.

Getaran semakin kuat.

Angin dingin berputar memenuhi ruangan.

Dan sebelum sempat berteriak...

Tubuh Gudam mendadak tersedot ke arah pintu Bilik Dalam.

Segalanya berubah gelap.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada suara.

Hanya kegelapan yang menelannya tanpa ampun.

"Gudam!"

"Gudam!"

Suara Puti Reno Sago terdengar dari luar.

Ia baru saja kembali bersama Gadih Ranti membawa makan siang.

Namun tidak ada jawaban.

Puti Reno Sago mulai cemas.

"Gudam!"

Ia mendorong pintu rumah gadang dan masuk ke dalam.

Sesaat kemudian...

Jeritan keras memecah kesunyian.

"Gudaaammm!"

Di depan pintu Bilik Dalam, tubuh Gudam terkapar tak sadarkan diri.

Wajahnya pucat.

Napasnya lemah.

Sementara aroma bunga cempaka memenuhi seluruh ruangan.

Puti Reno Sago langsung memeluk tubuh anaknya sambil menangis.

"Gudam... bangun nak..."

"Gudam..."

Gadih Ranti ikut panik.

Air matanya mengalir deras.

Ia berlari keluar rumah.

"Tolongggg!"

"Tolongggg!"

"Warga kampung segera datang!"

Dalam waktu singkat, halaman rumah gadang mulai dipenuhi penduduk.

Dan sore itu...

Untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun...

Bilik Dalam kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

..............................................................

Chapter 6 " Wasiat Datuak Panduko Alam "