BAGIAN 6
TALUAK TANAH DEWA

Di episode sebelumnya, dalam chapter Ramalan Duo Gurhano diceritakan bahwa Gudam yang sedang membantu membersihkan Rumah Gadang Datuk Panduko Alam tiba-tiba mengalami peristiwa aneh. Saat mencoba mendekati kamar terlarang yang selama ini menjadi misteri keluarga, seluruh bangunan bergetar hebat. Sebelum sempat menyelamatkan diri, tubuhnya seolah tersedot oleh kekuatan tak kasat mata dan menghilang ke dalam kegelapan.
Apa sebenarnya yang terjadi pada Gudam?
---
Setelah melalui kegelapan panjang yang terasa tanpa ujung,
Gudam perlahan membuka mata.
Hal pertama yang dilihatnya membuat dirinya terpaku.
Ia berdiri di sebuah teluk luas yang begitu indah. Hamparan
padang rumput hijau membentang sejauh mata memandang. Pepohonan besar tumbuh
rapi seperti dijaga oleh tangan-tangan gaib. Udara terasa sejuk dan segar.
Burung-burung berwarna-warni beterbangan bebas sambil berkicau merdu.
Di kejauhan terdengar suara gemuruh air sungai yang mengalir
deras.
Gudam berdiri mematung.
Dadanya berdebar kencang.
Ia memandangi kedua tangannya sendiri.
Semua terasa begitu nyata.
"Apa yang telah terjadi dengan diriku?" gumamnya
pelan.
Ingatan tentang kejadian terakhir perlahan kembali.
Ia teringat suara aneh dari dalam kamar terlarang Rumah
Gadang Datuk Panduko Alam.
Ia teringat getaran hebat yang mengguncang rumah.
Dan ia teringat dirinya tersedot ke dalam pusaran gelap yang
tidak mampu dilawan.
Gudam menelan ludah.
"Apakah ini yang disebut kematian?" bisiknya
dengan wajah pucat.
Rasa takut mulai menyelimuti hatinya.
Ia tidak tahu dimana dirinya berada.
Tidak tahu bagaimana cara kembali.
Dan yang paling membuatnya cemas adalah memikirkan ibunya.
"Selamat datang, Angku Mudo".
Sebuah suara lembut tiba-tiba terdengar dari arah kanan.
Gudam tersentak.
Ia segera menoleh.
Sekitar enam meter dari tempatnya berdiri, tampak seorang
lelaki tua berjubah panjang berwarna biru muda. Sorban biru melingkar rapi di
kepalanya. Janggut putihnya menjuntai hingga dada.
Orang tua itu tersenyum ramah.
Entah mengapa, senyum itu membuat rasa takut Gudam sedikit
berkurang.
"Datuk... siapakah dirimu?" tanya Gudam
Orang tua itu tersenyum.
"Saat ini kau berada di tempat kediamanku. Tempat ini
bernama Teluk Tanah Dewa."
Gudam mengernyit.
Nama itu asing baginya.
"Dimana sebenarnya tempat ini?"
"Tempat yang tidak bisa dijangkau manusia biasa."
Gudam semakin bingung.
Orang tua itu kemudian melanjutkan.
"Untuk sementara kau akan tinggal disini. Aku
sengaja membawamu kemari untuk melindungimu dari orang-orang yang
ingin mencelakakanmu."
Gudam terdiam.
"Apakah kau masih ingat orang tua berambut merah yang
mencoba membunuhmu?"
Gudam langsung teringat sosok mengerikan yang pernah muncul
dalam mimpinya.
" Orang tua jahat itu ??? ." ucapnya pelan.
Sepintas ia teringat dengan foto lama yang sebelumnya ia
lihat di rumah neneknya.
" Ya , aku ingat , orang tua itu !! ".
Orang tua itu mengangguk.
"Benar."
Gudam mulai merasa bahwa kakek tua di depannya mengetahui
banyak hal tentang dirinya.
"Bukankah selama ini kau juga ingin mencari jawaban
atas berbagai keanehan yang kau alami?" tanya orang tua itu.
Gudam mengangguk pelan.
"Betul, Datuk."
"Tidak semua jawaban bisa dipahami dalam satu malam.
Tapi aku akan membantumu memahami semuanya."
Gudam mendengarkan dengan serius.
"Tugas yang akan kau emban kelak sangat berat, Angku
Mudo."
---
Tak lama kemudian, orang tua berjubah biru itu mengajak
Gudam menuju rumahnya.
Rumah itu tidak terlalu besar.
Sebuah rumah panggung kayu sederhana yang berdiri di tepi
padang rumput.
Suasananya tenang dan damai.
Namun Gudam dapat merasakan sesuatu yang aneh.
Seolah-olah seluruh tempat itu dipenuhi energi yang tidak bisa
dijelaskan dengan kata-kata.
Saat memasuki rumah, rasa rindu kepada keluarganya kembali
muncul.
Ibunya.
Ayahnya.
Inyiaknya.
Dan teman-temannya.
Mereka pasti sedang mencarinya sekarang.
Mungkin mereka sedang menangis.
Mungkin mereka mengira dirinya telah meninggal.
Melihat perubahan wajah Gudam, orang tua itu tersenyum.
"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan."
Ia menunjuk sebuah gentong besar yang berisi air jernih.
"Cobalah lihat ke dalam."
Gudam mendekat.
Orang tua itu menyapukan tangan di atas permukaan air
sebanyak tiga kali.
Ajaib.
Permukaan air berubah seperti cermin hidup.
Gudam terkejut.
Di dalamnya terlihat tubuhnya sendiri sedang terbaring lemah
di atas dipan kayu.
Orang-orang keluar masuk rumah.
Ibunya duduk di sampingnya sambil menangis.
Ayahnya tampak cemas.
Inyiaknya mondar-mandir gelisah.
Dan seorang dukun kampung Taratak Bungo yang bernama inyiak
Sago yang dipanggil oleh keluarganya tampak sedang merapalkan jampi - jampi
sambil sesekali menggelengkan kepala pertanda ia sangat kesulitan mengobatinya.
Tak lama kemudian muncul Nurdin, Ihsan, dan Gumanta.
Gudam hampir menangis melihat mereka.
"Mak..."
Ia mengulurkan tangan ke permukaan air.
Namun bayangan itu tidak bisa disentuh.
"Kau ingat saat tersedot masuk ke alam ini?" tanya
orang tua itu.
Gudam mengangguk.
"Yang tersedot sebenarnya bukan tubuh kasarmu."
Gudam menoleh.
"Melainkan tubuh halusmu."
Gudam membelalakkan mata.
"Sementara tubuh aslimu masih berada di dunia manusia."
Gudam kembali melihat ke dalam gentong.
Jadi dirinya masih hidup.
"Tubuhku masih bernafas, Datuk?"
Orang tua itu tertawa kecil.
"Tentu saja."
Gudam menghembuskan nafas lega.
"Tenanglah, Angku Mudo, Kau belum mati,
Saat ini kau berada di alam tingkat ketiga yang di dunia mu di sebut juga dengan alam jin".
Malam pun mulai datang ...
Ditengah cerita kakek itu Gudam terlihat sedang asyik
memperhatikan ornamen - ornamen tua dan kuno bergelantungan di dinding ruangan.
Sebuah lukisan kuno yang di pajang di tengah ruangan menjadi pusat perhatian
gudam. Lukisan itu menampilkan sebuah Medan perang dan terlihat seorang Datuk
yang terlihat gagah perkasa sedang bertarung sambil menunggangi seekor harimau
putih bermata biru. Hati gudam bergetar melihat sosok harimau itu karena ia
merasa pernah melihat harimau itu dalam mimpinya.
Setelah makan malam sederhana orang tua itu mulai
melanjutkan cerita yang selama ini hanya menjadi misteri.
Tentang Dewang Sanggo Hitam.
Tentang Dubalang Rambuik Api.
Tentang perang besar yang terjadi ratusan tahun silam.
Gudam mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Dahulu, kakek buyutmu Datuk Panduko Alam adalah
pemimpin pasukan dua alam."
Gudam langsung terkejut.
"Datuk Panduko Alam?" Sambil melirik kearah
lukisan di dinding.
Orang tua itu mengangguk.
" Sejatinya beliau memang manusia biasa namun ia
memperoleh kekuatan dari Datuk Si Rajo Dewa, Raja kami bangsa Jin Putih."
" Kenapa manusia harus ikut campur urusan para makhluk
gaib ? " . Tanya Gudam
Kakek tua tersenyum
" Kau lihat bendera tiga warna itu ?
" Tentu saja Datuk, bukankah itu Marawa , bendera
kebesaran bangsa Minangkabau". Jawab gudam
" Marawa itu mewakili tiga alam , hitam adalah alam
manusia, kuning alam kami para jin putih , dan merah alam jin hitam atau alam
iblis ".
Gudam melongo takjub mendengar kisah kakek tua berjubah biru
itu.
" Dan itu jualah sebab nya Minangkabau ini disebut
sebagai alam Minangkabau bukan tanah Minangkabau".
Gudam makin terpelongo.
" Dahulu kala , ketiga alam itu tunduk dan takluk pada
seorang raja yang berdaulat, Rajo usali yang bertuah, bukan Raja yang di mintak
bukan pula raja yang dibeli, orang - orang menyebutnya orang kiramaik hiduik -
hiduik , jika disebut lidah kelu , jika di tentang mata buta , memegang tataran
saga jantan, memiliki keris kesaktian si Medang giri , tombak perisai Jangguik
Jonggi, mahkota ulak Tanjuang Bungo, tampuk tangkai alam Minangkabau" .
Mata Gudam bercahaya Karena saking takjub nya.
" Siapakah nama raja yang perkasa itu Datuk ? "
" Beliau adalah Maharajo dirajo tigo alam
yang bernama Dang Tuanku ".
Mata Gudam berbinar
" Dang Tuanku? " .
" Benar, namun sayang nya saat beliau dan ibunya Bundo
kanduang dikabarkan mi'raj ke langit, kerajaan kemudian diserahkan kepada
Tuanku Rajo Mudo Cindua Mato".
" Di masa kepemimpinan Cindua Mato keseimbangan tiga
alam mulai goyah namun karena keperkasaan beliau segala pemberontakan para
jin dari alam merah yang dibantu oleh manusia - manusia yang serakah
bisa dikendalikan, tetapi naas nya setelah beliau wafat kerajaan dipimpin oleh
raja - raja yang lemah dan haus kekuasaan sehingga keseimbangan tiga alam mulai
goyah dan hancur berantakan ".
" Perang tiga alam itu merembes sampai ke
nagari - nagari termasuk juga di nagari kita ini, pemberontakan dipimpin oleh
iblis sesat yang bernama Dewang Sanggo hitam ".
Malam semakin larut.
Namun Gudam sama sekali tidak merasa mengantuk.
Ia larut dalam kisah itu. Mungkin karena gudam yang memang
hobi dengan anime dan komik maka cerita ini terasa sangat menarik baginya.
Perang besar selama tujuh tahun.
Pertarungan dahsyat melawan Dewang Sanggo Hitam.
Korban yang berjatuhan.
Pengkhianatan.
Dan perjanjian yang akhirnya dilanggar.
Ketika Datuk Panduko Alam meninggal dunia, semuanya mulai
berubah.
Dewang Sanggo Hitam mulai memburu kami seluruh Jin Putih
yang dianggap berkhianat.
Kami akhirnya hidup berpindah-pindah.
Bersembunyi selama ratusan tahun Menunggu ramalan Datuk
panduko alam itu terjadi.
"Lalu kenapa malah aku juga
ikut diburu?" tanya Gudam.
Orang tua itu menarik nafas panjang.
" Karena kau adalah bagian dari ramalan itu ".
Kemudian ia menceritakan sebuah wasiat kuno.
Wasiat yang disampaikan Datuk Panduko Alam sebelum rohnya
meninggalkan dunia.
" Delapan ratus tahun dari sekarang akan lahir seorang
anak laki-laki dari garis keturunanku, wajah dan sifatnya akan sangat mirip
denganku".
" Saat usianya genap tujuh belas tahun, seluruh kekuatanku
akan diwariskan kepadanya".
" Jika kelak kalian bertemu dengannya, sampaikan
salamku, Karena sejatinya dia adalah aku, Dan aku adalah dia".
Gudam merasakan bulu kuduknya berdiri.
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa semua kejadian aneh
yang dialaminya ternyata bukan kebetulan.
Sejak awal dirinya memang sudah menjadi bagian dari sebuah
takdir besar.
Dan Dewang Sanggo Hitam tentu saja tidak akan membiarkan
ramalan itu terwujud.
Malam semakin larut.
Gudam akhirnya berdiri.
"Datuk, aku ingin beristirahat."
Orang tua itu mengangguk.
" Istirahat lah , Besok latihanmu akan dimulai angku
Mudo ".
Gudam menatap langit malam dari jendela rumah panggung.
Bintang-bintang bersinar begitu terang.
Ia masih takut.
Masih bingung.
Namun kini hatinya jauh lebih tenang.
Karena untuk pertama kalinya, ia mulai mengetahui siapa
dirinya sebenarnya.
Tanpa disadarinya, di tempat lain, seseorang juga sedang
dipersiapkan untuk menjadi lawannya.
Dan roda takdir telah mulai berputar.
Bersambung ke Chapter
7: PERSEKUTUAN RAJA API