" RAJO API MUDO "

Sore itu, di sebuah ruangan latihan yang luas, suara hentakan kaki bergema silih berganti.
Seorang anak laki-laki sedang berlatih silat seorang diri.
Tubuhnya bergerak cepat.
Sesekali ia menerjang ke depan dengan pukulan lurus.
Lalu berputar sambil melepaskan tendangan samping.
Keringat membasahi wajah dan pakaiannya.
Anak itu adalah Garang.
Sudah dua tahun berturut-turut ia menjadi juara Festival Silek Nagari.
Dan tahun ini, ia tidak berniat menyerahkan gelar itu kepada siapa pun.
Apalagi setelah mendengar kabar bahwa Festival Silek akan dilaksanakan lebih cepat dari biasanya.
Hal itu membuatnya semakin giat berlatih.
Gerakan demi gerakan dimainkan dengan sempurna.
Pukulan.
Sikuan.
Tendangan.
Cakaran harimau.
Semua mengalir tanpa cela.
Setelah beberapa saat, Garang mengakhiri latihan dengan satu gerakan lentingan harimau.
Tubuhnya berputar di udara sebelum mendarat sempurna.
Kemudian ia duduk bersila.
Mengatur nafas.
Menenangkan pikirannya.
Tepat saat itulah sebuah suara terdengar dari arah pintu.
"Sangat hebat, Angku Mudo"
Garang membuka mata.
Di dekat pintu berdiri seorang lelaki tua berkemeja putih dan berkopiah merah.
Orang tua itu tersenyum sambil mengelus jenggot tipisnya.
"Langkah silek harimau mu semakin tajam. Aku yakin tahun ini kau akan menjadi juara lagi."
Garang tidak menjawab.
Ia sudah terbiasa mendengar pujian.
Orang tua itu adalah Pakiah Rajudin.
Pelatih pribadi yang disewa khusus oleh keluarga Garang.
Keluarga Garang berasal dari kalangan bangsawan di Kampung Pinang Baririk.
Bagi mereka, kemenangan dalam Festival Silek bukan sekadar perlombaan.
Melainkan harga diri keluarga.
Soal marwah.
Dan soal kebanggaan turun-temurun.
Pakiah Rajudin melangkah mendekat.
"Namun kekuatan fisik saja tidak cukup."
Garang menoleh.
"Apa maksud mu urang tuo ?"
"Kau ingin menjadi pendekar tanpa tanding, bukan?"
"Tentu."
"Kalau begitu kau harus mempelajari ilmu tenaga dalam."
Mata Garang langsung berbinar.
Sejak lama ia memang penasaran dengan ilmu itu.
Menurut cerita para pendekar tua, tenaga dalam mampu meningkatkan kekuatan fisik berkali-kali lipat.
Bahkan memungkinkan seseorang melakukan hal-hal yang mustahil dilakukan orang biasa.
"Tapi dimana aku bisa mempelajarinya?" tanya Garang.
Pakiah Rajudin tersenyum.
"Itulah sebabnya aku datang."
Garang terlihat semakin tertarik.
"Aku akan mengajarimu."
"Sungguh?"
"Tentu."
"Apakah aku bisa menjadi lebih kuat?"
Pakiah Rajudin tertawa kecil.
"Jauh lebih kuat."
Tanpa ragu sedikit pun, Garang mengangguk.
"Aku bersedia."
Senyum tipis muncul di wajah Pakiah Rajudin.
Senyum yang sulit diartikan.
"Bagus."
Ia kemudian mengangkat tangan kanannya.
"Kalau begitu kita mulai dari dasar."
Garang segera duduk bersila.
Pakiah Rajudin duduk di hadapannya.
"Tutup matamu."
Garang menuruti.
"Atur nafas."
"Tarik perlahan."
"Hembuskan."
"Rasakan panas yang tersembunyi di dalam tubuhmu."
Ruangan itu mendadak terasa lebih hangat.
Garang mengikuti semua petunjuk yang diberikan.
Tanpa disadarinya, sebuah jalan baru sedang dibuka.
Jalan yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Namun Garang tidak mengetahui satu hal penting.
Pakiah Rajudin bukanlah manusia biasa.
Orang tua itu sebenarnya adalah Dubalang Rambuik Api.
Makhluk gaib yang selama ini menjadi tangan kanan Dewang Sanggo Hitam.
Ia sengaja menyamar.
Ia sengaja mendekati keluarga Garang.
Dan ia sengaja menawarkan kekuatan.
Sebab sejak pertama melihat Garang, Dubalang Rambuik Api mengetahui sesuatu.
Anak itu memiliki bakat luar biasa.
Tubuhnya cocok menjadi wadah kekuatan yang jauh lebih besar.
Kekuatan milik gurunya.
Kekuatan milik Rajo Ampang Basi. Sekaligus Dewang Sanggo hitam
Selama bertahun-tahun mereka mencari calon yang tepat.
Dan kini mereka yakin telah menemukannya.
Garang adalah pilihan terbaik.
Karena itulah semua ini direncanakan sejak awal.
Sementara Garang mengira dirinya sedang dibimbing menuju kejayaan.
Padahal perlahan-lahan ia sedang ditarik ke dalam kegelapan.
**
Sementara itu, jauh di Teluk Tanah Dewa.
Gudam sedang tertidur setelah mengetahui rahasia besar tentang dirinya.
Ia belum tahu bahwa seorang calon musuh juga sedang dipersiapkan.
Musuh yang seusia dengannya.
Musuh yang memiliki ambisi besar.
Musuh yang perlahan sedang dibentuk oleh kekuatan api.
Di berbagai tempat, roda takdir mulai berputar.
Gudam ditempa oleh kekuatan cahaya.
Garang digiring menuju jalan api.
Dan Festival Silek Nagari semakin dekat.
Pertarungan besar yang telah diramalkan ratusan tahun lalu perlahan mulai mendekat.
**
Siang itu, di galanggang silek kampung pinang baririk, tempat dimana garang biasa berlatih silat.
Tempat itu seperti sebuah aula mewah dengan lantai keramik lengkap dengan matras dan ruangan ganti. Maklum karena galanggang silek adalah pemenang festival silek nagari selama tiga tahun berturut-turut. Tentu saja bukan hal yang susah untuk membangun sebuah ruang latihan yang mewah seperti itu.
Pandeka lamin , guru silek di gelanggang itu dikenal dengan seorang yang sangat sombong dan angkuh. Ia juga dikenal sangat kejam saat melatih murid - muridnya.
" Dengar!! , Bagaimana pun caranya Galanggang kita tahun ini harus jadi pemenang lagi , jangan sampai gelar juara berturut-turut itu sampai diambil oleh perguruan lain, kalian dengar?? Terutama kau , Garang !!! ".
Semua murid hanya diam dan garang yang berbaris di Barisan belakang tampak hanya diam dan mukanya sedikit merah karena ia memang tidak pernah suka dengan tabiat guru nya ini. Apalagi setelah ia mengetahui kalau diam - diam Pandeka Lamin sering melakukan hal tidak senonoh kepada murid - murid perempuan.
" Garang , kau dengar tidak ? Jangan merasa sombong mentang - mentang sudah juara tiga kali ya !! Ingat siapa yang melatihmu !! Dan siapa yang menyogok para juri itu sehingga kau bisa jadi pemenang? ". Ujar pandeka Lamin
Garang tampak sangat tersinggung dengan ucapan guru nya barusan. Namun ia masih tetap berusaha menjaga emosi.
" Kali ini tidak perlu main sogok lagi ,karena aku pasti menang Dengan kekuatan ku sendiri, sebagai mana selama ini " jawab garang dingin.
Pandeka Lamin tentu saja sangat marah dengan jawaban garang yang dingin itu karena merasa usaha nya tidak dihargai.
" Ohhh .begitu ? Kau merasa sudah besar kepala sekarang? Kalau begitu silahkan maju ke depan dan silahkan perlihatkan kemampuan mu di hadapan semua orang."
Garang mulai terpancing.
" Untuk apa ? ". Jawabnya datar
" Tentu saja untuk membuktikan mulut besar mu itu ? ".
" Kalau aku menang ? " Jawab garang
Wajah pandeka Lamin merah padam.
" Kalau kau menang aku akan mundur jadi guru disini ".
Ia berkata demikian karena sangat yakin garang tidak akan mampu mengalahkannya.
" Baik, pegang ucapanmu " kata garang .
" Baiklah , silahkan maju , murid somb... ".
" Brukkk !!! Trakkkk !! "
Belum sempat pandeka Lamin melanjutkan kata - kata nya tubuhnya sudah tergolek kaku dan kejang - kejang di lantai. Disampingnya garang terlihat tenang sambil tersenyum sinis.
" Mulai hari ini , kau tak usah lagi menampakkan diri di tempat ini , guru cabul ". Kata garang.
Pandeka lamin hanya bisa menggumam karena urat lidah dan pinggang nya telah dipatahkan oleh garang dalam dua kali serangan kilat. Setelah menarik nafas panjang ia menatap barisan para murid dan berteriak lantang.
" Hari ini perguruan ini menjadi milikku dan aku umumkan berdirinya Persekutuan Rajo Api , siapa yang ingin bergabung silahkan tetap disini dan siapa yang tidak ingin silahkan keluar!!! ".. tambahnya.
Para murid yang memang sejak lama tidak senang dengan pandeka Lamin sekarang merasa terwakili oleh garang dan tentu saja Mereka semua berpaling memihak kepada Garang yang baru saja memperlihatkan kekuatan barunya.
" Hidup angku mudo garang !!!! "
" HIDUP ANGKU MUDO GARANG!!! ".
Bersambung ke Chapter 8: KEMBALINYA SANG KESATRIA