Saat langkahku goyah di jalan yang redup,
Suara manusia bergema, sinis dan gelap.
Katanya aku tak cukup kuat,
Tak pantas mimpi setinggi langit yang kuangkat.
Mataku basah, dadaku sesak,
Harapan seolah mulai retak.
Namun dalam sunyi yang tak bertuan,
Allah hadir memberi harapan.
Bukan pujian dunia yang menguatkanku,
Tapi janji Tuhan yang tak pernah palsu.
Disaat mereka meragukan masa depanku,
Allah kirimkan amanah baru — penuh restu.
Ketika pintu ditutup manusia,
Allah bukakan gerbang yang lebih mulia.
Kupijak tangga karir dengan keyakinan,
Menjadi guru, bukan sekadar pekerjaan — tapi panggilan.
Kucatat setiap pelajaran hidup,
Bahwa hinaan manusia bukan akhir yang cukup.
Sebab di balik semua cemoohan dan cela,
Ada rencana indah yang Allah cipta.
Jadi biarlah mereka meragukan jalanku,
Selama Allah masih membimbingku.
Karena keyakinan tak lahir dari suara ramai,
Tapi dari doa yang hening — yang Allah aminkan tiap malam dan siang hari…