Gerimis jatuh perlahan di serambi pondok
membasuh tanah yang lama haus akan doa
Butirnya menitik di sela genting tua
seperti tasbih yang terurai dari langit
Aku duduk bersarung di atas lantai kayu pondokku
menatap langit abu-abu dengan hati yang biru
Di tangan, kitabku mulai lembab oleh embun
namun huruf-hurufnya tetap menyala dalam cahaya nan redup
Dari kejauhan, suara teman-teman lain mengaji
melantunkan ayat yang meneduhkan hati
Suara itu merambat di udara yang dingin malam ini
menemani sunyi di dada yang ingin pulang
Gerimis ini seperti pesan rahasia
bahwa rindu bisa menitis jadi air
Rindu pada ayah yang jauhhh di sana
rindu pada ibu yang menanak dalam doa setiap paginya
Namun di pondok ini aku belajar
bahwa hujan pun punya makna sabar
Bahwa ilmu butuh waktu tumbuh
seperti padi di sawah yang menunggu terang
Gerimis kian rapat di serambi pondok
dan aku menunduk di atas sajadah basah
Di antara ayat dan tetes air mata
aku temukan rumah di balik tembok
tapi di dalam hati yang berserah kepada-Nya...