Tak ada kabut di seberang pasar Talu
Tak ada murung yang turun rendah
Lelangkah kukuh
Berjalan lambat
Tiba di pertigaan hujan turun mengambil ruang dengan deras yang acuh
Ada lelaki dewasa dengan tubuh kuyup memegang tadah dan gelas, "seduhkanlah untukku kopi. Ini Sinuruik, bukan?" pintanya kepada angin buruk yang berputar tiga kali sebelum melemparkan diri ke kerumunan pepohonan di bukit - bukit
Ada banyak kabut di Sinuruik
Mereka menuruni bukit - bukit di ujung - ujung persawahan
Mereka meniti pematang dan meloncati kolam - kolam
Mereka memeluk rindu yang dinyanyikan serombongan pemain akustik di sebuah cafe
Seorang lelaki dewasa dengan tubuh kuyup melalui pintu dan menyodorkan gelas dan tadah
"Seduhkanlah untukku hujan yang paling deras yang belum pernah dilihat oleh para Nabi," pintanya kepada seorang pelayan yang baru saja menghalau seekor kucing pasar yang lari melewati rombongan akustik band tepat ketika sebuah lagu Minang kontemporer memasuki bagian refrain
Hujan, hujan yang apakah kelak bermetamorfosis menjadi kabut - kabut pekat kemudian memeluk tumpukan buku cerita yang terpajang bisu di sebuah cafe lain yang ketika sedang riang memutar lagu pop Indonesia terbaru, serombongan musafir dengan tubuh basah meminta segera diseduhkan kopi
Setiap orang membawa gelas kosong dan tadah bening
"Apakah benar katanya, jika belum meminum kopi, tidaklah dapat disebut telah singgah di Sinuruik?" tanya seorang lelaki paling dewasa di antara mereka kepada malam yang merambat turun dengan pelan dan lambat
"Siapa gerangan nama Perempuan masa silam yang lahir di Koto Panjang dan menulis roman "Kalau Tak Untung" itu, Das?"
"Apakah ia minum kopi Sinuruik sepanjang hidupnya, Das?"
Sinuruik, 10 Juni 2024