Kami adalah diri yang banyak tak bisa bersatu dalam pendapat
namun sepakat untuk menjadikan makan sebagai kebutuhan inti
segala pokok hidup
Pertengkaran sesama kami terjadi di dalam kepala
yang merupakan sumber ketololan dan kebodohan
sekaligus pula rumah kecerdasan dan kepintaran
sehingga kelindannya yang rumit menampilkan fatamorgana
hidup
yang tiba kala sebagaimana sifatnya
menumbuhkan harapan di atas tubuh harapan lainnya
dan apabila ia tumbuh besar pada ranting dan cabang
muncul moral dan nilai karangan sendiri
yang dipergunakan sebagai senjata penikam atau tuba diri
bagi kepala
gelanggang kami bersilang kata dan raga
Tetapi kami sepakat soal makan harus dilakukan di luar
kepala.
Ia mestinya menjadi urusan Kepala Kota
yang pengangkatannya merupakan hasil pertengkaran kami, buah
fatamorgana; harapan.
Harapan yang telah menjadi pohon besar
di atas harapan lain yang terbunuh dan dikubur di gelung
akarnya.
Hari ini dan esok, selagi kami bertengkar terus,
kota ini sepakat meminta kami menanak batu.
Kepala kota akan setia menungguinya di dekat perapian
sembari mengedarkan perintah penuh nilai yang lembut:
Teruslah bertengkar dan bertempur tak berkesudahan di dalam
kepala.
Kami di luar menjaga batu masak hingga beberapa periode lagi.
Simpang Empat, 19 Mei 2022