Kota ini telah membuat kami menanak batu

09 Februari 2025 Denni Meilizon

                                         

Kami adalah diri yang banyak tak bisa bersatu dalam pendapat

namun sepakat untuk menjadikan makan sebagai kebutuhan inti segala pokok hidup

 

Pertengkaran sesama kami terjadi di dalam kepala

yang merupakan sumber ketololan dan kebodohan

sekaligus pula rumah kecerdasan dan kepintaran

sehingga kelindannya yang rumit menampilkan fatamorgana hidup

yang tiba kala sebagaimana sifatnya

menumbuhkan harapan di atas tubuh harapan lainnya

dan apabila ia tumbuh besar pada ranting dan cabang

muncul moral dan nilai karangan sendiri

yang dipergunakan sebagai senjata penikam atau tuba diri bagi kepala

gelanggang kami bersilang kata dan raga

 

Tetapi kami sepakat soal makan harus dilakukan di luar kepala.

Ia mestinya menjadi urusan Kepala Kota

yang pengangkatannya merupakan hasil pertengkaran kami, buah fatamorgana; harapan.

Harapan yang telah menjadi pohon besar

di atas harapan lain yang terbunuh dan dikubur di gelung akarnya.

 

Hari ini dan esok, selagi kami bertengkar terus,

kota ini sepakat meminta kami menanak batu.

Kepala kota akan setia menungguinya di dekat perapian

sembari mengedarkan perintah penuh nilai yang lembut:

Teruslah bertengkar dan bertempur tak berkesudahan di dalam kepala.

Kami di luar menjaga batu masak hingga beberapa periode lagi.

 

Simpang Empat, 19 Mei 2022


Puisi Populer