Ratap Ibu

Last Update 09 Januari 2024 Sariamin Selasih Selaguri

Anakku tuan remaja putri, Buah hati cahaya mata; Hari raya besar ini, Mengapa tuan tak bangun jua.

Bangun tuan, bangun nak kandung, Bangun nak sayang, muda rupawan; Sampai hati anakku tuan, Membiarkan bunda duduk berkabung.

Lihatlah nasi telah terhidang, Pakailah kain berlipat-lipat;

Tuan penanti jamu yang datang, Akan menjelang kaum kerabat.

 

Bunyi tabuh menggegar bumi, Bunyi petasan gegap gempita; Penuh sesak di jalan raya, Segala umat bersuka hati.

 

Parau suara kering rangkungan, Memanggil tuan emas juita; Mengapa tidak tuan dengarkan, Suka melihat ibu berduka.


Tersirap darah gemetar tulang, Melihat gadis duduk bersenda; Wajah tuan sedikit tak hilang, Serasa anakku duduk beserta.


Aduhai gadis anakku sayang, Masih teringat, terbayang-bayang, Di hari raya tahun dahulu, 

Tuan duduk di hadapan ibu.


Bunda selalu dengar-dengaran, Sebagai mendengar suara tuan; Perangai menjadi bayangan mata, Peninggalan seakan racun yang bisa.


Anakku, kekasih ibu, Buah hati junjungan ulu;

Lengang rasanya kampung negara, Sunyi senyap di hari raya,

Bunda sebagai hidup sendiri, Selama tuan tak ada lagi.


Tidak berguna sawah dan bendar, Emas intan tidak berharga;


Rumah besar rasa terbakar, Untuk siapa kekuatan bunda. Aduh kekasih, aduh nak sayang, Dimana tuan terbaring seorang; Bawalah ibu slama berjalan, Mengapa bunda tuan tinggalkan?

 



Puisi Populer