Di subuh hari yang masih basah embun,
ketika kabut menari di atas pematang sawah,
aku bentangkan sajadah — bukan sekadar kain,
tapi hamparan rindu antara hamba dan Tuhannya.
Suara adzan dari surau kecil di lembah,
menembus hati lebih dalam dari dingin udara.
Setiap lafaznya adalah panggilan,
agar hati kembali pulang dari lalai dunia.
Kitab kuning di hadapanku terbuka perlahan,
tulisan arab gundul menari di atas kertas usang.
Guruku berkata,
“Ilmu bukan hanya dibaca, tapi diresapkan ke dalam amal.”
Dan aku tahu, setiap huruf di situ adalah cahaya,
setiap maknanya pelita yang menuntun langkahku.
Di antara aroma kopi dan desir angin dari gunung Talamau,
aku belajar mengenal arti sabar dan tawakal.
Bahwa hidup bukan sekadar ingin menjadi pintar,
tetapi menjadi hamba yang mengerti arah sujudnya.
Sajadahku menyimpan air mata malam,
Kitab kuningku menyimpan jejak tinta perjuangan.
Dua sahabat setia yang menemaniku di jalan sunyi,
di antara rindu kepada orang tua,
dan cinta yang tumbuh karena Allah semata.
Subuh perlahan menyingkap wajah pagi,
aku menutup kitab dengan doa di dada:
Ya Allah, jadikan ilmu ini cahaya,
jadikan sajadah ini saksi,
bahwa aku pernah berjuang mencari-Mu
di pondok kecil,
dengan hati yang sederhana,
dan harapan sebesar surga.......