Beta seorang budak yang kecil Tinggal di dusun, tempat terpencil Belum pandai berjalan s(e)orang Sayap tak ada penyongsong sawang.
Termenung beta di tepi jalan Di rimba raya, di tempat sunyi,
Hidup tak pernah dapat pimpinan Lorong yang mana ‘kan dituruti.
Terkenang nasib, sadarkan untung,
Di seloka dunia terkatung-katung
Jalan tak tampak, jalan tak kuat
Tak tentu apa akan dibuat.
Terdengar suara, jauh di sana
Di tempat dewa bercengkrama
“Mari dik kandung turutkan beta,
Beta berjalan menuju cahaya”.
Tegap, teguh saudara beta
Panjang langkah,
cepat jalannya Cukup senjata,
banyak pengiring Takut beta akan seiring.
Panggilan sangat menarik hati,
Memberi kekuatan, menerbitkan berani,
Kucari jalan di kelam kabut,
Berjanji beta akan menurut.
Terima kasih pada saudara
Yang telah berseru memanggil beta
Berkat Ilahi Tuhan yang satu
Sampai ke tempat yang kita tuju.
Diharap berhasil segala usaha
Sepakat, sekumpul para pujangga
Seikat, serumpun, sebagai serai
Tidaklah lagi bercerai-berai
Terbela bangsa, berseri bahasa
Dapatlah segala yang dicita-cita
Hilanglah gelap timbul cahaya Berbahagia seluruh Indonesia
(PB, No. 1 Juli1993 Th. 1)