
GerakBudaya_Di
tengah bentangan alam Nagari Sungai Janiah, Kecamatan Talamau, Kabupaten
Pasaman Barat, mengalir sebuah tradisi yang tidak hanya menjadi kebiasaan,
tetapi juga identitas. Tradisi itu adalah Mangalah Batang Aie, sebuah warisan budaya yang tumbuh, hidup, dan
dijaga oleh masyarakat secara turun-temurun.
Lebih
dari sekadar tradisi, Mangalah Batang Aie merupakan warisan budaya dari Datuak Sati Sungai Janiah, yang hingga kini
tetap dijunjung tinggi oleh cucu kemenakan dan seluruh masyarakat Nagari Sungai
Janiah. Nilai-nilai yang diwariskan tidak hanya tentang cara memanfaatkan alam,
tetapi juga tentang tata kehidupan, kebersamaan, serta penghormatan terhadap
adat.
Jejak
Warisan Datuak Sati dalam Setiap Aliran
Sebagai
pemangku adat, Datuak Sati memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan
tradisi ini. Mangalah bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan bagian dari
sistem nilai adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Setiap pelaksanaan mangalah selalu berada dalam pengawasan dan izin Datuak Sati, sebagai simbol bahwa tradisi ini tidak terlepas dari akar budaya dan struktur adat yang kuat. Dengan demikian, Mangalah Batang Aie menjadi representasi nyata dari kearifan lokal Nagari Sungai Janiah di Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat.

Makna
Filosofis di Balik Mangalah
Secara
etimologis, mangalah berarti “mengalihkan” yakni mengalihkan aliran
sungai hingga menjadi kering (alahan), sehingga ikan dapat ditangkap
bersama-sama.
Namun
di balik proses itu, tersimpan makna mendalam tentang kebersamaan dalam
bekerja, tentang kesabaran dalam menunggu hasil, serta tentang harmoni antara
manusia dan alam.
Ritual Tahunan Penuh Syukur dan Kebersamaan
Mangalah
Batang Aie dilaksanakan satu kali dalam setahun, biasanya setelah Hari Raya
Idul Fitri. Momentum ini menjadi ajang silaturahmi besar masyarakat sekaligus
wujud rasa syukur atas rezeki yang diberikan.
Kegiatan
dipusatkan di dua aliran sungai utama Batang Aie Kughok dan Batang Aie Lughan, dua
titik penting yang menjadi ruang hidup bagi tradisi ini.
Musyawarah
Adat dan Gotong Royong
Sebelum
pelaksanaan, masyarakat menggelar musyawarah yang melibatkan niniak mamak,
pemuda, dan warga. Dalam forum ini ditentukan waktu, lokasi, hingga pembagian
tugas.
Hari
Ahad biasanya dipilih agar seluruh masyarakat dapat ikut serta. Tradisi ini
menegaskan bahwa mangalah bukan milik individu, tetapi milik bersama.
Sejak
pagi hari, masyarakat mulai bekerja. Proses maompang alahan dilakukan
dengan membuat bendungan sementara menggunakan batu, tanah, dan bahan alami
lainnya.
Kegiatan
ini memperlihatkan kekuatan gotong royong di mana semua orang bekerja tanpa
pamrih, demi keberhasilan bersama.
Teknik
Tradisional dan Larangan yang Dijaga Adat
Penangkapan
ikan dilakukan dengan alat tradisional seperti lukah, tangguak, takalak,
piontak, hingga mandehe (menangkap dengan tangan).
Pada
hari berikutnya, digunakan metode manubo dengan bahan alami seperti tubo
urek. Penggunaan bahan kimia dilarang keras karena merusak lingkungan dan
melanggar adat.
Di
sinilah terlihat bahwa Mangalah Batang Aie bukan hanya warisan budaya, tetapi
juga warisan etika dalam menjaga alam.

Kebersamaan
yang Terhidang dalam Tradisi
Hasil
tangkapan sebagian diolah langsung menjadi hidangan tradisional seperti punju
lauk sumantan dan lomang lauk. Makan bersama menjadi momen yang
paling dinanti penuh kehangatan dan cerita.
Sebagian
hasil lainnya dibawa pulang atau bahkan dikirim ke sanak saudara di rantau,
sebagai simbol ikatan yang tak terputus.
Ruang Sosial Tanpa Batas
Mangalah
menyatukan semua lapisan masyarakat. Tidak ada sekat usia, gender, maupun
status sosial.
Perempuan
berperan dalam penyediaan konsumsi, pemuda menjadi penggerak utama di lapangan,
dan anak-anak belajar langsung dari pengalaman.
Nilai-nilai
yang ditanamkan meliputi:
Potensi Besar sebagai Wisata Budaya
Sebagai
warisan budaya Datuak Sati Sungai Janiah, Mangalah Batang Aie memiliki potensi
besar untuk dikembangkan sebagai wisata budaya berbasis masyarakat.
Upaya
mulai dilakukan untuk menjadikannya sebagai pesta rakyat tahunan yang lebih
terorganisir, tanpa menghilangkan nilai-nilai adat yang menjadi ruh utama
tradisi ini.
Di
tengah upaya pelestarian, terdapat sejumlah tantangan:
Namun
demikian, semangat masyarakat Nagari Sungai Janiah tidak surut. Melalui dokumentasi,
pelibatan generasi muda dan pemanfaatan media digital, tradisi ini terus dijaga
agar tetap hidup.
Identitas yang Tak Pernah Kering
Mangalah
Batang Aie adalah lebih dari sekadar tradisi. Ia adalah identitas, warisan, dan
kebanggaan.
Sebagai
warisan budaya Datuak Sati Sungai
Janiah di Nagari Sungai Janiah, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat,
tradisi ini akan terus mengalir, seperti sungai yang menjadi sumber
kehidupannya.
Selama nilai-nilai adat masih dijunjung tinggi, selama kebersamaan masih dirawat, maka Mangalah Batang Aie akan tetap hidup menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.(DS)
Sumber : Rois Zulhadi, M.Pd