
GerakLiterasi_Upaya menghidupkan kembali warisan sastra
Minangkabau terus dilakukan oleh berbagai komunitas literasi. Salah satunya
datang dari Arbi Tanjung melalui
komunitas Suduik Tando, yang menginisiasi
program bertajuk “Membaca Selasih”.
Sebuah gerakan literasi yang bertujuan mengenang dan mengangkat kembali jejak
pemikiran serta karya Sariamin Ismail,
novelis perempuan pertama Indonesia.
Program ini tidak hanya berhenti pada diskusi
dan pembacaan karya, tetapi juga diwujudkan melalui perjalanan literasi yang
menyentuh langsung ruang-ruang sejarah. Dalam rangkaian kegiatannya, Arbi
Tanjung bersama rekan-rekan dari komunitas Sengali melakukan kunjungan ke Nagari Sinuruik, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat,
yang menjadi salah satu titik penting dalam penelusuran jejak Selasih.
Kedatangan rombongan disambut hangat oleh TBM Terusbergerak, yang turut mendampingi seluruh
rangkaian kegiatan. Kehadiran TBM ini tidak hanya sebagai tuan rumah, tetapi
juga sebagai mitra literasi yang aktif menghubungkan generasi muda dengan akar
sejarah dan budaya mereka.
Salah satu agenda utama dalam kunjungan ini
adalah mengunjungi rumah kelahiran Selasih di Selaguri.
Di tempat yang sarat nilai historis tersebut, peserta diajak untuk mengenal
lebih dekat sosok Sariamin Ismail—seorang perempuan Minangkabau yang memilih
jalan literasi sebagai medan perjuangannya. Kisah hidup, semangat, serta
pandangan beliau tentang perempuan dan pendidikan menjadi refleksi penting bagi
generasi masa kini.
Tidak berhenti di sana, rombongan juga
menyempatkan diri berkunjung ke kincia aia Batang Sinuruik,
salah satu ikon kearifan lokal masyarakat. Kunjungan ini menjadi pelengkap
perjalanan, menghadirkan perpaduan antara literasi dan lanskap budaya yang
hidup di tengah masyarakat. Kincia aia, yang selama ini menjadi simbol
keberlanjutan dan kehidupan masyarakat agraris, turut memberi makna bahwa
tradisi dan literasi dapat berjalan beriringan.
TBM Terusbergerak berharap bahwa program “Membaca Selasih” ini dapat menjadi bukti nyata bahwa literasi tidak hanya hidup di ruang kelas atau dalam lembaran buku, tetapi juga tumbuh dari perjalanan, perjumpaan, serta penghargaan terhadap sejarah. Kegiatan yang diinisiasi oleh komunitas Suduik Tando bersama berbagai pihak yang terlibat ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam merawat ingatan kolektif, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus bergerak dan berkontribusi di jalan literasi.(DS)