Kabar tentang kesembuhan Gudam dengan cepat langsung menyebar ke seluruh penjuru dusun Taratak Bungo.
Gumanta, Nurdin dan ihsan tentu saja sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Pagi itu mereka segera berkunjung ke rumah gudam untuk menjambangi sahabat karib mereka itu. Setelah mengatur janji ketemu mereka berangkat menuju Rumah Gudam dan aat mereka tiba terlihat gudam sedang duduk santai di serambi depan sambil asyik membolak balik album foto kuno yang baru saja ia ambil dari rak kayu di ruang tamu.
" Woiii , lah sadar waang Yo !! "
Gumanta menepuk - nepuk bahu gudam dan di iringi oleh pelukan Nurdin dan Ihsan dan mereka sejenak melepaskan kerinduan.
" Pandeka Sahar sangat mencemaskan kondisimu , Dam ".
Nurdin mulai membuka obrolan serius
" Aku tau beliau pasti ikut khawatir ". Balas Gudam
Gudam merahasiakan semua pengalaman gaib yang ia alami agar tidak membuat orang - orang disekitarnya sesuai dengan pesan Datuk Tanpa Nama dari Teluk Tanah Dewa.
Tidak lama kemudian gadih Ranti datang membawa minuman, mereka berempat melanjutkan berbincang - bincang hingga menjelang siang.
" Pandeka Sahar juga berpesan jika kau sudah sembuh kau harus segera menemui beliau ". Sambung Ihsan
" Oke ,sebentar lagi kita ke galanggang !! ". jawab gudam
*
Di sebuah ruangan yang cukup luas di dalam markas persekutuan Raja Api ..
Garang duduk bersila di kelilingi sembilan batang lilin yang disusun rapi menyerupai bentuk bintang segi enam. Di hadapannya sebuah kitab kuno terkembang. Di halaman kitab tampak lukisan seorang pandeka yang sedang mendorongkan kedua telapak tangan ke depan dan dari kedua telapak tangan itu memancar semburan api. Diatas gambar tersebut terdapat tulisan aksara kuno yang berbunyi
Langkah kesatu " Rajo Api manyerak bala " lengkap dengan mantra dan tata cara nya
Sesaat setelah mantra itu selesai di rapal Garang tiba - tiba serangkum angin panas berhembus di ruangan luas itu. Api lilin itu bergoyang - goyang keras namun tak ada satu pun yang padam. Tubuhnya bergetar hebat dan tiba-tiba dua daun telinga nya mendengar suara tawa yang menggelegar dan bergema di seluruh ruangan.
" Hahaha , bagus sekali Angku Mudo !!! ".
Garang tercekat dan merasa sedikit takut
" Jangan takut, akulah Rajo ampang basi yang diceritakan gurumu pakiah Rajudin , mulai malam ini kau juga akan menjadi muridku !! bersiaplah menjadi kesatria tanpa tanding !! ".
" Terimakasih, guru " garang menarik nafas lega dan segera menjura hormat
" Malam ini kau telah membuka gerbang pertama dan telah berhasil menguasai langkah pertama dari sembilan langkah Rajo Api yang bernama Rajo Api menyerak bala ".
" Pusatkan energi mu pada pusar dan alirkan pada kedua telapak tangan dan kemudian dorong dengan keras kedepan" .
Garang mengikuti perintah gaib itu dan tiba - tiba dari kedua telapak tangan nya keluar dua larik nyala api menyerupai tombak yang siap melumat siapa saja yang ada dihadapannya. Garang merasa sangat senang dan segera mengaturkan hormat kembali pada suara tak berwujud itu.
" Ingat Angku Mudo, setidaknya tiga jurus harus berhasil kau kuasai hingga malam puncak festival silek nagari, sebagai kabar baik malam itu aku dan sahabat lama ku akan datang untuk ikut bersenang-senang bersamamu " .
Garang mendengar dengan hikmat.
" Ingat, sahabat ku itu adalah makhluk yang sangat - sangat kuat, jika nanti dia senang pada mu maka tidak tertutup kemungkinan kau akan diambil menjadi wadah untuk menyimpan seluruh kekuatan nya, apakah kau tidak tergiur angku Mudo ? ".
" Tentu saja aku mau guru ". Jawab garang.
" Bagus , silahkan lanjutkan latihanmu dan jangan pernah kecewakan dia " .
Suara itu hilang dan suasana mendadak menjadi sunyi kembali.
*
Siang itu di rumah Pandeka Sahar
" Bagaimana keadaanmu, Gudam? "
Pandeka Sahar membuka percakapan saat keempat murid terdekat nya itu datang.
" Alhamdulillah saat ini saya baik-baik saja, pandeka " jawab gudam hormat
Pandeka sahar menarik nafas lega, Namun Pandeka sahar dapat merasakan ada yang berbeda dengan diri gudam. Tapi saat ini ia memilih sengaja untuk tidak membahas hal tersebut karena baginya kesembuhan Gudam sudah merupakan hal yang sangat membahagiakan.
" Aku mendengar akhir - akhir ini ada desas desus yang mencurigakan dari kampung pinang baririk " .
Pandeka Sahar mengalihkan pembicaraan
" Mencurigakan bagaimana, pandeka ? ".
Gumanta bertanya
" Beberapa hari yang lalu aku mendengar kalau Pandeka Lamin jatuh sakit , kabarnya ia terkena stroke mendadak saat sedang melatih silek , padahal menurut keluarga nya ia tidak memiliki riwayat penyakit itu sebelumnya, ditambah lagi anak bernama Garang itu langsung dinobatkan menjadi guru pengganti dan mengubah nama perguruan itu menjadi persekutuan Rajo Api".
" Benar sekali Pandeka, dan kabarnya saat ini sudah banyak pemuda - pemuda nakal yang bergabung menjadi anggota " timpal Ihsan
Pandeka Sahar hanya mengangguk
" Aku juga merasakan akhir - akhir ini ada semacam energi hitam yang bermunculan di kampung pinang baririk ". Lanjut pandeka sahar
" Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan Pandeka? " Tanya Gudam
" Kalian aku beri tugas untuk menyelidiki situasi disana, apa kalian siap? ". Ujar pandeka sahar
" Kami siap pandeka !!!" Jawab mereka serentak
Keesokan harinya ...
" Hahaha bagus Angku Mudo, memang ternyata engkau adalah pemuda yang sangat berbakat, dalam dua malam saja kau mampu menguasai dua jurus dari sembilan langkah Rajo Api, malam ini jurus kedua yang bernama Rajo api maneba wabah berhasil engkau kuasai '.
" Saat kau mengibaskan kedua tangan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi maka serangkum hawa hitam beracun akan berhembus dari kedua tangan mu ".
" Terimakasih guru, " ucap garang sambil menjura hormat
Tanpa ia sadari kegelapan telah mulai menyelimuti dirinya. Ambisi dan sifat nya yang sangat angkuh membuat ilmu - ilmu sesat sangat itu mudah sekali melekat ditubuhnya.
" Mulai saat ini tugasku adalah menjadikan dirimu calon penguasa tunggal negeri ini Angku Mudo ".
" Pada malam puncak Festival silek nagari kita akan porak- poranda kan negeri ini dan kita permalukan Sutan Permata Putih di hadapan para bangsawan dan Raja - Raja dari negeri lain , bagaimana pendapatmu angku Mudo ? "
" Itu pasti menyenangkan guru, Saya siap untuk menjalankan perintah."
"Sret!!" Garang melihat kearah jendela
" Angku Mudo!!!! , Sepertinya ada beberapa tikus yang mencuri dengar pembicaraan kita " .
Garang yang juga sudah mendengar satu kejanggalan segera mengejar kearah tiga buah bayangan yang melesat menjauh dengan cepat.
" TUNGGU!!!! " Garang terus berkelebat mengejar ke arah penyusup itu lari.
Sesampai di lua ia melihat tiga orang yang berlari cepat, Angku Mudo garang kerahkan ilmu peringan tubuh tingkat tinggi untuk meringkus ketiga penyusup itu namun saat hampir saja ia mendekati penyusup itu tiba-tiba selarik angin dingin berhembus dan membuat gerakan nya sedikit terhenti. Saat ia hendak bergerak kembali ternyata para penyusup itu sudah menghilang dalam kegelapan malam dan akhirnya ia gagal mengejar penyusup itu.
Garang sangat marah dan berteriak lantang.
" Awas saja !! Jika kelak kutemukan siapa kalian !! Akan ku mencabik - cabik tubuh pengecut kalian itu !! ".
Setelah mengatur nafas sejenak dan berniat untuk kembali ke aula matanya terhenti saat melihat sesuatu yang berkilauan di tanah. Setelah ia dekati ternyata yang ia lihat itu adalah butiran - butiran salju.
CHAPTER BERIKUTNYA " DATUK HARIMAU SALJU '