KESATRIA DUA DIMENSI (Bagian : 9 " KEMBALINYA SANG KESATRIA")

14 September 2026 Roland Mangkuto Sutan 22
Bagikan :



Malam itu di Rumah Gudam ..
Tubuh yang yang terkapar lemah di atas dipan kayu itu terkadang mengeluarkan keringat seperti kepanasan dan terkadang menggigil seperti sedang kedinginan. Air remasan daun herbal yang diberikan inyiak Sago dukun kampung itu selalu disapukan ke tubuhnya. Sudah hampir dua hari bocah itu tak sadarkan diri. Menurut bidan desa, ia terkena demam panas tinggi sehingga mengigau. Menurut inyiak Sago Gudam " Tasapo" (demam karena diganggu makhluk halus) dan saat ini sedang berada ditempat yang jauh dan tidak ada upaya yang bisa dilakukan selain menunggu ia kembali dengan sendirinya.

Ibunya merawat tubuh lemah itu siang dan malam dengan wajah yang terlihat sangat sedih dan dipenuhi merasa bersalah  telah membawa Gudam masuk ke dalam Rumah Gadang Datuak Panduko Alam.


Ayah gudam yang sangat mengerti dengan kesedihan itu hanya bisa menghiburnya dengan lembut. Meski saat itu ia sendiri juga merasakan kegundahan yang sama.

"Sudahlah, jangan terlalu sedih, mak. Kita diakan saja semoga anak kita Gudam segera  sadar ". ujarnya pelan

Inyiak juga terlihat sangat panik semenjak kejadian itu bahkan ia  menyarankan agar saat Gudam sadar mereka segera kembali ke Jakarta.
Singkat nya keluarga itu dipenuhi duka yang mendalam sejak kejadian itu


Di sebuah lapangan luas berpasir putih yang dikelilingi hamparan bukit - bukit batu dua orang tampak sedang serius berlatih silek. Gerakan mereka sangat cepat dan lincah sehingga sekilas hanya menyerupai lintasan bayangan. Sesekali tubuh mereka melesat ke udara sambil terus menyerang di atas ketinggian lebih kurang enam meter.

Mereka adalah kakek tua berjubah biru dan seorang bocah berpakaian hitam yang tak lain adalah Gudam. Latihan keras selama  beberapa hari terakhir membuat kekuatan lahir dan batin pemuda itu meningkat pesat dalam hitungan hari.

Di sela latihan berat itu Gudam terlihat mendorong kedua telapak tangan kedepan dan selarik angin dingin menderu deras menyerang kearah kakek berjubah biru. Orang tua itu menukik turun sebelum angin dingin menghantam telak tubuhnya dan sambil bersalto sempurna ia mendara di hamparan pasir tepat di hadapan Gudam yang berdiri dengan nafas sedikit tersengal.

" Angku Mudo, sepertinya sudah latihan mu sudah cukup !! ".

Gudam  menunduk dan mengambil posisi menjura hormat.

"Terima kasih untuk latihan hari ini, Datuk!"

Mereka berjalan menuju rumah panggung kediaman sang kakek. Setelah mandi dan beristirahat sejenak mereka mengobrol di serambi depan. Sambil menikmati kopi dan singkong rebus.

" Angku Mudo, seingatmu sudah berapa lama kau berada disini dan apa yang saat ini kau fikirkan?"

kakek berjubah biru menatap wajah bocah yang sudah dua minggu digembleng nya. Ada perasaan aneh yang dirasakan lelaki tua itu karena sejak beberapa hari berlalu hubungan mereka terasa sudah sangat dekat. 

" Aku sudah tiga belas hari disini datuk, saat ini aku sangat rindu dengan keluarga dan juga teman-temanku, pasti saat ini pasti mereka semua sangat khawatir !" jawab Gudam seadanya 

Gudam pun saat ini sudah tidak canggung lagi bahkan sudah menganggap kakek itu seperti inyiak nya sendiri. Lelaki tua itu pun tersenyum dan berkata dengan suara lirih 

" Angku Mudo, ada satu hal yang luput aku ceritakan padamu tempo hari".

Gudam sedikit mengernyitkan dahi 

" Seperti yang aku ceritakan tempo hari saat ini kita berada di tempat yang bernama taluak tanah dewa yang berada di alam tingkat ketiga, antara alam ini dengan duniamu terdapat perbedaan perhitungan ruang dan waktu, satu hari di dunia mu sama dengan satu minggu di tempat ini ". 

Gudam terlihat berfikir sejenak seperti sedang mencoba menghitung.

" Berarti di dunia nyata saat ini aku baru pingsan selama dua setengah hari Datuk ?"  
Lelaki tua itu mengangguk 

Gudam terlihat sedikit lega namun tetap saja rasa rindu itu berkecamuk. Perlahan terbayang satu persatu wajah ibu , ayah , inyiak dan kedua saudaranya. Kemudian wajah ihsan, gumanta dan Nurdin dan pandeka Sahar pun ikut terlintas. Terakhir Gudam tersenyum malu saat wajah cantik Nilam Cayo melintas dibenaknya. 

Kakek berjubah biru itu seakan tau yang saat ini sedang difikirkan pemuda itu. Ia kembali tersenyum dan kembali berkata.

"Angku Mudo, saat ini ilmu silek dan juga kekuatan batin mu sudah jauh meningkat, yang harus selalu kau ingat adalah jangan pernah memakai sifat sombong karena di atas langit masih ada langit, tetaplah rajin berlatih dan gunakan kekuatan mu untuk menolong orang - orang yang lemah, Kau paham?" tanya orang tua itu tegas.

" Saya paham Datuk, seluruh pesan Datuk akan selalu saya ingat, akan tetapi masih ada satu hal yang mengganjal di hati dan sangat ingin saya tanyakan ".  jawab Gudam.

Entah mengapa saat ini Ia merasa tidak berapa lama lagi ia akan berpisah dengan Teluk Tanah Dewa, tempat yang sudah dua minggu ini menjaga dan membimbingnya. Rasa sedih pun perlahan-lahan timbul. 

"Apa yang hendak kau tanyakan angku mudo?" 

Ia yang juga sudah merasa sangat dekat dengan Gudam tentu saja juga sangat sedih karena tidak lama lagi mereka akan berpisah. Ia sadar perjalanan bocah itu masih panjang dan ada tugas berat yang harus ditunaikan oleh bocah itu.

"Aku ingin tahu siapa namamu dan jika kelak aku ingin berkunjung ke tempat ini untuk berkunjung bagaimana caranya?" 

Orang tua itu menarik nafas dalam

" Semua ada masanya angku Mudo , saat ini mengenai namaku biarlah tetap menjadi satu rahasia , dan tentang cara berkunjung ke tempat ini tidak usahlah kau pikirkan karena kelak setelah kau resmi menjadi wadah kekuatan Datuak Si Rajo Dewa maka secara otomatis kau akan bisa menembus berbagai dimensi alam gaib termasuk alam tingkat ketiga"

" akan tetapi jangan berharap aku selalu berada di tempat ini karena seperti kau ketahui kami bangsa jin putih selalu hidup berpindah-pindah menghindari iblis sesat Dewang Sanggo Hitam."

Gudam terdiam karena dalam hati ia tidak puas dengan jawaban itu.

" Sepertinya waktu perpisahan sudah dekat angku Mudo".

" Satu hal lagi yang harus kau ingat bahwa menyelesaikan masalah tidak selalu harus dengan cara bertarung karena pertarungan sejatinya itu adalah solusi yang terakhir, "

" Jika kau mampu mengubah kejahatan menjadi sebuah kebaikan maka itu akan lebih baik daripada menumpas kejahatan itu sendiri, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw".

Tiba - tiba Gudam sangat sedih karena ia yakin itu adalah kata - kata perpisahan.

"Jangan sedih karena suatu saat kita akan bertemu lagi dan aku harap saat waktu itu tiba kau sudah menjadi seorang kesatria yang tangguh, Sekarang coba tunjukkan telapak tanganmu!"

Gudam membuka telapak tangannya. 

Orang tua berjubah biru itu menempelkan telapak tangan ke atas telapak Gudam dan sambil memejamkan mata iamerapal satu mantra. Tubuh Gudam terlihat bergetar dan menggigil kedinginan, ada hawa yang luar biasa dingin menjalar masuk ke telapak tangan kanan nya dan merayap sampai ke ubun-ubun.

Setelah getaran itu menghilang Gudam membuka mata dan kakek tua itu terlihat menatapnya dengan serius.

" Angku Mudo, di telapak tangan kananmu saat ini tersimpan sebuah senjata mustika yang dulu menggegerkan para tokoh di kedua alam. Saat dalam kondisi terdesak kau tinggal mencium telapak tangan dan membaca basmallah, dengan izin Tuhan senjata sakti itu akan muncul".

Gudam menunduk dan menatap telapak tangan nya. 

" Akan tetapi sebaiknya kau merahasiakan keberadaan senjata itu karena kalau para jin hitam dan manusia - manusia serakah mengetahui senjata itu ada padamu pasti mereka akan memburumu ."

Gudam mangut-mangut dan terlihat sangat takjub dengan pengetahuan serta kekuatan orang tua yang telah menjadi gurunya itu.

" Dari awal Datuk selalu merahasiakan tentang diri nya tapi aku yakin dia bukan lah tokoh  sembarangan" gumamnya dalam hati.

Kakek itu tersenyum seakan tahu apa yang dipikirkan gudam.

" Angku Mudo, kelak seluruh pertanyaanmu itu akan terjawab dengan sendiri nya, ingat selalu pesan ku karena sudah saatnya kita berpisah, Selamat tinggal Angku  mudo!".

Gudam merasa kepalanya seperti diusap dengan lembut dan Perlahan wujud kakek itu memudar dan menghilang. Gudam tidak menyangka akan berpisah dengan begitu cepat tentu saja sangat kaget dan refleks berteriak sekuat tenaga.

" Datuk, tunggu dulu! Jangan pergi Datuk !! Datukkkk! Datukkkk!!!"

Ibunya yang tertidur sambil duduk di dipan tempat tubuhnya tergolek tersintak kaget melihat tubuh pemuda itu bergetar keras sambil berteriak. Perempuan setengah baya itu spontan memeluk dan memanggil nama gudam Sambil menangis bahagia. Dan tidak lama kemudian orang - orang pun mulai berdatangan mendengar kabar Gudam telah siuman. 

"Gudam, anakku, sadarlah!"

Rintih nya sambil mengguncang tubuh gudam. Gudam membuka mata seperti orang yang baru bangun tidur, ia melihat ibu nya dan sekeliling ruangan dan yakin saat ini ia sudah kembali ke alam nyata. Gudam bangkit dan memeluk ibunya dengan erat untuk melepaskan segala kerinduan.

Malam itu Gudam sembuh dan merasa tubuhnya sangat segar dan ringan. 
*
Di malam yang sama Nilam cayo sedang duduk santai sambil menyulam sehelai kain perca bermotif songket Koto Gadang diruangan tengah. Gadis alim kembang desa Taratak Bungo ini memang sangat mahir dalam hal itu. 
Sedang asyik dia menyulam tiba - tiba ponselnya berbunyi tanda ada sebuah pesan yang masuk. setelah membaca pesan itu  tiba - tiba wajah cantik itu berubah pucat. Terlihat di layar nama pengirim pesan. 
Garang .
Setelah berfikir sejenak Nilam Cayo pun akhirnya memilih untuk tidak membalas pesan itu namun perasaan risau terasa sangat mengganggu jiwanya. 

Bersambung ke chapter selanjutnya " Tugas Rahasia "