KESATRIA DUA DIMENSI (Bagian : 8 " WASIAT DATUAK PANDUKO ALAM")

Last Update 28 Agustus 2026 Roland Mangkuto Sutan 138
Bagikan :



Malam ketiga di Teluk Tanah dewa , pembicaraan tentang masa lalu masih berlanjut.

" Dulu saat perang kuno leluhur mu Datuk Panduko Alam adalah pemimpin barisan kami para manusia dan Jin Putih, berkat kekuatan Datuk Si Raja Dewa raja para jin putih yang sudah meninggal ribuan tahun lalu  ia memimpin perang dengan gagah berani,  kami berperang melawan pasukan jin hitam yang dipimpin Dewang Sanggo Hitam, yang memiliki kerajaan gaib di Bukit Mendinding Alam".

"Perang itu berlangsung tujuh tahun dan memakan banyak korban, saat kami akan memenangkan peperangan tiba - tiba salah satu panglima perang kepercayaan Datuk panduko alam berkhianat dan berpihak ke Dewang Sanggo hitam, hingga akhirnya Datuk panduko alam terpaksa mengadu jiwa dengan menggabungkan kekuatan nya dengan Datuk harimau salju ".

" Alhasil Datuk panduko alam meninggal dunia sementara Dewang Sanggo hitam terperangkap di alam tabir tidak bisa lagi memunculkan diri ke alam nyata selama delapan ratus tahun, namun sebelum benar-benar hancur ia sempat mengucapkan sumpah akan membalas semua dendam ini delapan ratus tahun lagi ".

" Datuk Panduko Alam akhirnya meninggalkan wasiat sebagaimana yang telah ku ceritakan sebelumnya, dan sejak saat itu salah seorang keturunan Dewang Sanggo hitam yang bernama Tuanku Rajo nan hitam menebar angkara murka dan memburu kami para jin putih sambil terus berusaha menyesatkan umat manusia sambil menunggu kebangkitan kedua Dewang Sanggo hitam ".

"Lalu bagaimana dengan Datuk Si Raja Dewa? Bukankah dia bisa mencari manusia baru untuk mewarisi kekuatannya?" tanya Gudam yang mulai tertarik.

"Angku mudo , ilmu gaib itu sama seperti pakaian, ia harus dipakai oleh orang yang tepat agar benar - benar cocok. Ibarat keris dengan gagangnya, untuk mewarisi kekuatannya dibutuhkan wadah yang benar-benar pas dan sesuai". kakek itu menganalogikan.

"Datuk Si Raja Dewa telah memberikan kekuatannya kepada Datuk Panduko Alam, dan sebenarnya kekuatan itu bisa saja berpindah jika dia menghendaki tapi saat dia meninggal Datuk panduko alam sebelum sempat mengangkat murid."

Gudam hanya mangut-mangut mendengar.

"Tapi di kemudian hari, karena beberapa jin putih yang berkhianat wasiat itu sampai juga ke telinga Dewang Sanggo Hitam dan sejak saat itu ia melalui Tuanku Rajo nan hitam mulai mengintai seluruh keturunan laki-laki dari garis Datuk Panduko Alam".

*
Malam itu di rumah pandeka sahar...

Nurdin, Ihsan, dan Gumanta terlihat duduk menunggu di ruangan tamu.

Tak lama kemudian pandeka Sahar keluar dari kamarnya, sepertinya ia baru selesai shalat Isya. Setelah meminum minuman yang disajikan Mandeh saleha Nurdin dan kawan-kawan mulai bercerita tentang peristiwa aneh yang dialami Gudam. Pandeka Sahar mendengarkan dengan seksama.

" Setelah menyimak cerita kalian entah kenapa aku teringat cerita mendiang inyiak guruku tentang peristiwa besar ratusan tahun lalu, Aku yakin Gudam sekarang sedang terlibat dalam masalah yang sangat serius, Sebagai guru aku berharap kalian selalu setia mendampinginya karena teman seperguruan sama dengan saudara kandung, ingatkah kalian?"

" Ingat pandeka " ujar mereka serempak

"Untuk saat ini, kita berdoa saja semoga Gudam cepat pulih, dan Kau Nurdin, mulailah berlatih karena kau akan mewakili galanggang kita di Festival Silek Nagari,  Ihsan dan Gumanta akan membantu proses latihanmu."

"Baik, guru!" mereka menjawab serentak.

"Jika kalian mendengar Gudam sudah sadar segera bawa dia kesini karena aku akan berbicara langsung dengannya".

Pandeka Sahar menutup pertemuan dan para bocah pun pulang ke rumah masing-masing.
*
Garang terlihat sedang fokus berlatih.

kali ini ia dan gurunya Pakiah Rajudin tengah berlatih bagaimana mengalirkan tenaga dalam dan mengolah pernafasan. Dengan posisi duduk bersila dan kedua tangan direntangkan seperti sayap elang, Garang tampak menengadah ke atas sambil mengambil nafas panjang.

Baru satu tarikan nafas sontak saja tubuh bocah itu terangkat dan berputar melayang-layang di udara. Bukan main girangnya hati garang karena kini ia bisa terbang.

Gurunya Pakiah Rajudin tersenyum bangga dan puas.

"Kau memang sungguh berbakat, Angku mudo " ujar Pakiah Rajudin

Garang membuka mata di udara kemudian dengan satu sentakan ia pun  melesat turun sambil bersalto dan mendarat dengan sempurna di lantai. Ia merasa tubuhnya kini sangat kuat, satu pukulan tangan kosongnya saja saat ini mampu menghancurkan tengkorak seekor kerbau jantan dewasa. Semua itu berkat tenaga dalam dan olah pernafasan yang diajarkan gurunya.

"Saat ini kekuatanmu sudah sangat jauh meningkat Angku mudalo, Tapi yang harus selalu kau ingat bahwa di atas langit masih ada langit. Kau harus selalu berlatih keras untuk menjadi yang terkuat dan terhebat!" Pakiah Rajudin memberikan nasehat.

"Festival Silek akan dilaksanakan beberapa minggu lagi namun sayangnya aku harus pergi ke suatu tempat karena ada urusan penting, tapi aku akan datang melihatmu bertarung di acara puncak. Siapapun lawanmu, jangan pernah kasih ampun! Aku tinggalkan sebuah kitab kuno yang berisi petunjuk untuk meningkatkan kekuatanmu hingga tingkat tinggi, Simpan baik-baik karena di dalamnya juga ada cara untuk mendapatkan ilmu pusaka Keris Api, dan kau juga akan terhubung secara langsung dengan guruku Rajo ampang basi, Kau harus berusaha agar seluruh pukulan sakti itu jatuh ketanganmu karena dengan itu kau akan menjadi raja diraja di dunia ini ".

Pakiah Rajudin alias Dubalang Rambut Api memberikan sebuah kitab usang terbuat dari kulit tipis ditulis menggunakan tinta emas.
Garang mengambil kembali kitab itu dan melihat halaman depan tertulis "9 langkah Rajo Api".
Garang tersenyum puas membayangkan dirinya juara. Tapi ketika wajah cantik kembang desa dari Dusun Taratak Bungo Nilam Cayo terbayang sekilas ia sontak menjadi panas. dua tangan dikepalkan dan tiba-tiba kepalan tinjunya terbungkus nyala api.

Garang kemudian menarik nafas perlahan dan nyala api itu meredup lalu hilang.

Bersambung ke chapter 9 " kembalinya sang kesatria"