KESATRIA DUA DIMENSI ( Bagian 2 : Galanggang Silek)

Last Update 26 Juni 2026 Roland Mangkuto Sutan 417
Bagikan :

BAGIAN 2
GALANGGANG SILEK




Kicau burung dan nyanyian alam membuat suasana di Dusun Taratak Bungo terasa sangat permai.

Mentari pagi yang hangat menyinari hamparan sawah yang membentang luas di seantero kampung. Embun pagi yang sejak subuh menempel di ujung daun - daun padi perlahan menghilang di hisap cahaya matahari yang mulai menyengat. Dari kejauhan terdengar suara petani yang mulai bekerja di sawah, sementara angin sejuk berembus dari arah perbukitan membawa aroma tanah dan rerumputan yang menenangkan hati.

Sungai besar yang diapit oleh dua bukit pasir seolah mengundang Gudam dan sahabat barunya, Gumanta, untuk segera menyeburkan diri.

Gumanta adalah sahabat pertama Gudam di kampung. Mereka bertemu saat Gudam ikut Inyiak berkunjung ke rumah orang tua Gumanta beberapa hari yang lalu. Meski baru saling mengenal, keduanya cepat akrab karena mereka sama-sama suka berpetualang dan memiliki sifat yang hampir mirip. Jenaka dan slengean

"Ayo lompat, Dam!" kata Gumanta sambil  bersalto ke belakang dari atas sebuah batu besar yang terhampar dipinggir sungai.

Byuuurrr!

Percikan air membumbung tinggi ke udara.

Gudam tertawa melihat tingkah sahabat barunya itu.

Tak mau kalah, ia mengambil ancang-ancang lalu ikut menyeburkan diri dengan gaya salto yang jauh lebih berantakan.

Byuuurrr!

Kali ini Gumanta yang tertawa terbahak-bahak.

Mereka berenang ke sana kemari, saling menyiram air, bahkan sempat berlomba menyelam hingga ke dasar sungai. Bagi Gudam yang sejak kecil hidup di Jakarta, semua itu terasa sangat menyenangkan dan terasa sangat mewah.

Setelah puas bermain matahari pun akhirnya naik satu penggalan.

Mereka duduk santai di atas batu picak besar di pinggir sungai. Angin sejuk yang berhembus perlahan dari arah bukit yang membuat suasana terasa sangat nyaman.

"Nanti malam aku mau latihan silek di galanggang kampung. Kau mau ikut tidak?" tanya Gumanta dengan bahasa Indonesia yang bercampur logat Minang.

Mata Gudam langsung berbinar.

"Wizz... itu keren banget bro ! Aku mau ikut, Ta!"

Sejak berangkat dari Jakarta itulah salah satu hal yang paling ingin ia lakukan yaitu belajar Silek Minangkabau.

"Tapi syaratnya, kau harus mendaftar dulu."

"Mendaftar ke mana?"

"Ke rumah Pandeka Sahar. Dia guru silek di kampung kita ini,  kalau kau daftar siang ini,Nanti  malam tentu kau sudah boleh ikut latihan. Tapi ada syarat- syarat yang mesti kau siapkan ".

Gudam mengangguk cepat.

Baginya syarat itu bukan masalah, justru ia sudah tidak sabar ingin bertemu Pandeka Sahar dan mulai belajar silek seperti yang selama ini diceritakan Inyiak.

Mereka pun akhirnya sepakat untuk pulang.


Sesampainya di rumah, Gudam langsung menemui Ayah dan Inyiak yang sedang duduk di beranda rumah. Mereka yang sedang asyik ngobrol agak kaget dengan teriakan Gudam.

"Ayah! Inyiak! Aku mau belajar silek!" Dengan nafas ngos - ngosan.

Ayahnya cuma  tersenyum kecil. Iinyak geleng - geleng kepala sambil tertawa.

"Baru beberapa hari di kampung sudah tak sabar kau rupanya." Ujar ayah

Gudam mengangguk berulang kali sambil sesekali menghela nafas panjang.

Ia memang habis berlari cepat dari sungai menyusuri pematang - pematang sawah yang terbentang panjang menyusuri setiap pinggiran kampung Taratak Bungo karena sudah tidak sabar ingin berlatih silek.

Saat nafas nya mulai terasa normal ia pun berkata.

"Inyiak, antarkan aku ke rumah Pandeka Sahar."

Inyiak tertawa.

"Dari dulu memang begitu cucu Inyiak yang satu ini,  kalau sudah suka sesuatu, susah ditahan."
Inyiak pun berdiskusi dengan ayah

Akhirnya setelah makan siang ayah Gudam bersedia mengantarkannya ke rumah Pandeka Sahar.

Namun sebelum berangkat,  inyiak  memberi satu pesan.

"Ingat Gudam. Belajar silek bukan untuk gagah-gagahan."

Gudam memperhatikan dengan serius.

" Silek Minangkabau mengajarkan cara mengendalikan diri dan mengendalikan emosi,  Orang yang paling kuat bukan orang yang paling pandai memukul tetapi orang yang paling mampu mengendalikan dirinya sendiri."
Meski belum sepenuhnya memahami maksudnya, Gudam tetap mengangguk karena Itu sangat berbeda dengan karate yang selama ini ia pelajari di jakarta.


Baca Juga : 

" Assalamualaikum... Ooooo Pandeka!"

Satu sahutan menjawab salam dari dalam rumah dan mempersilakan tamu masuk.

Rumah itu cukup tinggi dengan kolong di bawahnya. Beberapa ekor ayam, kambing, dan itik terlihat berkeliaran mencari makan.

Inilah rumah Pandeka Sahar.

Setelah mereka berdua dipersilakan duduk dan menikmati kopi yang dihidangkan Mandeh saleha isteri pandeka sahar, setelah sedikit berbeda basi ayah Gudam mulai menyampaikan maksud kedatangan mereka.

"Jadi begini Pandeka, ambo berniat ingin mendaftarkan anak ambo ini untuk belajar silek di galanggang silek yang Pandeka pimpin."

Pandeka Sahar memandang Gudam beberapa saat. Matanya yang tajam seolah menguliti gudam dari kepala sampai kaki. Saat mata pendekar itu bertatapan dengan mata gudam, gudam langsung menunduk sambil sedikit tersenyum.

Pandeka sahar tersenyum,
"  itulah adab ". Gumam nya dalam hati

Sorot mata pemuda itu menunjukkan rasa ingin tahu yang besar , karena itu akhirnya Pandeka sahar memutuskan menerima Gudam menjadi muridnya.

Setelah menjelaskan beberapa aturan dan tata cara latihan, akhirnya Pandeka Sahar mengizinkan Gudam bergabung sebagai murid.
" Syarat menjadi murid di perguruan silek Taratak Bungo adalah pisau , kain putih , dan seekor ayam hitam serta penyerahan langsung oleh orang tua atau wali calon murid dengan menggunakan Carano".

Karena sebelumnya telah mendapat informasi dari gumanta maka syarat - syarat yang diminta pandeka sahar itu sudah dipersiapkan oleh inyiak sebelum mereka berangkat.

Setelah ritual penyerahan murid atau anak sasian itu selesai , mereka bertiga mendoa yang dipimpin oleh pandeka sahar sebagai tanda gudam telah resmi menjadi anak sasian di Sasaran silek Taratak Bungo.

Sebelum mereka pulang, beliau berpesan:

"Silek bukan hanya belajar gerakan. Silek adalah belajar adab menghormati guru, menghormati kawan, dan menghormati diri sendiri.serta orang lain "
Gudam mengangguk hormat.

Ia semakin tidak sabar menunggu malam tiba.

---

Malam hari.

Puluhan obor menyala mengelilingi lapangan berumput yang menjadi Galanggang Silek Taratak Bungo.
Dari kejauhan cahaya obor itu tampak seperti kunang-kunang yang berbaris rapi di tengah kegelapan malam.
Saat Gudam dan Gumanta sampai, puluhan murid sudah lebih dahulu berlatih.

Sebagian bergerak berpasangan saling memukul dan menangkap dan sebagian lagi tampak sedang berlatih langkah dasar.

Sekilas gerakan mereka tampak seperti tarian.
Namun Gudam dapat merasakan bahwa setiap gerakan mengandung tenaga dan ketepatan yang luar biasa.

Melihat kedatangan Gudam Pandeka Sahar menghentikan latihan sejenak dan mulai memperkenalkan Gudam kepada murid yang lain.

"Ini Gudam. Mulai malam ini dia akan bergabung dengan kita di galanggang ini ."

Semua murid menoleh.

Beberapa dari mereka mengangguk ramah.

Di antara mereka terdapat dua orang yang kemudian menjadi sahabat dekat Gudam.

Nurdin dan Ihsan.

"Kalian harus ingat," kata Pandeka Sahar.

"Teman seguru itu sama seperti saudara kandung, jika yang satu terluka yang lain juga harus merasa terluka karena hakikat silek adalah silaturahmi."

Semua murid mengangguk termasuk Gudam.

Malam itu menjadi malam pertama yang tidak akan pernah ia lupakan. Malam dimana ia pertama kali resmi menjadi pandeka silek.

" Aliran silek yang kita pelajari disini adalah Silek Tuo Taratak Bungo, yang konon dulu nya diciptakan oleh inyiak Datuk Suri dirajo di Lereng gunung Merapi, namun seiring berjalannya waktu silek tuo mengalami beberapa perubahan yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat tempat dimana silek itu berkembang ". Pandeka sahar Mulai memberikan perkenalan terhadap Gudam.
" Bermula silek yang turun dari gunung Merapi itu memiliki pola dasar langkah tiga, yang sangat ganas, mematikan serta sarat dengan kekuatan gaib dan batin ".

" Namun seiring perkembangan zaman silek langkah tigo mulai dirahasiakan karena dinilai terlalu berbahaya untuk diajarkan kepada orang awam, sehingga perlahan berangsur punah ".

Para murid mengangguk takjub mendengar legenda itu.
"  Sejak Islam berkembang di ranah Minang silek langkah tigo mulai dikembangkan menjadi silek langkah ampek , namun pola dasar masih berakar pada  silek langkah tigo, namun telah dibalut dengan gerakan - gerakan samar yang sekilas mirip seperti orang menari , namun keganasannya tentu saja masih  tersisa ".

" Itulah maksud dari pepatah silek  yang berbunyi Dari gunuang turun ke guru , dari guru turun ke surau yang berarti silek itu awalnya turun dari puncak gunung Merapi sebelum Islam masuk ke Minangkabau dan kemudian dibawa oleh para tuo Silek yang kemudian disinergikan dengan kebudayaan Islam sehingga menjadi silek yang kita kenal hari ini ".

" Lantas terkait dengan silek langkah tigo, bagaimana cara kita mempelajarinya pandeka " Tanya Nurdin
Nurdin adalah seorang pemuda bertubuh tinggi kekar dan merupakan salah satu murid andalan Pandeka sahar.

" Ia biasanya hanya akan datang kepada ahlinya tanpa dipelajari, karena ia memilih tuan nya sendiri karena sejatinya silek langkah tigo itu ebih banyak bermain di hakikat atau batin dan oleh karena itu sebagian ulama menyatakan mempelajari silek itu termasuk perbuatan syirik ". Jawab pandeka

Gudam hanya mangut - mangut sambil berkhayal menjadi pendekar silat tanpa tanding.

" Baik , kalian semua silahkan kembali berlatih dan kalian Nurdin , Ihsan gumanta bantu gudam mempelajari langkah-langkah dasar "

" Baik pandeka " jawab mereka serempak

Gudam merasa sangat bahagia karena kini perjalanannya sebagai murid silek akhirnya dimulai.
Namun tanpa ia sadari sesosok makhluk sedang mengawasi nya dari suatu tempat.
Bersambung chapter 3" Bukik mandindiang alam "