Gerak Buku_Penulis dan pegiat literasi asal Kota Padang Panjang, Sumatra Barat, Muhammad Subhan, tahun ini merilis buku terbarunya berjudul “Percakapan Marapi”.
Buku yang mencakup 75 puisi itu merupakan puisi-puisi yang ia tulis berangkat dari kontemplasi pasca bencana erupsi Marapi yang terjadi di Sumatra Barat sejak 3 Desember 2023 lalu.
“Bencana Marapi ini menggerakkan hati saya menulis puisi-puisi dalam buku Percakapan Marapi. Saya berimajinasi seolah gunung itu berbicara menumpahkan unek-uneknya lalu mengajak manusia merenung, pulang ke dalam diri, bahwa erupsi gunung itu bukan semata gejala alam biasa,” kata Muhammad Subhan yang juga penulis novel Rumah di Tengah Sawah terbitan Balai Pustaka.
Dalam puisi-puisinya itu, Muhammad Subhan menyebutkan bahwa Marapi memberi tanda-tanda gunung itu “bernyawa”, layaknya makhluk hidup lain yang mendiami bumi ini. Sebab nyawanya itu, lahar di perut Marapi menggelegak, lalu debu vulkanik dan lahar dinginnya menyebabkan banyak kesengsaraan bagi makhluk hidup yang bermukim di sekitar gunung itu.
Dia mengingat, momen erupsi Marapi terjadi pada 3 Desember 2023, dan itu adalah hari ulang tahunnya yang tepat di angka 43 tahun. Marapi erupsi sore hari, sekitar pukul 14.54 WIB.
“Gunung ini berjarak sangat dekat dengan kediaman saya di Padang Panjang. Saat gunung itu erupsi, saya sedang duduk di kursi kerja. Tiba-tiba terjadi guncangan, meski takada gempa. Yang saya rasakan pintu berhoyak. Spontan, saya terkejut. Seperti ada orang menggedor-gedor dari luar dengan sangat kuat,” kenang Muhammad Subhan yang juga founder Sekolah Menulis elipsis.
Tak lama, di beranda media sosial, dia melihat bertebaran foto dan video erupsi Marapi. Abunya membumbung tinggi. Konon mencapai 3.000 meter atau 9.800 kaki ke udara. Abu vulkaniknya menghujani daerah sekitar gunung itu, tak terkecuali Padang Panjang.
“Saya ikuti informasi tentang erupsi Marapi dengan rasa penasaran tinggi. Setiap hari. Karena gunung itu Meletus dengan intensitas ringan, sedang, dan besar secara terus-menerus, hingga sampai buku ini terbit. Tidak tahu kapan Marapi akan benar-benar pulih lagi, setidaknya seperti sebelum gunung itu Meletus,” katanya.
Yang nahas dan menyedihkan, dari informasi yang beredar, saat gunung itu erupsi, di puncaknya terdapat puluhan pendaki yang terjebak dan berusaha menyelamatkan diri. Dari peristiwa itu tercatat 24 pendaki meninggal dunia dan 12 lainnya luka-luka.
Empat bulan kemudian pascaerupsi Marapi, tepatnya 11 Mei 2024, gunung itu memuntahkan lahar dinginnya. Air bah akibat hujan deras terus-menerus yang menggenang di lembah-lembah Marapi tumpah ruah menerjang perkampungan-perkampungan yang berada di sebalik pinggang gunung itu, khususnya di Kabupaten Agam dan Tanah Datar.
Banjir membawa galodo, di mana batu-batu besar dan tanah ikut diseret arus air yang dahsyat serta menghancurkan rumah-rumah warga. Tercatat setidaknya 67 warga meninggal dunia dan beberapa lainnya dikabarkan hilang. Tidak hanya lahar dingin Marapi, Gunung Singgalang yang bersebelahan dengan Marapi juga menumpahkan air bah yang mahadahsyat sehingga memutus akses jalan utama Padang—Padang Panjang dan sebaliknya. Kawasan Lembah Anai yang merupakan objek wisata andalan, jalannya terban. Pemandian-pemandian alam disapu air bah. Sebuah kafe ikonis yang dekat dengan air terjun Lembah Anai hanyut, hilang tak berbekas.
Musibah banjir lahar dingin Marapi dan banjir bandang Singgalang setidaknya memakan korban sebanyak 67 orang meninggal dunia, beberapa lainnya hilang. Banyak rumah rusak terseret air bah. Ranah Minang kembali berduka yang sangat dalam.
Peristiwa bencana itu menjadi gagasan bagi Muhammad Subhan lalu ia meruangkan apa yang ia rasakan di pikiran dan di hatinya ke dalam bait-bait puisi. Puisi-puisi itu telah ia rumahkan dalam buku Percakapan Marapi. Buku itu dapat dipesan di Kedai Buku ellipsis melalui nomor WhatsApp 0822-8106-4358.
Muhammad Subhan lahir di Medan, 3 Desember 1980, dan memulai karier kepenulisannya sebagai jurnalis sejak tahun 2000. Buku puisinya Tungku Api Ibu (2023) dan Kesaksian Sepasang Sandal (2020). Selain novel, ia juga menulis buku kumpulan cerpen dan esai.
Ia penulis undangan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017. Esainya tiga terbaik Festival Sastra Bengkulu (2019) dan puisinya tiga terbaik Banjarbaru Rainy Day Literary Festival (2019).
Beberapa puisinya juga dialihwahanakan menjadi lagu dengan iringan musik klasik oleh pianis bertaraf internasional, Ananda Sukarlan. Dia dapat ditemui di media sosial Instagram: @muhammadsubhan2. (*)(MS)