
GerakDigital_Di era media sosial, jumlah pengikut sering kali lebih berpengaruh daripada kualitas isi. Fenomena ini melahirkan kenyataan ironis: suara para ahli yang berpuluh tahun meneliti bisa tenggelam hanya karena kalah dari mereka yang pandai bermain algoritma.
Fenomena “influencerisasi”
pengetahuan ini kini menjadi wajah baru dunia digital, di mana kepakaran ilmiah
sering kali tidak lagi menentukan kebenaran, melainkan popularitas di jagat
maya.
Kebenaran
Kini Ditentukan oleh Jumlah Pengikut
Media sosial telah menggeser cara
masyarakat menilai otoritas. Dulu, seorang pakar dihormati karena keilmuannya;
kini, seseorang dianggap kredibel karena banyaknya followers dan jumlah likes.
Ini fenomena yang berbahaya bagi nalar publik, Ketika
masyarakat lebih percaya pada yang viral dibanding yang valid, maka ruang
publik berubah menjadi arena hiburan, bukan lagi ruang pengetahuan.
Akibatnya, para influencer dengan
retorika ringan dan tampilan menarik kerap dipercaya membahas topik serius
seperti kesehatan, politik, ekonomi, bahkan hokum meski tidak memiliki latar
belakang atau kapasitas di bidang tersebut.
Para
Akademisi yang Tenggelam di Lalu Lintas Algoritma
Di sisi lain, para akademisi dan
peneliti yang mengabdikan hidupnya untuk menulis jurnal, melakukan riset, dan
mengembangkan ilmu pengetahuan justru tidak mendapat perhatian.
Mereka kalah bersaing dalam logika
algoritma yang menilai relevansi bukan dari isi, tetapi dari engagement rate
seberapa banyak postingan diklik, dibagikan, atau dikomentari.
Ilmu tidak menarik di mata
algoritma, karena faktanya Konten viral lebih dihargai daripada konten bermutu.
Padahal keduanya punya dampak yang jauh berbeda.
Kondisi ini membuat publik sering
kali menelan informasi mentah tanpa proses verifikasi. Dalam jangka panjang,
hal ini berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap otoritas keilmuan yang
sah.
Kultus
Popularitas Menggeser Akal Sehat
Fenomena ini menciptakan apa yang
disebut banyak pengamat sebagai kultus popularitas. Pengikut menjadikan
influencer sebagai sumber kebenaran tunggal, bahkan membela mereka tanpa
berpikir kritis meski pernyataannya keliru.
Kita bisa melihat dampaknya di
berbagai bidang. Dalam dunia kesehatan, misinformasi soal vaksin atau obat
herbal sering kali menyebar lebih cepat dibanding klarifikasi dari dokter.
Dalam politik, analisis dangkal dari content creator kadang lebih
dipercaya ketimbang paparan ilmiah akademisi.
Dan dalam pendidikan, motivator instan menggantikan peran guru yang memahami
proses belajar secara utuh. Semua itu menunjukkan gejala yang sama, rasionalitas
publik sedang melemah.
Mencari
Jalan Tengah: Antara Kredibilitas dan Kepopuleran
Meski
begitu, tidak semua influencer patut disalahkan. Banyak di antara mereka yang
justru berperan positif dalam menyebarkan ilmu dengan gaya yang ringan dan
mudah dicerna.
Namun, yang perlu ditekankan adalah
batas kompetensi. Popularitas seharusnya tidak memberi hak untuk berbicara
tentang segala hal. Publik juga perlu lebih kritis dalam memilih sumber
informasi.
Sejatinya menjadi komunikator ilmu
itu baik, Tapi harus diiringi tanggung jawab. Jangan karena punya audiens
besar, lalu merasa sah membahas apa saja tanpa dasar.”
Saatnya
Akademisi Turun ke Dunia Digital
Tantangan terbesar ke depan adalah
bagaimana kaum intelektual bisa ikut hadir di ruang digital tanpa kehilangan
kedalaman ilmunya. Mereka harus belajar menyesuaikan gaya komunikasi agar tidak
tertinggal dalam persaingan perhatian publik.
Sebaliknya, masyarakat juga perlu
dibekali kemampuan literasi digital yang kuat. Membedakan antara opini dan
data, antara kepakaran dan kepopuleran, adalah keterampilan baru yang harus
dimiliki warga dunia maya.
Popularitas boleh menarik perhatian,
tetapi kebenaran tetap milik mereka yang berilmu dan bertanggung jawab.
Kita perlu kembali menegakkan prinsip dasar: bahwa pengetahuan tidak boleh
tunduk pada algoritma.
Jika tidak, maka masa depan nalar
publik akan ditentukan bukan oleh para pemikir, tetapi oleh mereka yang paling
lihai memainkan gawai dan kamera.(DS)