Ketika Ilmu Tumbang Di Tangan Algoritma_Ilmuan Vs Influencer

07 November 2025 dasrilsinuruik Gerak Digital


GerakDigital_Di era media sosial, jumlah pengikut sering kali lebih berpengaruh daripada kualitas isi. Fenomena ini melahirkan kenyataan ironis: suara para ahli yang berpuluh tahun meneliti bisa tenggelam hanya karena kalah dari mereka yang pandai bermain algoritma.

Fenomena “influencerisasi” pengetahuan ini kini menjadi wajah baru dunia digital, di mana kepakaran ilmiah sering kali tidak lagi menentukan kebenaran, melainkan popularitas di jagat maya.

Kebenaran Kini Ditentukan oleh Jumlah Pengikut

Media sosial telah menggeser cara masyarakat menilai otoritas. Dulu, seorang pakar dihormati karena keilmuannya; kini, seseorang dianggap kredibel karena banyaknya followers dan jumlah likes.

Ini fenomena yang berbahaya bagi nalar publik, Ketika masyarakat lebih percaya pada yang viral dibanding yang valid, maka ruang publik berubah menjadi arena hiburan, bukan lagi ruang pengetahuan.

Akibatnya, para influencer dengan retorika ringan dan tampilan menarik kerap dipercaya membahas topik serius seperti kesehatan, politik, ekonomi, bahkan hokum meski tidak memiliki latar belakang atau kapasitas di bidang tersebut.

Para Akademisi yang Tenggelam di Lalu Lintas Algoritma

Di sisi lain, para akademisi dan peneliti yang mengabdikan hidupnya untuk menulis jurnal, melakukan riset, dan mengembangkan ilmu pengetahuan justru tidak mendapat perhatian.

Mereka kalah bersaing dalam logika algoritma yang menilai relevansi bukan dari isi, tetapi dari engagement rate seberapa banyak postingan diklik, dibagikan, atau dikomentari.

Ilmu tidak menarik di mata algoritma, karena faktanya Konten viral lebih dihargai daripada konten bermutu. Padahal keduanya punya dampak yang jauh berbeda.

Kondisi ini membuat publik sering kali menelan informasi mentah tanpa proses verifikasi. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap otoritas keilmuan yang sah.

 

Kultus Popularitas Menggeser Akal Sehat

Fenomena ini menciptakan apa yang disebut banyak pengamat sebagai kultus popularitas. Pengikut menjadikan influencer sebagai sumber kebenaran tunggal, bahkan membela mereka tanpa berpikir kritis meski pernyataannya keliru.

Kita bisa melihat dampaknya di berbagai bidang. Dalam dunia kesehatan, misinformasi soal vaksin atau obat herbal sering kali menyebar lebih cepat dibanding klarifikasi dari dokter.
Dalam politik, analisis dangkal dari content creator kadang lebih dipercaya ketimbang paparan ilmiah akademisi.
Dan dalam pendidikan, motivator instan menggantikan peran guru yang memahami proses belajar secara utuh. Semua itu menunjukkan gejala yang sama, rasionalitas publik sedang melemah.

Mencari Jalan Tengah: Antara Kredibilitas dan Kepopuleran

Meski begitu, tidak semua influencer patut disalahkan. Banyak di antara mereka yang justru berperan positif dalam menyebarkan ilmu dengan gaya yang ringan dan mudah dicerna.

Namun, yang perlu ditekankan adalah batas kompetensi. Popularitas seharusnya tidak memberi hak untuk berbicara tentang segala hal. Publik juga perlu lebih kritis dalam memilih sumber informasi.

Sejatinya menjadi komunikator ilmu itu baik, Tapi harus diiringi tanggung jawab. Jangan karena punya audiens besar, lalu merasa sah membahas apa saja tanpa dasar.”

Saatnya Akademisi Turun ke Dunia Digital

Tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana kaum intelektual bisa ikut hadir di ruang digital tanpa kehilangan kedalaman ilmunya. Mereka harus belajar menyesuaikan gaya komunikasi agar tidak tertinggal dalam persaingan perhatian publik.

Sebaliknya, masyarakat juga perlu dibekali kemampuan literasi digital yang kuat. Membedakan antara opini dan data, antara kepakaran dan kepopuleran, adalah keterampilan baru yang harus dimiliki warga dunia maya.

Popularitas boleh menarik perhatian, tetapi kebenaran tetap milik mereka yang berilmu dan bertanggung jawab.
Kita perlu kembali menegakkan prinsip dasar: bahwa pengetahuan tidak boleh tunduk pada algoritma.

Jika tidak, maka masa depan nalar publik akan ditentukan bukan oleh para pemikir, tetapi oleh mereka yang paling lihai memainkan gawai dan kamera.(DS)