Dande dan Durian (edisi : Inyiak)

19 Februari 2026 Dasril Sinuruik
Bagikan :

Dande dan Durian (edisi : Inyiak)


Di Kampuang Bukaladi, dua sahabat  Dande dan Adi dikenal sebagai “hantu durian”. Setiap musim durian tiba, nama mereka selalu disebut-sebut orang. Bukan karena mereka seram, tetapi karena keahlian mereka mencari durian di malam hari hampir tak tertandingi. Saat orang lain terlelap, mereka justru mulai menyiapkan senter, sarung, dan langkah sunyi menuju kebun. Malam bagi  Dande dan Adi bukanlah waktu untuk beristirahat, melainkan waktu berburu rezeki. Dengan senter baterai di tangan, mereka menyusuri jalan setapak yang licin dan gelap.




Cahaya kecil dari senter menjadi satu-satunya penuntun di antara bayang-bayang pohon durian yang menjulang.

Di kepala mereka, sarung sudah dikaitkan kuat. Ujungnya menjuntai ke punggung, siap menampung buah durian yang ditemukan. Cara ini sudah mereka pelajari sejak kecil, meniru orang-orang tua di kampung. Meski tampak sederhana, sarung itu mampu membawa pulang hasil yang melimpah. Malam itu, gerimis turun perlahan. Angin bertiup lembut, menggoyangkan ranting dan daun. Dande  tersenyum kecil.

“Kalau hujan begini, biasanya durian banyak jatuh,” bisiknya. Adi mengangguk, hatinya ikut berdebar penuh harap.

Benar saja, belum jauh melangkah, suara “duk!” terdengar dari kejauhan. Sebuah durian jatuh menghantam tanah. Mereka saling pandang, lalu berlari kecil ke arah suara itu. Senter diarahkan ke tanah, memperlihatkan durian besar yang masih segar. Dengan hati-hati, Adi  mengangkat durian itu dan memasukkannya ke dalam sarung di punggungnya. Beratnya langsung terasa, tetapi senyum di wajahnya semakin lebar. “Satu,” katanya pelan. Dande tertawa kecil, lalu melanjutkan pencarian.

Semakin jauh masuk ke hutan, suasana semakin sunyi. Hanya suara hujan, angin, dan langkah kaki mereka yang terdengar. Tiba-tiba, Dande menghentikan langkah. Sorot senternya menangkap dua mata yang berkilat di balik semak.

Jantung mereka serasa berhenti. “Inyiak…” bisik Adi dengan suara gemetar. Seekor harimau berdiri tak jauh dari rumpun durian. Tubuhnya besar, diam, seolah sedang mengamati mereka.

Dengan penuh hormat, Dande menunduk sedikit dan berucap lirih,

“Manjauhlah yo niak, takuik kami…” Adi  ikut mengangguk, tak berani bergerak. Mereka percaya, kata-kata itu adalah bentuk permohonan agar tidak diganggu.

Beberapa detik terasa seperti berjam-jam. Lalu, perlahan, harimau itu berbalik arah dan masuk ke dalam gelap hutan. Dande dan Adi menghela napas panjang. Keringat dingin mengalir di punggung mereka, bercampur air hujan. Tak jauh dari tempat itu, mereka menemukan durian yang sudah terbuka rapi. Kulitnya terbelah sempurna, dan sisa isinya terletak tepat di atasnya. “Ini bekas inyiak makan,” kata Adi. Mereka tak mengambilnya, hanya mengangguk hormat pada alam.

Menjelang subuh, sarung di punggung mereka sudah penuh. Dengan langkah lelah namun bahagia, Dande dan Adi pulang ke kampung. Hujan gerimis, senter kecil, sarung di kepala, dan pertemuan dengan inyiak menjadi bagian dari kisah nan penuh kesan dihidup dua sahabat ini.