Judul:
Dande , Sang Pengamplas Sore
Di sebuah kampung kecil yang terletak di pinggiran kabupaten paling ujung timur sumatera, hiduplah seorang anak muda yang disetiap sorenya mengamplas bernama Dande. Ia adalah seorang pria yang penuh semangat dan energi, berstatus sebagai anak sulung dari empat bersaudara serta sianak kesayangan ibu tentunya. Hampir disetiap hari, Dande menghabiskan waktu sepulang sekolah bersama sang ayah di sebuah workshop furniture yang berada tepat bersebelahan di samping rumahnya, dengan perlengkapan alat pengamplas sebagai sahabat setia tentunya.
Dande telah melakukan pekerjaan ini selama
bertahun-tahun. Ia memiliki tangan yang cekatan dan mata yang teliti dalam
mengamplas kayu itu. Meskipun pekerjaannya terlihat sederhana, namun Dande melihatnya sebagai sebuah seni. Ia memiliki
kemampuan untuk mengolah potongan kayu yang kasar pada bagian kursi dan lemari
itu menjadi permukaan yang halus dan indah.
Dande merupakan
seorang anak kampung yang sehari-hari braktifas sebagai pelajar sekolah
menengah pertama. Layaknya pelajar yang lain, setiap dipagi hari dia menyiapkan
perlengkapannya untuk belajar di sekolah. Dia sangat rajin dan bersemangat
sekali untuk urusan terkait sekolah ini, hal tersebut dapat dilihat dari jarak
rumahnya dande ke sekolah sejauh 2,5 km ditempuh dengan jalan kaki. Pagi ini seperti biasa, sambil menyiapkan
perlengkapan sekolah dande juga menyiapkan sarapannya sendiri, Nasi putih telor
ceplok disertai bawang adalah favoritnya.
Ada hal yang unik
disetiap perjalanannya menuju sekolah ini, dimana dande selalu memilih untuk
berjalan sendiri. Dia tidak berjalan seiring dengan teman-teman sekolahnya yang
lain. Bukan karena dia tidak punya teman atau dia tidak disenangi oleh yang
lain. Hingga suatu ketika hal ini menjadi pertanyaan dari ibunya, “nde
akhir-akhir ini ibu perhatikan kamu selalu pergi sekolah sendiri, kamu ada
masalah ya sama teman-teman yang lain….? “ tanya ibunya dande dengan sedikit
nada mencurigai. “Gak koq bu, saya gak da masalah sama kawan-kawan” balas ande
sambil mengikat tsali sepatunya pagi itu. Trus kenapa…??? Tanya ibunya lagi.
“Gini bu, setelah ande perhatikan. Kalau ande jalan sendiri akan lebih mudah
dapat tumpangan, terutama dari om rudi yang setiap pagi ngantar ibunya
kesekolah SD. Ibunyakan kepala sekolah dikampung kita, Jadi pas dia balik saya
dapat tumpangan gratis dech dari om rudi. Dan jalan sendiri juga memudahkan
ande nebeng ke orang-orang lain yang lewat pakai motor” sahut dande menjelaskan
kepada ibunya.
Setiap pulang sekolah, tanpa dikomando Dande akan menyelesaikan tugas mengamplas dari ayahnya. Ayahnya adalah seorang pengrajin kayu dan sofa, dimana hampir disetiap bulannya masuk pesanan perbaikan kursi dan sopa dan furniture lainnya. Selaku anak tertua, Ayahnya tidak ingin Dande tumbuh menjadi anak yang cengeng dan manja. Melalui tugas rutin mengamplas setiap pulang sekolah ini menjadi salah satu cara atau pola mendidik oleh ayahnya, walaupun hal ini tidak pernah disadari langsung oleh Dande.
Namun, apa yang
membuat Dande benar-benar istimewa adalah semangatnya yang luar biasa. Ia
selalu menghadapi pekerjaannya yang ditugaskan ayahnya dengan senyuman dan
tekad yang tak pernah pudar. Bahkan dalam situasi yang sulit atau pekerjaan
yang cenderung monoton ini, Dande selalu
berhasil menemukan cara untuk tetap bersemangat.
Setiap kali Dande mengamplas
kayu, ia seolah-olah merasa sedang menggambar lukisan di atas permukaan kayu itu.
Ia memahami bahwa meskipun hal yang dikerjakannya mungkin tidak mendapat
perhatian sebanyak pekerjaan lain, tetapi ia tetap memberikan segala yang
terbaik. Dande percaya bahwa bahkan didalam
hal-hal yang sederhana ini, dia dapat menemukan keindahan dan kepuasan.
Suatu hari,
seorang pelanggan datang menemui ayahnya Dande. Ia ingin memesan meja kayu
khusus dengan sentuhan yang halus dan indah. Seperti biasa Dande kemudian
diberi tugas oleh ayahnya untuk mengamplas kayu yang akan dirakit menjadi meja
sesuai pesanan pelanggan tersebut. Dan dengan antusias dande mulai mengerjakan
tugas dari ayahnya itu. Ia bekerja dengan penuh semangat, mengamplas kayu
dengan teliti dan penuh kasih sayang.
Selama proses
pengerjaan, Dande bercerita kepada pelanggan tentang bagaimana ia melihat
pekerjaannya sebagai sebuah seni dan bagaimana ia selalu mencoba menjaga
semangatnya tinggi. Pelanggan tersebut terkesan dengan semangat dan dedikasi Dande
,bahkan dalam pekerjaan yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain. Dande
juga menceritakan, “Saya harus menyelsaikan pekerjaan ini dengan sesegera
mungkin om, karena nanti jam setengah lima sore adalah jadwal latihan saya
bermain bola ”. Kata dande menjelaskan, walaupun hal ini sebernarnya tidak
ditanya oleh sipelanggan. “Jika kerjaan ini belum selesai, maka ayah tidak akan
mengijinkan saya bermain bola” tukasnya ditengah-tengah konsentrasinya
mengamplas bagian meja yang siap untuk di cat ini.
“Apakah kamu nggak
bosan nde, ngerjain yang kayak ginian setiap hari…???” Tanya sipelanggan sambil
mengisap dalam rokok tanpa filter itu. “Ooo…. Nggak lah om sambut dande, karena
kata ayah kita harus menyenangi dari setiap apa yang kita kerjakan agar kerjaan
tersebut menjadi ringan. truss kalau tugas yang dikasih ayah ni gak selesai,
saya kan jadinya gak bisa main bola om” kata dande kembali sambil tersenyum. Pelanggan
ini akhirnya semakin bertambah kekagumannya kepada dande tentang bagaimana anak
ini menjaga dan melaksanakan tanggungjawab dari ayahnya ini dengan sepenuh hati.
Dan akhirnya, pesanan
meja kayu ini selesai. Permukaannya terlihat begitu mulus dan indah, sebagai
hasil dari sentuhan tangan Dande yang penuh cinta. Pelanggan sangat puas, bukan
hanya dengan hasilnya namun juga plus bonus inspirasi dari cerita dan semangat Dande
selama menuntaskan pesanan ini tadi. Ia mengakui bahwa banyak belajar dari Dande,
ia juga akan membawa semangat dan tekad untuk menyelesaikan tanggungjawab yang
sama seperti dande ke dalam pekerjaannya.
“Terimakasih pak,
karena bapak telah mengajarkan sesuatu yang luar biasa kepada anaknya bapak,
dande”, kata sipelanggan sambil menyalamkan tiga lembar uang seratus ribuan
kepada ayahnya dande. “Ah Biasa ajja om, si dande memang kayak gitu. Pintar
kali kalau ngomong. Jangan diambil hati ya,” timpal ayahnya dande sambil
tersenyum dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya dan bingung kepada si
pelanggan. Karena uang yang diberikan berlebih dari kesepakatan harga awal.
“Tapi uangnya berlebih ni Om,” tanya ayah dande. Udah, gak papa pak. “Lebih
uangnya, Titip ke dande ya pak”, balasnya sambil melihat kesekitar workshop
furniture nya ayah dande. “Ok lah Kalau gitu, si dande pasti udah pergi ke
lapangan bola tuch om” Balas ayah dande sambil mengacungkan jempolnya kepada
sipelanggan.
Disadari atau
tidak, pengalaman Dande ini menginspirasi kita bahwa semangat adalah kunci
untuk menjadikan pekerjaan sederhana menjadi luar biasa. Ia adalah contoh nyata
bahwa ketika kita menjalani hidup dengan semangat dan penuh cinta, bahkan
tugas-tugas yang terlihat sepele pun dapat memiliki dampak besar yang luar
biasa. Begitu juga halnya dengan semangat akan sebuah tanggungjawab atas suatu
hal yang telah diamanahkan, karena hal ini akan menjadi bekal yang takkan
lekang oleh waktu dan tak pudar oleh zaman dikehidupan selanjutnya.