Dande , Sang Pengamplas Sore

19 Februari 2026 Dasril Sinuruik
Bagikan :

Judul:

Dande , Sang Pengamplas Sore

Di sebuah kampung kecil yang terletak di pinggiran kabupaten paling ujung timur sumatera, hiduplah seorang anak muda yang disetiap sorenya mengamplas  bernama Dande. Ia adalah seorang pria yang penuh semangat dan energi, berstatus sebagai anak sulung dari empat bersaudara serta sianak kesayangan ibu tentunya. Hampir disetiap hari, Dande  menghabiskan waktu sepulang sekolah bersama sang ayah di sebuah workshop furniture yang berada tepat bersebelahan di samping rumahnya, dengan perlengkapan alat pengamplas sebagai sahabat setia tentunya.


Dande  telah melakukan pekerjaan ini selama bertahun-tahun. Ia memiliki tangan yang cekatan dan mata yang teliti dalam mengamplas kayu itu. Meskipun pekerjaannya terlihat sederhana, namun Dande  melihatnya sebagai sebuah seni. Ia memiliki kemampuan untuk mengolah potongan kayu yang kasar pada bagian kursi dan lemari itu menjadi permukaan yang halus dan indah.

Dande merupakan seorang anak kampung yang sehari-hari braktifas sebagai pelajar sekolah menengah pertama. Layaknya pelajar yang lain, setiap dipagi hari dia menyiapkan perlengkapannya untuk belajar di sekolah. Dia sangat rajin dan bersemangat sekali untuk urusan terkait sekolah ini, hal tersebut dapat dilihat dari jarak rumahnya dande ke sekolah sejauh 2,5 km ditempuh dengan jalan kaki. Pagi  ini seperti biasa, sambil menyiapkan perlengkapan sekolah dande juga menyiapkan sarapannya sendiri, Nasi putih telor ceplok disertai bawang adalah favoritnya.

Ada hal yang unik disetiap perjalanannya menuju sekolah ini, dimana dande selalu memilih untuk berjalan sendiri. Dia tidak berjalan seiring dengan teman-teman sekolahnya yang lain. Bukan karena dia tidak punya teman atau dia tidak disenangi oleh yang lain. Hingga suatu ketika hal ini menjadi pertanyaan dari ibunya, “nde akhir-akhir ini ibu perhatikan kamu selalu pergi sekolah sendiri, kamu ada masalah ya sama teman-teman yang lain….? “ tanya ibunya dande dengan sedikit nada mencurigai. “Gak koq bu, saya gak da masalah sama kawan-kawan” balas ande sambil mengikat tsali sepatunya pagi itu. Trus kenapa…??? Tanya ibunya lagi. “Gini bu, setelah ande perhatikan. Kalau ande jalan sendiri akan lebih mudah dapat tumpangan, terutama dari om rudi yang setiap pagi ngantar ibunya kesekolah SD. Ibunyakan kepala sekolah dikampung kita, Jadi pas dia balik saya dapat tumpangan gratis dech dari om rudi. Dan jalan sendiri juga memudahkan ande nebeng ke orang-orang lain yang lewat pakai motor” sahut dande menjelaskan kepada ibunya.

Setiap pulang sekolah, tanpa dikomando Dande akan menyelesaikan tugas mengamplas dari ayahnya. Ayahnya adalah seorang pengrajin kayu dan sofa, dimana hampir disetiap bulannya masuk pesanan perbaikan kursi dan sopa dan furniture lainnya. Selaku anak tertua, Ayahnya tidak ingin Dande tumbuh menjadi anak yang cengeng dan manja. Melalui tugas rutin mengamplas setiap pulang sekolah ini menjadi salah satu cara atau pola mendidik oleh ayahnya, walaupun hal ini tidak pernah disadari langsung oleh Dande.


Namun, apa yang membuat Dande benar-benar istimewa adalah semangatnya yang luar biasa. Ia selalu menghadapi pekerjaannya yang ditugaskan ayahnya dengan senyuman dan tekad yang tak pernah pudar. Bahkan dalam situasi yang sulit atau pekerjaan yang cenderung monoton ini, Dande  selalu berhasil menemukan cara untuk tetap bersemangat.

Setiap kali Dande mengamplas kayu, ia seolah-olah merasa sedang menggambar lukisan di atas permukaan kayu itu. Ia memahami bahwa meskipun hal yang dikerjakannya mungkin tidak mendapat perhatian sebanyak pekerjaan lain, tetapi ia tetap memberikan segala yang terbaik. Dande  percaya bahwa bahkan didalam hal-hal yang sederhana ini, dia dapat menemukan keindahan dan kepuasan.

Suatu hari, seorang pelanggan datang menemui ayahnya Dande. Ia ingin memesan meja kayu khusus dengan sentuhan yang halus dan indah. Seperti biasa Dande kemudian diberi tugas oleh ayahnya untuk mengamplas kayu yang akan dirakit menjadi meja sesuai pesanan pelanggan tersebut. Dan dengan antusias dande mulai mengerjakan tugas dari ayahnya itu. Ia bekerja dengan penuh semangat, mengamplas kayu dengan teliti dan penuh kasih sayang.

Selama proses pengerjaan, Dande bercerita kepada pelanggan tentang bagaimana ia melihat pekerjaannya sebagai sebuah seni dan bagaimana ia selalu mencoba menjaga semangatnya tinggi. Pelanggan tersebut terkesan dengan semangat dan dedikasi Dande ,bahkan dalam pekerjaan yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain. Dande juga menceritakan, “Saya harus menyelsaikan pekerjaan ini dengan sesegera mungkin om, karena nanti jam setengah lima sore adalah jadwal latihan saya bermain bola ”. Kata dande menjelaskan, walaupun hal ini sebernarnya tidak ditanya oleh sipelanggan. “Jika kerjaan ini belum selesai, maka ayah tidak akan mengijinkan saya bermain bola” tukasnya ditengah-tengah konsentrasinya mengamplas bagian meja yang siap untuk di cat ini.

“Apakah kamu nggak bosan nde, ngerjain yang kayak ginian setiap hari…???” Tanya sipelanggan sambil mengisap dalam rokok tanpa filter itu. “Ooo…. Nggak lah om sambut dande, karena kata ayah kita harus menyenangi dari setiap apa yang kita kerjakan agar kerjaan tersebut menjadi ringan. truss kalau tugas yang dikasih ayah ni gak selesai, saya kan jadinya gak bisa main bola om” kata dande kembali sambil tersenyum. Pelanggan ini akhirnya semakin bertambah kekagumannya kepada dande tentang bagaimana anak ini menjaga dan melaksanakan tanggungjawab dari ayahnya ini dengan sepenuh hati. 

Dan akhirnya, pesanan meja kayu ini selesai. Permukaannya terlihat begitu mulus dan indah, sebagai hasil dari sentuhan tangan Dande yang penuh cinta. Pelanggan sangat puas, bukan hanya dengan hasilnya namun juga plus bonus inspirasi dari cerita dan semangat Dande selama menuntaskan pesanan ini tadi. Ia mengakui bahwa banyak belajar dari Dande, ia juga akan membawa semangat dan tekad untuk menyelesaikan tanggungjawab yang sama seperti dande ke dalam pekerjaannya.

“Terimakasih pak, karena bapak telah mengajarkan sesuatu yang luar biasa kepada anaknya bapak, dande”, kata sipelanggan sambil menyalamkan tiga lembar uang seratus ribuan kepada ayahnya dande. “Ah Biasa ajja om, si dande memang kayak gitu. Pintar kali kalau ngomong. Jangan diambil hati ya,” timpal ayahnya dande sambil tersenyum dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya dan bingung kepada si pelanggan. Karena uang yang diberikan berlebih dari kesepakatan harga awal. “Tapi uangnya berlebih ni Om,” tanya ayah dande. Udah, gak papa pak. “Lebih uangnya, Titip ke dande ya pak”, balasnya sambil melihat kesekitar workshop furniture nya ayah dande. “Ok lah Kalau gitu, si dande pasti udah pergi ke lapangan bola tuch om” Balas ayah dande sambil mengacungkan jempolnya kepada sipelanggan.

Disadari atau tidak, pengalaman Dande ini menginspirasi kita bahwa semangat adalah kunci untuk menjadikan pekerjaan sederhana menjadi luar biasa. Ia adalah contoh nyata bahwa ketika kita menjalani hidup dengan semangat dan penuh cinta, bahkan tugas-tugas yang terlihat sepele pun dapat memiliki dampak besar yang luar biasa. Begitu juga halnya dengan semangat akan sebuah tanggungjawab atas suatu hal yang telah diamanahkan, karena hal ini akan menjadi bekal yang takkan lekang oleh waktu dan tak pudar oleh zaman dikehidupan selanjutnya.