Dande Dan Durian (Edisi : Ditimpa Durian)
Di sebuah kampung yang damai bernama Bukaladi, Dande tumbuh sebagai anak yang patuh dan r Danden. Ia selalu setia membantu ayah dan ibunya dalam pekerjaan mereka di kebun kopi coklat dan di antara beberapa batang durian yang tumbuh subur. Kehidupan keluarganya sangat sederhana, dan mereka menggantungkan hidup dari hasil kebun mereka. Panen kopi adalah rutinitas harian yang tak pernah bisa dihindari, bahkan bagi Dande yang saat itu masih seorang pelajar SMA.
Namun, jadwal padat sebagai pelajar SMA menjadi
tantangan tersendiri bagi Dande. Ia
harus pandai-pandai mengatur waktu antara mengurus pekerjaan di kebun kopi,
latihan bersama band-nya, dan tugas mengajar ng Dande. Meskipun memiliki jadwal
yang padat, Dande menjalani semua itu dengan penuh semangat. Panen kopi yang
mereka lakukan di kampung itu adalah satu-satunya penghasilan yang diharapkan
setahun sekali oleh warga kampung.
Selain kopi, kampuang Bukaladi juga terkenal dengan duriannya. Di
musim durian, buah-buahan lezat itu melimpah, danDande bersama teman-temannya selalu
menikmati saat-saat itu. Selain rasa lezat yang mereka nikmati, mereka juga
mendapatkan uang dari penjualan durian.
Mereka memiliki cara unik untuk mendapatkan buah
durian ini. Mereka berjalan berkelompok dan mencari pohon-pohon durian yang
tidak diurus dan ditunggui oleh pemiliknya. Mereka menamai metode ini sebagai
"bapacu."Dande dan teman-temannya akan berdiri sejauh 50 meter dari
pohon durian yang buahnya telah masak, dan ketika buah durian jatuh masih
melayang dan belum menyentuh tanah, mereka akan berpacu berlari bersama
mengejar buah durian yang masih melayang tersebut. Siapa yang lincah dan cepat
larinya, biasanya dia lah yang akan mendapatkan durian tersebut.
Namun suatu hari, saat mereka sedang berebut durian,
kejadian tak terduga itu bermula. Dande dan temannya berada di bawah pohon
durian yang buahnya lumayan lebat. Seperti biasa dua sahabat ini berjalan
mengendap diantara semak di rumpun durian tersebut. Tiba-tiba Dande mendengar
durian lain jatuh dari pohon, dan tanpa pikir panjang, ia memeluk batang pohon
durian yang berada di atasnya. Ini adalah ilmu yang diajarkan oleh sesama
pencari durian yang lebih berpengalaman.
"Ji, nanti kalau lagi di bawah pohon durian
tiba-tiba durian jatuh, kamu jangan berlari ya, kamu langsung peluk batang
duriannya saja," inilah nasihat dari abang-abang senior sesame pencari durian
yang selalu diingat oleh Dande.
Namun, sahabatnya, Adi, tidak menghiraukan teriakan Dande. Dimana akhirnya buah durian yang jatuh
dari ketinggian sekitar 20 meter itu menimpa punggungnya si Adi. Disaat
bersamaan, Adi berkata, "Ji, jangan ambil ya. Duriannya buat saya." Imbuhnya
dengan wajah yang menahan sakit.
Dande terkejut
dan heran dengan kejadian itu. Dia tidak bisa percaya bahwa Adi, meskipun
tertimpa durian, masih sempat memikirkan buah durian yang jatuh. "Ya
sudah, duriannya ini untuk kamu, Adi. Kita pulang saja," kata Dande sambil
menyerahkan buah durian kepada Adi.
Saat mereka pulang, mereka singgah di rumah Robi,
seorang teman baik mereka. "Adi, kenapa kamu?" tanya Robi kepada Dande.
Dande
menjelaskan, "Adi tertimpa durian, Bro."
Robi terkejut dan bertanya pada Adi, "Serius, Di?
Mana yang kena, sini aku obati."
Tanpa mikir panjang, Adi membuka bajunya dan
memperlihatkan bekas luka di punggungnya yang disebabkan oleh duri durian. Dengan
sigapnya Robi segera mengambil dedaunan dibelakang rumah dan mengunyahnya
sejenak, lalu menempelkannya di punggung Adi.
Adi mengerang kesakitan, "Sakit, tolol!"
"Maaf, sakit ya. Tahan sebentar, nanti juga bakal
sembuh," timpal Robi dengan nada yang tidak bersalah.
“Tapi ngomong-ngomong, mana tuch durian yang nimpa lo
di…?” tanya robi sambil menyelidiki durian yang dibawa adi. Pas lihat durian
tersebut, robi ngomong “la…ni kan durian yang itu” sambil nunjuk pohon
duriannya, serentak Dande dan adi ngangguk dan nanya balik sama robi “emang
kenapa” tanya merekan berdua sambil terlihat heran. “tu kan duriannya gak bagus,
sering buah duriannya tu rasanya hambar, kurang manis” timpal robi.
“Duhhh, emang hari nich hari sial gua ya” balas adi.
“Udah jatuh, tertimpa tangga pula” timbal Dande di iringi gelak tawa ketiganya.