Dande dan Durian (edisi : Perangkap Babi)

19 Februari 2026 Dasril Sinuruik
Bagikan :

 

Dande dan Durian (edisi : Perangkap Babi)

Musim durian tahun itu benar-benar penuh cerita. Selain aroma buah yang semerbak di seluruh kampung, suasana juga ramai oleh aktivitas pengentasan hama babi yang semakin meresahkan warga. Sawah dan ladang sering rusak, tanaman porak-poranda. Karena itulah, beberapa orang dari daerah lain datang memasang perangkap di sekitar hutan dan kebun.




Di tengah suasana itulah, Dande tetap setia dengan kegemarannya mencari durian. Tubuhnya kecil, langkahnya ringan, dan wajahnya selalu ceria. Sore hari menjadi waktu favoritnya untuk berkeliling, memantau pohon-pohon durian yang belum ada penunggunya. Baginya, berjalan di antara pepohonan sambil berharap menemukan buah jatuh adalah hiburan tersendiri.

Sore itu, langit tampak sedikit mendung. Angin berhembus lembut, menggoyangkan daun-daun durian. Dande berjalan santai, sesekali menengadah, memperhatikan buah yang menggantung di atas kepalanya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: semoga malam nanti banyak durian jatuh.

Tanpa disadarinya, ia telah masuk ke area yang dipenuhi perangkap babi. Perangkap itu dipasang rapi dan tersembunyi di balik daun kering dan semak. Karena terlalu asyik berjalan, Dande sama sekali tidak memperhatikan jejak-jejak mencurigakan di tanah.

Tiba-tiba, “trakkk!” Kakinya terjepit kuat. Dalam hitungan detik, tubuh kecil Dande terangkat ke udara. Ia terpelanting dan tergantung di atas tanah, terikat oleh perangkap yang seharusnya mampu menahan babi seberat dua ratus kilogram. Posisi tubuhnya berayun-ayun, seperti buah durian yang belum jatuh.

Beberapa saat, Dande hanya terdiam. Jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu. Dunia terasa berputar, sementara satu kakinya menggantung tanpa menyentuh tanah. Jika orang lain berada di posisinya, mungkin sudah berteriak ketakutan. Namun tidak dengan Dande.

Dengan sisa tenaganya, ia mulai berusaha melepaskan diri. Tangannya mencengkeram tali, kakinya berontak, tubuhnya berputar perlahan. Keringat bercucuran, napasnya tersengal. Setelah berulang kali mencoba, akhirnya badanya yang kecil berhasil meraih ujung kayu pelontar perangkap. Sehingg mengakibatkan tali perangkap itu mulai mengendur, dengan pisau lipat otomatis dipinggangnya tali itu dipotong.

Dengan satu hentakan terakhir, “buk!” Dande jatuh ke tanah. Ia terduduk, terengah-engah, pakaiannya penuh tanah dan daun kering. Beberapa detik ia terdiam, memastikan dirinya benar-benar selamat. Lalu, tanpa diduga, ia tertawa kecil.

Tawanya semakin lama semakin lepas. Ia bangkit, menepuk-nepuk bajunya, sambil terus tersenyum. Sepanjang jalan pulang, Dande masih terkekeh, membayangkan dirinya tergantung seperti boneka di udara. Baginya, kejadian itu bukanlah musibah, melainkan cerita lucu yang patut dikenang.