Dande dan Durian (edisi : Perangkap Babi)
Musim durian tahun itu benar-benar penuh cerita. Selain aroma buah yang semerbak di seluruh kampung, suasana juga ramai oleh aktivitas pengentasan hama babi yang semakin meresahkan warga. Sawah dan ladang sering rusak, tanaman porak-poranda. Karena itulah, beberapa orang dari daerah lain datang memasang perangkap di sekitar hutan dan kebun.
Di
tengah suasana itulah, Dande tetap setia dengan kegemarannya mencari durian.
Tubuhnya kecil, langkahnya ringan, dan wajahnya selalu ceria. Sore hari menjadi
waktu favoritnya untuk berkeliling, memantau pohon-pohon durian yang belum ada
penunggunya. Baginya, berjalan di antara pepohonan sambil berharap menemukan
buah jatuh adalah hiburan tersendiri.
Sore
itu, langit tampak sedikit mendung. Angin berhembus lembut, menggoyangkan
daun-daun durian. Dande berjalan santai, sesekali menengadah, memperhatikan
buah yang menggantung di atas kepalanya. Pikirannya hanya tertuju pada satu
hal: semoga malam nanti banyak durian jatuh.
Tanpa
disadarinya, ia telah masuk ke area yang dipenuhi perangkap babi. Perangkap itu
dipasang rapi dan tersembunyi di balik daun kering dan semak. Karena terlalu
asyik berjalan, Dande sama sekali tidak memperhatikan jejak-jejak mencurigakan
di tanah.
Tiba-tiba,
“trakkk!” Kakinya terjepit kuat. Dalam hitungan detik, tubuh kecil Dande
terangkat ke udara. Ia terpelanting dan tergantung di atas tanah, terikat oleh
perangkap yang seharusnya mampu menahan babi seberat dua ratus kilogram. Posisi
tubuhnya berayun-ayun, seperti buah durian yang belum jatuh.
Beberapa
saat, Dande hanya terdiam. Jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu. Dunia
terasa berputar, sementara satu kakinya menggantung tanpa menyentuh tanah. Jika
orang lain berada di posisinya, mungkin sudah berteriak ketakutan. Namun tidak
dengan Dande.
Dengan
sisa tenaganya, ia mulai berusaha melepaskan diri. Tangannya mencengkeram tali,
kakinya berontak, tubuhnya berputar perlahan. Keringat bercucuran, napasnya
tersengal. Setelah berulang kali mencoba, akhirnya badanya yang kecil berhasil
meraih ujung kayu pelontar perangkap. Sehingg mengakibatkan tali perangkap itu
mulai mengendur, dengan pisau lipat otomatis dipinggangnya tali itu dipotong.
Dengan
satu hentakan terakhir, “buk!” Dande jatuh ke tanah. Ia terduduk,
terengah-engah, pakaiannya penuh tanah dan daun kering. Beberapa detik ia
terdiam, memastikan dirinya benar-benar selamat. Lalu, tanpa diduga, ia tertawa
kecil.
Tawanya
semakin lama semakin lepas. Ia bangkit, menepuk-nepuk bajunya, sambil terus
tersenyum. Sepanjang jalan pulang, Dande masih terkekeh, membayangkan dirinya
tergantung seperti boneka di udara. Baginya, kejadian itu bukanlah musibah,
melainkan cerita lucu yang patut dikenang.