Bajalan Paliharo Kaki, Mangecek Paliaro Lidah_Falsafah Kehati-hatian Dalam Hidup Orang Minangkabau

01 September 2025 dasrilsinuruik Gerak Budaya & Falsafah

Orang Minangkabau dikenal kaya dengan pepatah-petitih yang lahir dari pengalaman panjang hidup bermasyarakat. Pepatah tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan sastra lisan, tetapi juga mengandung nilai pendidikan dan bimbingan moral. Salah satu pepatah yang masih relevan hingga kini adalah “Bajalan paliharo kaki, mangecek paliaro lidah.” Pepatah ini menjadi pengingat agar setiap manusia senantiasa berhati-hati dalam melangkah dan menjaga ucapan agar tidak menimbulkan masalah maupun menyakiti orang lain.

Orang Minangkabau memiliki warisan kebijaksanaan yang tertuang dalam pepatah-petitih, hasil dari perjalanan panjang kehidupan yang sarat pengalaman. Pepatah bukan sekadar untaian kata indah, melainkan cermin nilai, nasihat, dan pedoman moral yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pepatah ini lahir dari cara pandang masyarakat Minangkabau yang menempatkan alam sebagai guru kehidupan, sebagaimana falsafah “alam takambang jadi guru.” Dari alam, manusia belajar bahwa langkah kaki yang salah bisa menyebabkan tersandung atau jatuh, begitu pula lidah yang tidak dijaga bisa menimbulkan luka pada hati orang lain. Sebagaimana sungai yang deras bisa mengikis tebing, ucapan yang tajam dapat meretakkan persaudaraan; sebaliknya, sebagaimana air yang jernih memberi kesejukan, kata yang bijak dapat menumbuhkan kedamaian.

 

Makna Harfiah dan Filosofis

Secara harfiah, pepatah ini berarti:

  • “Bajalan paliharo kaki” → ketika berjalan, jaga kaki agar tidak tersandung, terperosok, atau salah arah.
  • “Mangecek paliaro lidah” → ketika berbicara, jaga lidah agar tidak mengeluarkan kata-kata yang menyinggung atau menyakiti hati orang lain.

Jika ditarik ke dalam makna filosofis, pepatah ini mengandung ajaran tentang kehati-hatian dalam perbuatan dan kebijaksanaan dalam ucapan. Kaki melambangkan perbuatan atau langkah hidup, sementara lidah melambangkan ucapan atau komunikasi. Dengan kata lain, pepatah ini mengajarkan keseimbangan antara sikap, tindakan, dan tutur kata.

 

Relevansi dalam Kehidupan Sehari-hari

  1. Dalam Bertindak
    Kehati-hatian dalam melangkah mencerminkan prinsip hidup yang penuh pertimbangan. Setiap keputusan yang diambil sebaiknya dipikirkan dengan matang agar tidak membawa penyesalan. Misalnya, dalam dunia kerja, seseorang harus memperhitungkan konsekuensi dari setiap langkah yang diambil, baik dalam mengelola bisnis, menjalin relasi, maupun dalam mengembangkan karier.
  2. Dalam Berbicara
    Kata-kata memiliki kekuatan besar, bahkan sering kali lebih menyakitkan daripada luka fisik. Pepatah ini mengingatkan bahwa ucapan harus dijaga, baik dalam percakapan sehari-hari maupun dalam forum resmi. Dalam masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi adat dan sopan santun, ucapan yang santun adalah kunci terciptanya keharmonisan.
  3. Dalam Kehidupan Bermasyarakat
    Masyarakat Minangkabau hidup dengan falsafah “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.” Kehidupan sosialnya dibangun atas dasar nilai agama dan adat yang saling menguatkan. Dengan menjaga langkah dan ucapan, hubungan antarsesama akan tetap harmonis, konflik dapat dihindari, dan rasa saling menghargai dapat dipelihara.
  4. Dalam Era Digital
    Pepatah ini juga sangat relevan di era media sosial. “Lidah” kini tidak hanya berbicara lewat ucapan, tetapi juga melalui jari-jemari yang menulis komentar, status, atau unggahan. Kesalahan dalam menulis bisa menimbulkan salah paham, bahkan konflik yang meluas. Maka, menjaga etika digital adalah bentuk baru dari “mangecek paliaro lidah.”

Nilai-Nilai yang Terkandung

Pepatah “Bajalan paliharo kaki, mangecek paliaro lidah” memuat sejumlah nilai luhur yang dapat dijadikan pedoman hidup:

  1. Kehati-hatian → agar setiap langkah membawa manfaat, bukan mudarat.
  2. Kebijaksanaan → agar setiap ucapan membawa kebaikan, bukan luka.
  3. Kesantunan → agar tercipta keharmonisan dalam pergaulan.
  4. Tanggung Jawab → agar setiap tindakan dan kata tidak merugikan orang lain.
  5. Pengendalian diri → agar manusia tidak bertindak dan berbicara secara gegabah

Dengan menghayati falsafah ini, manusia tidak hanya menjaga keselamatan dirinya, tetapi juga menebarkan ketenangan bagi orang lain. Setiap langkah yang hati-hati adalah upaya untuk tidak menjerumuskan diri, dan setiap kata yang terjaga adalah wujud kasih sayang agar tidak melukai sesama. Pepatah ini menjadi cahaya penuntun, mengingatkan bahwa harmoni hidup bukanlah hasil dari kekuatan semata, melainkan dari kebijaksanaan dalam melangkah dan kelembutan dalam berbicara. Selama kaki tetap terarah pada jalan yang benar dan lidah terikat pada kebenaran yang santun, kehidupan akan senantiasa dipenuhi kedamaian dan keberkahan.(DS)