
MENGENAL KOPUAK SITANGGUANG LAPA di NAGARI SINURUIK
Tradisi leluhur tentang ketahanan dan kedaulatan pangan di masa lalu
Oleh: Roland Mangkuto Sutan
GerakBudaya_Jika kita berkunjung ke Rumah Usang yang merupakan istana
raja di Nagari Sinuruik, maka di halaman istana itu kita akan menemukan sebuah
bangunan kayu kokoh yang bernama "Kopuak Sitangguang Lapa".
Nagari
Sinuruik terletak di Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera
Barat. Bangunan di wilayah ini menjadi saksi bisu sejarah dan menyimpan
kekayaan budaya yang sangat unik, berbeda dengan yang ada di wilayah
Minangkabau lainnya. Jika di hampir seluruh tanah Minang lumbung pangan dikenal
dengan sebutan Rangkiang, maka di sini nama yang digunakan adalah Kopuak.
Mengapa terdapat perbedaan ini? Jawabannya terungkap dari jejak pertemuan dua peradaban besar, yang ternyata juga menyimpan solusi cerdas untuk tantangan kemanusiaan masa kini.
Akulturasi Budaya_Asal-usul Nama
Kopuak
Perbedaan nama ini bukan sekadar
variasi bahasa, melainkan bukti sejarah pertemuan dan penyatuan dua kearifan
besar, yaitu budaya Minangkabau dan Mandahiling. Nama "Kopuak"
bermula dari kata "Opuk", sebutan untuk lumbung pangan dalam adat
Mandahiling. Seiring berjalannya waktu dan terjadinya percampuran budaya yang
harmonis di wilayah perbatasan ini, bunyi kata tersebut mengalami penyesuaian
menjadi Kopuak sebagaimana kita kenal sekarang.
Proses perubahan dan pengakuan nama ini terjadi secara resmi di bawah pemerintahan para pemimpin bijaksana, mulai dari Tuanku Nan Panjang hingga diteruskan oleh Tuanku Nan Sati. Hal ini semakin diperkuat oleh fakta sejarah bahwa para pemangku adat yang menjadi pendiri dan pengelola tata kehidupan di Sinuruik sebagian besar berasal dari wilayah adat Mandahiling, seperti Pakantan, Muaro Sipongi, Cubadak Duo Koto, hingga Simpang Tonang.
Baca Juga : Dialektika Sebab Dan Akibat_Bakarano Bakajadian Dalam Alam Takambang Jadi Guru
Meskipun budaya Minangkabau sangat
mendominasi kehidupan masyarakat sehari-hari di Pasaman Barat ini, pengaruh
adat Mandahiling tetap terasa kuat dan nyata hingga kini. Hal ini tidak hanya
terlihat pada sebutan bangunan, tetapi juga tercatat jelas dalam sistem
kelembagaan adatnya.
Di Sinuruik terdapat gelar-gelar
pemangku adat yang khas dan hampir tidak ditemukan di tempat lain di
Minangkabau, yaitu yang berawalan kata "Jo", seperti:
Secara etimologi kata kita dapat
menyimpulkan, ini merupakan perubahan bunyi dari kata "Ja" yang lazim
digunakan di Mandahiling, seperti terlihat pada gelar Ja Dolok atau Ja
Gadumbang.
Sistem "Ameh Manah"_Fondasi
Keadilan Ekonomi Masa Lalu
Dalam tata pemerintahan masa
kerajaan sebelum berdirinya Negara Republik Indonesia, para Raja menerapkan
sistem pungutan yang bernilai luhur yang disebut "Ameh Manah". Secara
harfiah, istilah ini berarti Harta yang
merupakan Amanah.
Pungutan ini sama sekali bukan untuk
kekayaan pribadi penguasa, melainkan bentuk kepercayaan dari rakyat yang dikelola
oleh pemimpin dengan penuh tanggung jawab. Hasil pengumpulan dari "Ameh
Manah" inilah yang menjadi modal awal pengisian Kopuak Sitangguang Lapa.
Isinya disimpan rapi dan hanya akan dikeluarkan serta dibagikan kembali kepada
masyarakat apabila terjadi musim lapa atau masa paceklik. Ini adalah contoh
pemerintahan yang sangat adil dan bijaksana di masa silam.
Kerapuhan Sistem Modern dan Ancaman
Krisis Pangan Global
Beranjak dari sejarah menuju masa
kini, dunia sedang dihadapkan pada kenyataan pahit yang sangat mengkhawatirkan:
krisis pangan global. Data dari berbagai lembaga internasional mencatat bahwa
lebih dari 363 juta orang di berbagai belahan bumi saat ini berada dalam
kondisi rawan pangan parah, dengan angka yang terus bertambah setiap tahunnya.
Kondisi ini dipicu oleh gabungan
berbagai masalah besar yang saling berkaitan:
Sistem pangan modern yang kita bangun selama ini ternyata memiliki kelemahan fatal. Dimana ia terlalu bergantung pada perdagangan jarak jauh dan rantai pasok yang panjang. Akibatnya, sistem menjadi sangat rapuh dan mudah terguncang ketika terjadi gangguan di satu titik saja. Banyak negara besar dan organisasi dunia kini sedang sibuk mencari strategi pertahanan pangan baru, namun jawaban tersebut ternyata sudah ada dan tersimpan rapi di kearifan budaya kita sendiri.

Kopuak Sitangguang Lapa sebagai
Solusi Ketahanan Pangan Lokal
Di tengah kepanikan dunia mencari
jalan keluar, warisan leluhur Sinuruik justru menawarkan solusi budaya yang
paling nyata, efektif, dan telah teruji keampuhannya selama berabad-abad.
Konsep yang tertanam dalam Kopuak Sitangguang Lapa dan sistem pengelolaannya
adalah jawaban tepat atas kerapuhan sistem pangan modern saat ini.
Konsep Cadangan Bersama ini, dimana Pangan tidak hanya disimpan di rumah masing-masing secara individu, melainkan memiliki persediaan milik bersama di tingkat komunitas atau nagari. Ketika pasokan dari luar terputus atau gagal panen terjadi secara meluas, masyarakat sudah memiliki persediaan sendiri yang aman dan andal.
Baca Juga : Harmoni Dalam Perbedaan_Sebuah Pelajaran Dari Alam Takambang Jadi Guru
Nilai luhur lainnya adalah prinsip
amanah dan keadilan, di mana kekayaan yang dikelola oleh pemimpin adalah
titipan rakyat. Isi Kopuak hanya boleh digunakan untuk kepentingan keselamatan
bersama dan dibagikan secara adil tanpa membeda-bedakan status sosial, sehingga
menjamin tidak ada satu pun warga yang terabaikan atau dibiarkan kelaparan.
Dahulu, sistem ini diperkuat dengan
kedaulatan pangan lokal, di mana setiap kampung atau jorong di Sinuruik
diwajibkan memiliki Kopuak sendiri. Artinya, ketahanan pangan dibangun dari
tingkatan paling bawah dan terdekat, membuat seluruh nagari menjadi kuat,
mandiri, dan tidak mudah tergantung pada pasar yang tidak menentu.
Gerakan Revitalisasi 2026_Menghidupkan
Kembali Kearifan Lokal
Menyadari besarnya makna ini,
Yayasan Terus Bergerak mengangkat gerakan pembangunan tahun 2026 dengan tema: "Menghidupkan
Kembali Kopuak Sitangguang Lapa_Dari Istana ke Setiap Kampung, Menjamin
Ketahanan Pangan Sinuruik".
Gerakan ini bertujuan untuk:
Warisan Masa Lalu untuk Keselamatan
Masa Depan
Kopuak Sitangguang Lapa di halaman
Rumah Usang, Nagari Sinuruik, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat,
adalah identitas asli dan mahkota budaya yang membanggakan. Keberadaannya
menjawab pertanyaan mengapa disebut Kopuak dan bukan Rangkiang, sekaligus
menjadi bukti nyata pertemuan dua peradaban besar yang saling melengkapi.
Di tengah kenyataan pahit bahwa jutaan manusia di dunia kini menderita kelaparan akibat perang, cuaca buruk, dan ketergantungan pada sistem yang tidak stabil, ternyata untuk selamat dari krisis pangan dunia kita tidak perlu belajar dari asing karena leluhur kita sudah punya solusi cerdas.
Baca Juga : “Minyak Abih, Samba Tak Lamak”
Perubahan frasa dari Opuk menjadi
Kopuak, adanya sistem Ameh Manah, serta keunikan gelar adat Jo, adalah simbol
nyata bahwa di tanah ini, pertemuan budaya dan pemerintahan yang bijak
melahirkan kekuatan baru yang unik. Membangun kembali fungsi Kopuak bukan
sekadar merawat bangunan kayu, melainkan membangun kembali rasa percaya, rasa
peduli, dan tanggung jawab kolektif dalam menjamin ketersediaan pangan.
Sebagaimana pesan yang ditinggalkan oleh para leluhur: Di tanah ini, tidak
boleh ada yang kelaparan, karena kita saling menanggung dan saling menjamin
melalui amanah yang kita bangun bersama.(RMS)