MENGENAL KOPUAK SITANGGUANG LAPA Di NAGARI SINURUIK

Last Update 31 Mei 2026 dasrilsinuruik Gerak Budaya & Falsafah


MENGENAL KOPUAK SITANGGUANG LAPA di NAGARI SINURUIK

Tradisi leluhur tentang ketahanan dan kedaulatan pangan di masa lalu

Oleh: Roland Mangkuto Sutan


GerakBudaya_Jika kita berkunjung ke Rumah Usang yang merupakan istana raja di Nagari Sinuruik, maka di halaman istana itu kita akan menemukan sebuah bangunan kayu kokoh yang bernama "Kopuak Sitangguang Lapa".

Nagari Sinuruik terletak di Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Bangunan di wilayah ini menjadi saksi bisu sejarah dan menyimpan kekayaan budaya yang sangat unik, berbeda dengan yang ada di wilayah Minangkabau lainnya. Jika di hampir seluruh tanah Minang lumbung pangan dikenal dengan sebutan Rangkiang, maka di sini nama yang digunakan adalah Kopuak.

Mengapa terdapat perbedaan ini? Jawabannya terungkap dari jejak pertemuan dua peradaban besar, yang ternyata juga menyimpan solusi cerdas untuk tantangan kemanusiaan masa kini. 

Akulturasi Budaya_Asal-usul Nama Kopuak

Perbedaan nama ini bukan sekadar variasi bahasa, melainkan bukti sejarah pertemuan dan penyatuan dua kearifan besar, yaitu budaya Minangkabau dan Mandahiling. Nama "Kopuak" bermula dari kata "Opuk", sebutan untuk lumbung pangan dalam adat Mandahiling. Seiring berjalannya waktu dan terjadinya percampuran budaya yang harmonis di wilayah perbatasan ini, bunyi kata tersebut mengalami penyesuaian menjadi Kopuak sebagaimana kita kenal sekarang.

Proses perubahan dan pengakuan nama ini terjadi secara resmi di bawah pemerintahan para pemimpin bijaksana, mulai dari Tuanku Nan Panjang hingga diteruskan oleh Tuanku Nan Sati. Hal ini semakin diperkuat oleh fakta sejarah bahwa para pemangku adat yang menjadi pendiri dan pengelola tata kehidupan di Sinuruik sebagian besar berasal dari wilayah adat Mandahiling, seperti Pakantan, Muaro Sipongi, Cubadak Duo Koto, hingga Simpang Tonang.

Baca Juga : Dialektika Sebab Dan Akibat_Bakarano Bakajadian Dalam Alam Takambang Jadi Guru

Meskipun budaya Minangkabau sangat mendominasi kehidupan masyarakat sehari-hari di Pasaman Barat ini, pengaruh adat Mandahiling tetap terasa kuat dan nyata hingga kini. Hal ini tidak hanya terlihat pada sebutan bangunan, tetapi juga tercatat jelas dalam sistem kelembagaan adatnya.

Di Sinuruik terdapat gelar-gelar pemangku adat yang khas dan hampir tidak ditemukan di tempat lain di Minangkabau, yaitu yang berawalan kata "Jo", seperti:

  • Jo Gumanti
  • Jo Mau
  • Jo Upa
  • Jo Gadiang
  • Jo Bujang

Secara etimologi kata kita dapat menyimpulkan, ini merupakan perubahan bunyi dari kata "Ja" yang lazim digunakan di Mandahiling, seperti terlihat pada gelar Ja Dolok atau Ja Gadumbang.

Sistem "Ameh Manah"_Fondasi Keadilan Ekonomi Masa Lalu

Dalam tata pemerintahan masa kerajaan sebelum berdirinya Negara Republik Indonesia, para Raja menerapkan sistem pungutan yang bernilai luhur yang disebut "Ameh Manah". Secara harfiah, istilah ini berarti Harta yang merupakan Amanah.

Pungutan ini sama sekali bukan untuk kekayaan pribadi penguasa, melainkan bentuk kepercayaan dari rakyat yang dikelola oleh pemimpin dengan penuh tanggung jawab. Hasil pengumpulan dari "Ameh Manah" inilah yang menjadi modal awal pengisian Kopuak Sitangguang Lapa. Isinya disimpan rapi dan hanya akan dikeluarkan serta dibagikan kembali kepada masyarakat apabila terjadi musim lapa atau masa paceklik. Ini adalah contoh pemerintahan yang sangat adil dan bijaksana di masa silam.

Kerapuhan Sistem Modern dan Ancaman Krisis Pangan Global

Beranjak dari sejarah menuju masa kini, dunia sedang dihadapkan pada kenyataan pahit yang sangat mengkhawatirkan: krisis pangan global. Data dari berbagai lembaga internasional mencatat bahwa lebih dari 363 juta orang di berbagai belahan bumi saat ini berada dalam kondisi rawan pangan parah, dengan angka yang terus bertambah setiap tahunnya.

Kondisi ini dipicu oleh gabungan berbagai masalah besar yang saling berkaitan:

  • Konflik dan Peperangan: Memutus jalur distribusi pangan global.
  • Perubahan Iklim: Menyebabkan cuaca ekstrem yang merusak hasil pertanian.
  • Ekonomi: Lonjakan harga pupuk dan bahan pokok yang membuat akses pangan menjadi mahal.

Sistem pangan modern yang kita bangun selama ini ternyata memiliki kelemahan fatal. Dimana ia terlalu bergantung pada perdagangan jarak jauh dan rantai pasok yang panjang. Akibatnya, sistem menjadi sangat rapuh dan mudah terguncang ketika terjadi gangguan di satu titik saja. Banyak negara besar dan organisasi dunia kini sedang sibuk mencari strategi pertahanan pangan baru, namun jawaban tersebut ternyata sudah ada dan tersimpan rapi di kearifan budaya kita sendiri.


Kopuak Sitangguang Lapa sebagai Solusi Ketahanan Pangan Lokal

Di tengah kepanikan dunia mencari jalan keluar, warisan leluhur Sinuruik justru menawarkan solusi budaya yang paling nyata, efektif, dan telah teruji keampuhannya selama berabad-abad. Konsep yang tertanam dalam Kopuak Sitangguang Lapa dan sistem pengelolaannya adalah jawaban tepat atas kerapuhan sistem pangan modern saat ini.

Konsep Cadangan Bersama ini, dimana Pangan tidak hanya disimpan di rumah masing-masing secara individu, melainkan memiliki persediaan milik bersama di tingkat komunitas atau nagari. Ketika pasokan dari luar terputus atau gagal panen terjadi secara meluas, masyarakat sudah memiliki persediaan sendiri yang aman dan andal.

Baca Juga : Harmoni Dalam Perbedaan_Sebuah Pelajaran Dari Alam Takambang Jadi Guru

Nilai luhur lainnya adalah prinsip amanah dan keadilan, di mana kekayaan yang dikelola oleh pemimpin adalah titipan rakyat. Isi Kopuak hanya boleh digunakan untuk kepentingan keselamatan bersama dan dibagikan secara adil tanpa membeda-bedakan status sosial, sehingga menjamin tidak ada satu pun warga yang terabaikan atau dibiarkan kelaparan.

Dahulu, sistem ini diperkuat dengan kedaulatan pangan lokal, di mana setiap kampung atau jorong di Sinuruik diwajibkan memiliki Kopuak sendiri. Artinya, ketahanan pangan dibangun dari tingkatan paling bawah dan terdekat, membuat seluruh nagari menjadi kuat, mandiri, dan tidak mudah tergantung pada pasar yang tidak menentu.

Gerakan Revitalisasi 2026_Menghidupkan Kembali Kearifan Lokal

Menyadari besarnya makna ini, Yayasan Terus Bergerak mengangkat gerakan pembangunan tahun 2026 dengan tema: "Menghidupkan Kembali Kopuak Sitangguang Lapa_Dari Istana ke Setiap Kampung, Menjamin Ketahanan Pangan Sinuruik".

Gerakan ini bertujuan untuk:

  1. Menjadikan Kopuak di Rumah Usang sebagai monumen hidup.
  2. Membangun kembali fungsi serupa di setiap wilayah agar kearifan ini tetap hidup dan bermanfaat bagi generasi mendatang.

Warisan Masa Lalu untuk Keselamatan Masa Depan

Kopuak Sitangguang Lapa di halaman Rumah Usang, Nagari Sinuruik, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, adalah identitas asli dan mahkota budaya yang membanggakan. Keberadaannya menjawab pertanyaan mengapa disebut Kopuak dan bukan Rangkiang, sekaligus menjadi bukti nyata pertemuan dua peradaban besar yang saling melengkapi.

Di tengah kenyataan pahit bahwa jutaan manusia di dunia kini menderita kelaparan akibat perang, cuaca buruk, dan ketergantungan pada sistem yang tidak stabil, ternyata untuk selamat dari krisis pangan dunia kita tidak perlu belajar dari asing karena leluhur kita sudah punya solusi cerdas.

Baca Juga : “Minyak Abih, Samba Tak Lamak”

Perubahan frasa dari Opuk menjadi Kopuak, adanya sistem Ameh Manah, serta keunikan gelar adat Jo, adalah simbol nyata bahwa di tanah ini, pertemuan budaya dan pemerintahan yang bijak melahirkan kekuatan baru yang unik. Membangun kembali fungsi Kopuak bukan sekadar merawat bangunan kayu, melainkan membangun kembali rasa percaya, rasa peduli, dan tanggung jawab kolektif dalam menjamin ketersediaan pangan. Sebagaimana pesan yang ditinggalkan oleh para leluhur: Di tanah ini, tidak boleh ada yang kelaparan, karena kita saling menanggung dan saling menjamin melalui amanah yang kita bangun bersama.(RMS)