
GerakTokoh_Bagi anak-anak di Desa Baru pada masa itu, berangkat ke sekolah adalah sebuah perjuangan yang dimulai sejak melangkah keluar dari rumah. Aku dan teman-teman berjalan kaki setiap hari tanpa alas kaki. Bukan karena tidak memiliki sepatu, tetapi karena sepatu adalah barang yang harus dijaga sebaik mungkin. Aku memiliki sepasang sepatu karet berladam yang biasa disebut masyarakat sebagai sepatu tukang deres. Namun, sepatu itu tidak kupakai sejak berangkat dari rumah. Sepanjang perjalanan, sepatu hanya kutenteng di tangan. Baru ketika sampai di pagar sekolah, sepatu itu kupakai agar tidak cepat rusak. Begitulah cara kami menghargai barang yang dibeli dengan susah payah oleh orang tua.
Musim hujan pun tidak menjadi alasan untuk tidak bersekolah. Kami tidak memiliki payung. Jika hujan turun di tengah perjalanan, daun pisang atau daun keladi menjadi pelindung seadanya. Sesampainya di sekolah, baju sering kali sudah basah kuyup dan tubuh terasa menggigil kedinginan. Namun, kami tetap masuk ke kelas, duduk di bangku kayu, mendengarkan guru mengajar, dan belajar seperti biasa. Keterbatasan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti menuntut ilmu.
Baca Juga : Biografi Dr.Ir. SUKARLI, SPt.,M.Si.IPU (Bagian 1 : Akar Dari Tanah)
Perjalanan pendidikanku dimulai di SD Desa Baru. Dari kelas satu hingga kelas tiga, aku dibimbing oleh seorang guru yang sangat berjasa dalam hidupku, Buk Zaimah. Beliau mengajar dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Aku termasuk anak yang lambat belajar membaca. Huruf demi huruf beliau ajarkan tanpa pernah menunjukkan rasa jenuh. Dengan ketelatenannya, perlahan aku mampu mengenal kata, membaca kalimat, dan akhirnya menikmati dunia ilmu pengetahuan. Dari seorang anak yang tertatih-tatih mengeja huruf, aku tumbuh menjadi juara kelas, bahkan beberapa kali menjadi juara umum sekolah.
Saat naik ke kelas empat, wali kelasku adalah Bapak Usman Ya'kub. Sosoknya tinggi, gagah, dan sangat berwibawa. Beliau dikenal sebagai guru yang disiplin. Aku pernah merasakan langsung ketegasannya ketika ribut di dalam kelas. Sebagai hukuman, aku diminta berdiri dengan satu kaki di depan kelas. Saat itu tentu terasa berat dan melelahkan. Namun, tidak sedikit pun tumbuh rasa benci kepada beliau. Justru hukuman itu menjadi pelajaran tentang kedisiplinan dan tanggung jawab. Lagi pula, pada masa itu tidak ada anak yang berani mengadu kepada orang tua karena dimarahi guru. Jika kami mengadu, orang tua bukan membela, melainkan menambah hukuman. Bagi mereka, guru selalu benar dan harus dihormati.
Sebuah peristiwa pada tahun 1983 menjadi titik balik yang tidak pernah kulupakan. Saat itu sore hari. Aku yang masih duduk di kelas empat SD sedang belajar bersama abangku, Suryanto, yang telah duduk di kelas enam. Kami sedang membaca pelajaran sejarah tentang perjuangan Tentara Pelajar dalam merebut Bumiayu, Jawa Tengah. Tiba-tiba Bapak pulang dari hutan setelah seharian menggergaji kayu untuk bahan membangun rumah. Tubuhnya dipenuhi debu dan serbuk gergaji. Beliau memanggil kami berdua.
"Sur... Karli... ke sini sebentar."
Dengan suara yang tenang namun penuh makna, beliau berkata,
"Bapak tidak punya banyak uang, juga tidak punya pertanian yang luas. Sur sebentar lagi tamat SD dan harus melanjutkan sekolah ke SMP di Silaping. Jaraknya dua belas kilometer dan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Bapak hanya sanggup membiayai kalian berdua untuk sekolah. Adik-adikmu nanti menjadi tanggung jawab kalian. Belajarlah sungguh-sungguh, jangan sia-siakan kesempatan ini."
Kalimat itu begitu sederhana, tetapi menancap dalam hatiku. Saat usiaku baru sebelas tahun, aku mulai memahami bahwa sekolah bukan sekadar untuk mengubah nasibku sendiri. Pendidikan adalah amanah. Jika aku berhasil, maka aku harus menjadi jalan bagi adik-adikku untuk memperoleh kesempatan yang sama.
Baca Juga : Dari Sinuruik Untuk Indonesia, Sariamin Selasih Selaguri Mendunia
Setelah lulus SD, aku dan Bang Suryanto melanjutkan pendidikan ke SMP di Silaping. Setiap awal pekan kami berjalan kaki menempuh perjalanan sekitar dua belas kilometer dari kampung menuju tempat tinggal kami. Rumah yang kami sewa hanyalah sebuah bangunan kayu sederhana berukuran sekitar dua kali tiga meter. Lantainya papan, tanpa tikar, tanpa lemari, bahkan tanpa bantal. Di ruangan sempit itu kami tinggal berempat: aku, Bang Suryanto, serta dua orang paman dari pihak ibu. Biaya sewanya hanya seribu rupiah setiap bulan, tetapi bagi kami, rumah kecil itu adalah tempat menggantungkan harapan.
Di rumah sederhana itulah perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Kami memasak sendiri menggunakan tungku batu dan kayu bakar. Beras dibawa dari kampung, sedangkan lauk bergantung pada apa yang mampu kami dapatkan. Sering kali kami hanya makan nasi liwet ditemani kelapa parut yang dicampur cabai serta sedikit ikan asin bakar. Makanan itu mungkin jauh dari kata mewah, tetapi cukup untuk mengisi tenaga agar tetap bisa belajar.
Setiap hari Kamis, saat Pasar Silaping berlangsung, kami memiliki kebiasaan yang tidak pernah terlupakan. Kami sengaja datang menjelang pasar tutup. Bukan untuk berbelanja seperti orang lain, melainkan menunggu para pedagang ikan membersihkan dagangannya. Kepala-kepala ikan yang hampir dibuang kami kumpulkan, lalu kami bawa pulang untuk dimasak bersama daun singkong atau pisang kepok. Bahkan makanan sederhana itu pun harus dihemat. Ada aturan yang kami buat sendiri: kepala ikan tidak boleh dimakan sebelum hari Sabtu, agar menjadi lauk istimewa sepulang sekolah sebelum kami kembali berjalan kaki menuju kampung.
Meski hidup dalam serba kekurangan, aku tidak pernah membiarkan keadaan mengalahkan semangat belajar. Justru setiap kesulitan menjadi pengingat bahwa aku tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan kedua orang tuaku. Selama tiga tahun di SMP, aku berhasil mempertahankan prestasi sebagai juara umum.
Baca Juga : Sariamin Ismail, Sastra Dan Pendidikan Perempuan - Oleh Wanda Rahmad Putra
Setelah menamatkan SMP, aku melanjutkan pendidikan ke SMA di Simpang Empat, sekitar enam puluh kilometer dari kampung halaman. Perjuangan belum berakhir. Tahun pertama di SMA masih dipenuhi keterbatasan. Aku tinggal di sebuah rumah kayu sederhana yang berada di dekat huller padi. Setiap hari aku berjalan kaki sekitar tiga kilometer menuju sekolah. Kami tetap memasak sendiri dengan menu yang sangat sederhana. Dalam satu rumah tinggal berlima yakni aku, Bang Suryanto, Paman Sunardi, Sumarsono, dan Sukoco.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup, Bang Suryanto bekerja sambilan di sebuah rumah makan. Ia bekerja siang dan malam. Setiap pagi, pemilik rumah makan memberinya upah berupa sebungkus nasi goreng. Nasi goreng itulah yang kami bagi bertiga untuk sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Rasanya mungkin biasa saja, tetapi bagi kami, setiap suap mengandung semangat untuk terus bertahan dan mengejar cita-cita.
Sekali lagi, kerja keras itu membuahkan hasil. Di tengah segala keterbatasan, aku kembali meraih prestasi sebagai juara umum. Prestasi tersebut kemudian mengantarkanku memperoleh beasiswa dari Proyek Pelita Jakarta melalui Proyek Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 8 Bandung. Sebuah kesempatan yang menjadi pintu pembuka perjalanan hidup yang jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan ketika pertama kali berjalan tanpa alas kaki menuju sekolah di Desa Baru.(DS)