
Tahun 1956 menjadi awal dari babak baru sejarah Desa Baru. Melalui program bedol desa, sejumlah keluarga dari Campur Darat, Kecamatan Pakel, Kawedanan Tulungagung, berangkat menuju tanah yang sama sekali asing bagi mereka. Mereka meninggalkan sanak saudara, tanah kelahiran, dan kenyamanan yang telah mereka kenal demi sebuah kesempatan untuk memperbaiki kehidupan. Bekal yang mereka bawa bukanlah harta benda yang melimpah, melainkan cangkul, benih-benih tanaman, semangat pantang menyerah, serta keyakinan bahwa setiap tetes keringat yang jatuh di tanah rantau akan menjadi pondasi bagi masa depan anak cucu mereka. Dengan tangan yang kasar karena bekerja dan tekad yang tak mudah goyah, mereka membuka hutan, membangun rumah-rumah sederhana, mengolah lahan pertanian, dan perlahan mengubah belantara menjadi sebuah desa yang hidup, tumbuh, dan penuh harapan.
Di tengah kerasnya kehidupan di tanah transmigrasi itulah, pada tahun 1972, lahirlah seorang anak laki-laki dari pasangan petani sederhana, Sumarjo bin Lanidi dan Yatini binti Setu. Bayi itu diberi nama Sukarli, anak kedua dari enam bersaudara. Kehadirannya menjadi anugerah sekaligus tanggung jawab baru bagi kedua orang tuanya yang setiap hari menggantungkan hidup dari hasil bercocok tanam. Di tengah keterbatasan yang melingkupi keluarga, tidak ada pesta penyambutan yang mewah ataupun kemewahan yang menyertai masa kecilnya. Yang ada hanyalah kasih sayang orang tua, doa yang tak pernah putus dipanjatkan, dan harapan agar setiap anak mereka kelak memiliki kehidupan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.
Rumah yang menjadi saksi tumbuh kembang Sukarli hanyalah sebuah bangunan kayu sederhana berukuran enam kali enam meter. Dindingnya terbuat dari papan, lantainya masih sederhana, dan atapnya melindungi enam jiwa yang hidup dengan penuh kebersamaan. Di rumah kecil itulah mereka berteduh dari panas dan hujan, berbagi ruang untuk beristirahat, belajar, bercanda, dan menumbuhkan mimpi-mimpi yang mungkin terdengar terlalu besar bagi sebuah keluarga petani. Meski sempit secara ukuran, rumah itu dipenuhi kehangatan, kerja keras, dan nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan oleh kedua orang tua. Dari rumah sederhana itulah Sukarli belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari luasnya tempat tinggal, melainkan dari besarnya cinta, pengorbanan, dan harapan yang tumbuh di dalamnya.
Tahun 1982 hingga 1984 menjadi salah satu masa yang paling berat dalam perjalanan hidup keluarga Sumarjo. Saat itu Sukarli dan kakaknya masih duduk di bangku sekolah dasar, sementara adik-adiknya masih membutuhkan perhatian dan biaya untuk tumbuh. Sebagai keluarga petani, penghasilan sangat bergantung pada musim dan hasil panen. Ketika panen tidak berpihak atau harga hasil pertanian merosot, dapur pun ikut merasakan dampaknya. Beras menjadi barang yang sulit dijangkau sehingga jarang tersaji di meja makan. Sebagai gantinya, ubi kayu yang dibeli dari petani tetangga menjadi makanan pokok sehari-hari. Meski sederhana, ubi kayu itulah yang mengisi tenaga untuk bekerja di ladang dan mengantar anak-anak melangkah ke sekolah setiap pagi.
Jika makanan pokok mereka adalah ubi kayu, maka lauk yang hampir tak pernah absen adalah sayur kedele. Dengan kreativitas dan ketelatenan seorang ibu, Yatini mengolah kedele menjadi berbagai masakan sederhana. Kadang dimasak bersama daun ubi kayu yang dipetik dari kebun, kadang dicampur pisang muda, dan di hari lain dipadukan dengan daun labu yang tumbuh di sekitar rumah. Variasinya boleh berganti, tetapi bahan utamanya tetap sama: kedele. Bagi keluarga Sumarjo, kedele bukan sekadar lauk, melainkan simbol ketabahan menghadapi kehidupan. Di meja makan yang sederhana itulah mereka belajar menerima keadaan tanpa mengeluh, saling menguatkan dalam keterbatasan, dan meyakini bahwa setiap kesulitan akan berlalu selama keluarga tetap bersatu. Kedele menjadi saksi bisu perjalanan sebuah keluarga yang tidak pernah kehilangan tawa, meski hidup kerap menyuguhkan getir yang harus mereka telan bersama.
Di antara sekian banyak kenangan masa kecilnya, ada satu kisah yang hingga kini tetap melekat kuat dalam ingatan Sukarli. Di belakang rumah sederhana mereka, beberapa ekor itik dipelihara oleh ayah dan ibunya. Setiap pagi, anak-anak dapat melihat telur-telur segar yang baru saja dihasilkan. Bagi anak-anak seusianya, telur tentu menjadi makanan yang sangat menggugah selera. Namun, sejak kecil mereka telah memahami sebuah aturan yang tidak pernah boleh dilanggar: tidak seorang pun boleh mengambil, apalagi memakan telur-telur itu. Ayah dan ibu mereka selalu berpesan bahwa telur bukanlah untuk dinikmati, melainkan untuk disimpan. Dengan penuh kesabaran, setiap butir telur dikumpulkan hari demi hari hingga jumlahnya cukup untuk dibawa ke pasar.
Sesampainya di pasar, telur-telur itu dijual atau ditukar dengan kebutuhan yang lebih mendesak, seperti jengkol, ikan asin, timun, atau keperluan rumah tangga lainnya. Bahkan tidak jarang hasil penjualan telur digunakan untuk membeli buku tulis, pensil, seragam sekolah, atau membayar kebutuhan pendidikan anak-anak. Bagi keluarga Sumarjo, telur bukan sekadar hasil ternak, melainkan tabungan yang menyimpan harapan. Setiap butirnya adalah simbol pengorbanan kedua orang tua yang rela menahan keinginan sederhana agar anak-anak mereka tetap dapat belajar dan mengejar cita-cita. Baru ketika dewasa, Sukarli benar-benar memahami bahwa telur-telur yang tak pernah sempat ia nikmati pada masa kecil sesungguhnya telah menjelma menjadi bekal yang mengantarkannya menuju masa depan. Dari sanalah ia belajar bahwa kasih sayang orang tua sering kali tidak hadir dalam bentuk kemewahan, melainkan dalam pengorbanan-pengorbanan kecil yang dilakukan setiap hari tanpa pernah meminta balasan.
Dari rumah kayu berukuran enam kali enam meter itulah, Sumarjo dan Yatini menanamkan sebuah keyakinan yang tak pernah berubah kepada anak-anak mereka: pendidikan adalah jalan untuk mengubah kehidupan. Mereka mungkin tidak pernah mengenyam bangku sekolah tinggi, tetapi mereka memahami bahwa ilmu pengetahuan adalah bekal yang tidak dapat dicuri oleh siapa pun. Karena itulah, di tengah segala keterbatasan, mereka selalu memastikan anak-anaknya tetap berangkat ke sekolah. Bagi mereka, sekolah bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung, melainkan jembatan menuju masa depan yang lebih baik daripada kehidupan yang sedang mereka jalani.
Keyakinan itu dibayar dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Sumarjo dan Yatini rela menahan lapar, bekerja lebih keras di ladang, serta mengumpulkan dan menjual telur demi telur agar biaya pendidikan anak-anak tetap terpenuhi. Mereka sadar bahwa setiap lembar buku tulis, setiap seragam, dan setiap langkah anak menuju sekolah adalah hasil dari perjuangan yang panjang. Mereka tidak ingin anak-anaknya selamanya bergantung pada kerasnya kehidupan sebagai petani yang hidup dalam ketidakpastian musim dan hasil panen. Mereka bermimpi agar anak-anak mereka kelak mampu berdiri di atas kaki sendiri, memiliki pilihan hidup yang lebih luas, dan menapaki jalan yang mungkin tak pernah sempat mereka tempuh. Dari kedua orang tuanya itulah Sukarli belajar bahwa pendidikan bukanlah sekadar hak, melainkan sebuah perjuangan yang harus diperjuangkan dengan kerja keras, pengorbanan, dan doa yang tidak pernah putus.
Di tanah keras Desa Baru itulah akar kehidupan Sukarli mulai menghunjam. Akar yang tumbuh bukan dari kemewahan, melainkan dari peluh kedua orang tuanya yang setiap hari bergelut dengan tanah dan musim. Setiap jengkal perjalanan hidupnya ditempa oleh keterbatasan yang perlahan berubah menjadi kekuatan. Rumah kayu yang sempit, ubi kayu sebagai makanan pokok, sayur kedele yang hampir tak pernah absen di meja makan, hingga telur-telur itik yang lebih berharga untuk dijual daripada disantap, semuanya menjadi bagian dari sekolah kehidupan yang tidak pernah mengajarkan kata menyerah.