
GerakDesa_Nagari Sinuruik, Kecamatan Talamau,
kembali menjadi laboratorium lapangan bagi para akademisi dari Universitas
Andalas (Unand). Selama tiga hari ke depan, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Nopri Asman bersama Prof. Gusti Asnan, Prof. Ferdinal, Prof. Oktavianus, serta dua orang
mahasiswi Program Magister akan melaksanakan penelitian mengenai ketahanan masyarakat menghadapi bencana
berbasis kearifan lokal.
Kunjungan ini merupakan yang ketiga kalinya dilakukan oleh tim
peneliti di Nagari Sinuruik. Hal tersebut menunjukkan keseriusan para akademisi
dalam menggali pengetahuan lokal masyarakat sebagai bagian dari upaya
memperkuat mitigasi dan pengurangan risiko bencana di Sumatera Barat.
Kedatangan rombongan peneliti
disambut hangat oleh Pemerintah Nagari Sinuruik. Dalam pertemuan yang
berlangsung di Kantor Wali Nagari Sinuruik, berbagai gagasan dan harapan
terkait hasil penelitian turut dibahas sebagai bentuk kolaborasi antara
peneliti dan pemerintah nagari dalam membangun masyarakat yang tangguh
menghadapi bencana.
Wali Nagari Sinuruik, Frianton menyampaikan apresiasinya
atas kehadiran para akademisi dari Universitas Andalas dan tentunya merupakan
sebuah kehormatan sekaligus peluang bagi pemerintah nagari untuk memperoleh
masukan ilmiah dalam memperkuat kebijakan mitigasi bencana di masa yang akan
datang.
"Kita tentunya sangat senang
dengan kehadiran para profesor Universitas Andalas ini di Nagari Sinuruik.
Semoga penelitian yang dilakukan dapat memberikan dampak positif berupa
masukan-masukan kepada Pemerintah Nagari Sinuruik dalam menghadapi berbagai
potensi bencana di nagari kita tercinta ini," ujar Frianton, Wali Nagari Sinuruik yang dikenal dengan penampilannya
yang khas berambut gondrong ini.
Ia menambahkan bahwa penelitian semacam ini sangat penting karena mampu menghubungkan pengalaman masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun dengan pendekatan ilmiah. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang aplikatif untuk memperkuat ketahanan masyarakat di masa mendatang.

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti, Dr. Nopri Asman, menjelaskan bahwa
penelitian tidak hanya berfokus pada aspek kebencanaan semata, tetapi juga
menggali kekuatan masyarakat yang telah terbentuk sejak lama melalui sejarah,
budaya, adat, serta kehidupan sosial masyarakat.
"Kita akan melihat dan menggali
bagaimana ketahanan masyarakat dari nilai-nilai historis, kemampuan adaptasi
masyarakat, serta ketahanan sosialnya. Masyarakat kita sesungguhnya telah
memiliki pengetahuan dan kearifan-kearifan lokal yang masih relevan hingga saat
ini dalam menghadapi berbagai ancaman bencana," jelas Dr. Nopri Asman.
Menurutnya, masyarakat Minangkabau
khususnya di Nagari Sinuruik, tentunya pasti memiliki warisan pengetahuan lokal yang lahir
dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan alam. Nilai-nilai tersebut
menjadi modal sosial yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang
tangguh terhadap berbagai ancaman bencana.
Sementara itu, Prof. Oktavianus menegaskan bahwa
penelitian ini memiliki arti strategis mengingat Sumatera Barat merupakan salah
satu wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi.
"Sumatera Barat secara umum,
dan Nagari Sinuruik secara khusus, merupakan daerah yang rawan terhadap
berbagai jenis bencana. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab moral para
peneliti untuk menghadirkan kajian-kajian ilmiah yang mampu memberikan
kontribusi nyata dalam meminimalisir risiko bencana. Harapannya, apabila
bencana kembali terjadi di masa mendatang, dampak dan risikonya dapat ditekan
semaksimal mungkin," ungkap
Prof. Oktavianus.
Selama berada di Nagari Sinuruik,
tim peneliti akan melakukan berbagai kegiatan. Mulai dari observasi lapangan, hingga
wawancara dengan tokoh adat, pemerintah nagari, kelompok masyarakat, dan
berbagai pihak yang selama ini berperan dalam menjaga ketahanan sosial
masyarakat.
Data yang diperoleh nantinya akan dianalisis untuk merumuskan model ketahanan masyarakat berbasis kearifan lokal yang tidak hanya bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pengurangan risiko bencana yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Nagari Sinuruik sendiri dikenal
memiliki sejarah panjang dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Semangat gotong royong, musyawarah, kepedulian sosial, serta berbagai nilai
adat yang masih hidup di tengah masyarakat menjadi fondasi penting dalam
membangun ketahanan menghadapi berbagai tantangan, termasuk bencana alam.
Melalui penelitian ini, berbagai praktik baik yang selama ini diwariskan secara turun-temurun diharapkan dapat terdokumentasi secara ilmiah dan menjadi referensi dalam mengembangkan strategi mitigasi bencana yang berakar pada budaya lokal. Kehadiran tim peneliti di nagari paling ujung timur pasaman barat ini memberi gambaran bahwa pengetahuan akademik dan kearifan lokal dapat saling melengkapi untuk mewujudkan masyarakat yang lebih tangguh, adaptif, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana di masa yang akan datang.(DS)