
GerakPemerintahan_Pasaman Barat kembali diguncang isu yang menyesakkan dada. Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang kian sulit, muncul kabar pengadaan mobil dinas baru untuk tiga pimpinan DPRD. Keputusan ini sontak menimbulkan gelombang kritik, sebab publik menilai langkah tersebut sangat kontras dengan realitas rakyat yang sedang berjuang keras sekadar untuk bertahan hidup.
Fakta bahwa keuangan daerah masih
dalam kondisi defisit seolah tak lagi berarti. Petani masih mengeluh dengan
hasil panen yang murah, nelayan menjerit karena biaya melaut yang semakin
tinggi, sementara para buruh sang pejuang keluarga terus bertarung agar dapur
tetap mengepul. Pada saat rakyat bertahan dalam kesulitan, para wakil rakyat
justru memanjakan diri dengan fasilitas baru. Di sinilah letak ironi, empati
yang seharusnya tumbuh dari ruang wakil rakyat justru terasa kian mati.
Memori masyarakat pun belum kering
dari luka akibat sikap sebagian anggota DPR RI ditingkat pusat yang menuai
kecaman publik, hingga gelombang demonstrasi pecah diberbagai tempat. Kini,
luka itu semakin ditorehkan di tingkat daerah. Wajar jika hari ini pertanyaan
mendasar itu mengemuka, masihkah DPRD
Pasaman Barat benar-benar memahami masyarakat yang telah memilihnya? Atau
justru semakin jauh?
Masyarakat Pasaman Barat berharap
DPRD mampu menjadi teladan dalam pengelolaan anggaran publik. Transparansi,
keterbukaan informasi dan yang lebih utama adalah pertimbangan moral seharusnya
menjadi pijakan sebelum mengambil keputusan strategis. Rakyat
menilai, para pimpinan DPRD gagal membaca situasi, gagal merasakan penderitaan
masyarakat dan gagal menunjukkan keteladanan moral yang seharusnya melekat pada
institusi perwakilan rakyat.
Keputusan ini pada akhirnya bukan sekadar
soal kendaraan dinas, melainkan soal kepercayaan. DPRD sedang mempertaruhkan
kredibilitasnya di mata publik. Bila empati terus hilang dan sensitivitas kian
mati, jarak antara rakyat dan wakilnya akan semakin lebar. Dengan itu
semua, DPRD hanya akan dipandang sebagai lembaga yang sibuk mengurus kenyamanan
internal ketimbang memperjuangkan kesejahteraan masyarakat konstituennya.
Isu mobil dinas ini bukan hanya sekadar
sebatas polemik fasilitas saja. Ia adalah cermin, yang memperlihatkan seberapa
jauh jarak antara janji politik dan kenyataan, antara rakyat yang diwakili
dengan wakil yang duduk di kursi empuk kekuasaan. Pertanyaannya kini, beranikah
Pimpinan DPRD Pasaman Barat menghentikan bentuk arogansi ini dan memulihkan
empati atau justru membiarkan sejarah mencatat mereka sebagai wakil yang abai
di saat rakyatnya sedang menderita?(DS)